Beni rela tinggal di kos murah yang super panas dan bising di Seturan demi bisa ngirit dan lolos dari ancaman DO kampus yang sudah mengintai.
***
Menyandang gelar sarjana di usia 26 tahun jelas bukan hal yang bisa dibanggakan bagi sebagian orang. Namun, bagi Beni (28), kelulusannya adalah sebuah keajaiban. Mengingat, ia nyaris ditendang dari kampusnya di Jogja karena hampir menyentuh batas drop out (DO).
Kini, setelah resmi wisuda dan mulai bekerja, pria asal Kediri ini sering senyum-senyum sendiri kalau kebetulan lewat daerah Seturan. Di kawasan padat itu, ada sebuah kamar kos sempit seharga Rp300 ribu yang jadi saksi bisu betapa mengenaskannya masa-masa ia menyusun skripsi.
“Itu kosan penolong banget sih. Biarpun panasnya ngalahin oven,” kisah Beni, Selasa (28/6/2026) lalu.
Nyaris DO dan uang kiriman orang tua berhenti
Cerita bermula saat Beni menginjak semester 14 pada 2024 lalu. Karena tak kunjung lulus, jatah bulanan dari orang tuanya di Kediri resmi disetop.
Hukuman ini memaksanya harus putar otak untuk bertahan hidup. Ia pun terpaksa bekerja paruh waktu menjaga kasir shift malam di sebuah minimarket demi bisa makan dan membayar sewa tempat tinggal.
Masalahnya, kos lamanya yang nyaman terlalu mahal untuk ukuran kantong mahasiswa tua yang kerja serabutan. Ia pun harus rela turun kasta dan mencari kos paling murah.
“Dulu pernah ngekos di daerah Papringan. Enak sih, cuman harga 800 ribu itu bagiku yang kere dan kudu nyari duit sendiri ya kemahalan,” ujarnya.
Memilih kos tanpa ventilasi, sepanas oven
Pilihannya lantas jatuh pada sebuah kamar kos di dalam gang padat di Seturan. Harganya sangat ramah di kantong, cuma Rp250 ribu per bulan.
Namun, ada harga ada rupa. Kondisinya ia akui jauh dari kata layak.
Kamar itu ukurannya cuma 2×3 meter dan tidak memiliki jendela sama sekali. Ventilasi satu-satunya hanyalah celah nako kecil di atas pintu. Sirkulasi udaranya nyaris nol.
“Siang hari itu, panasnya minta ampun. Udah kayak di-oven. Makanya kalau lagi nggak kerja dan cuman di kos, rasanya mending keluar kemana gitu.”
Kalau malam bising dengan suara musik di kafe sebelah
Namun, penderitaan Beni yang sebenarnya baru dimulai saat matahari terbenam. Kosan Beni ini letaknya persis menempel dengan tembok belakang sebuah kafe hits di Seturan. Kafe tersebut rutin memutar musik live, volumenya sangat kencang.
Setiap malam, setelah pulang kerja part-time, Beni harus duduk berjam-jam di depan laptop untuk mengejar target bab skripsinya agar tidak di-DO.
Bayangkan situasinya: badannya lengket karena keringat terus menetes di dalam kamar pengap, sementara telinganya tiada henti dihajar suara dentuman bass dari kafe sebelah yang tembus ke tembok kamarnya.
“Kaca di atas pintu kosku itu sampai getar tiap malam kalau kafenya lagi setel lagu kenceng. Asli, rasanya pengen nangis tapi nggak keluar air mata,” kenang Beni sambil tertawa lepas.
Tapi kos murah (dan nggak layak) ini menjadi saksi perjuangan
Di tengah siksaan kamar oven dan bisingnya suara musik itu, kewarasan Beni tertolong oleh sosok Aa’ penjaga warung burjo di depan gang kosnya.
Aa’ Burjo ini seolah paham betul kondisi Beni sebagai mahasiswa tua yang sedang kepepet. Saat akhir bulan dan uang hasil kerja paruh waktunya belum cair, warung inilah yang menjadi penyambung nyawanya.
“Aa’ Burjo itu baiknya luar biasa. Aku sering banget ngutang makan di sana. Kalau pesen nasi telor, nasinya sering dilebihin, porsinya dibikin kuli,” ujar Beni.
Kebaikan kecil dari Aa’ Burjo, termasuk utang yang boleh dibayar belakangan itu sukses membuat perut Beni tetap kenyang. Hal sederhana ini sangat ampuh menjaga mood Beni agar tidak menyerah di tengah jalan.
Rutinitas gila itu, mulai dari bekerja, mengetik skripsi, dan makan kasbon di burjo, dijalani Beni berbulan-bulan. Hingga akhirnya, kerja kerasnya terbayar lunas. Beni berhasil maju sidang, merevisi naskahnya, dan sah menjadi sarjana sebelum surat peringatan DO dari kampus benar-benar turun.
Kini, masa-masa penuh keringat di kos Rp300 ribu itu hanya tinggal kenangan lucu bagi Beni. Ia tidak berusaha meromantisasi kesusahannya, apalagi menganggapnya sebagai pengalaman hidup yang keren.
“Kalau disuruh ngulang nggak mau lah. Tapi ya, kosan itu bukti nyata manusia kalau udah kepepet keadaan, bertahan di tempat kayak gimana pun dijabanin,” tutupnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














