Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Juli 2026
A A
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Ilustrasi - Siasat mahasiswa untuk bertahan hidup di perantauan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beni rela tinggal di kos murah yang super panas dan bising di Seturan demi bisa ngirit dan lolos dari ancaman DO kampus yang sudah mengintai.

***

Iklan

Menyandang gelar sarjana di usia 26 tahun jelas bukan hal yang bisa dibanggakan bagi sebagian orang. Namun, bagi Beni (28), kelulusannya adalah sebuah keajaiban. Mengingat, ia nyaris ditendang dari kampusnya di Jogja karena hampir menyentuh batas drop out (DO).

Kini, setelah resmi wisuda dan mulai bekerja, pria asal Kediri ini sering senyum-senyum sendiri kalau kebetulan lewat daerah Seturan. Di kawasan padat itu, ada sebuah kamar kos sempit seharga Rp300 ribu yang jadi saksi bisu betapa mengenaskannya masa-masa ia menyusun skripsi.

“Itu kosan penolong banget sih. Biarpun panasnya ngalahin oven,” kisah Beni, Selasa (28/6/2026) lalu.

Nyaris DO dan uang kiriman orang tua berhenti

Cerita bermula saat Beni menginjak semester 14 pada 2024 lalu. Karena tak kunjung lulus, jatah bulanan dari orang tuanya di Kediri resmi disetop. 

Hukuman ini memaksanya harus putar otak untuk bertahan hidup. Ia pun terpaksa bekerja paruh waktu menjaga kasir shift malam di sebuah minimarket demi bisa makan dan membayar sewa tempat tinggal.

Masalahnya, kos lamanya yang nyaman terlalu mahal untuk ukuran kantong mahasiswa tua yang kerja serabutan. Ia pun harus rela turun kasta dan mencari kos paling murah.

“Dulu pernah ngekos di daerah Papringan. Enak sih, cuman harga 800 ribu itu bagiku yang kere dan kudu nyari duit sendiri ya kemahalan,” ujarnya.

Memilih kos tanpa ventilasi, sepanas oven

Pilihannya lantas jatuh pada sebuah kamar kos di dalam gang padat di Seturan. Harganya sangat ramah di kantong, cuma Rp250 ribu per bulan. 

Namun, ada harga ada rupa. Kondisinya ia akui jauh dari kata layak. 

Kamar itu ukurannya cuma 2×3 meter dan tidak memiliki jendela sama sekali. Ventilasi satu-satunya hanyalah celah nako kecil di atas pintu. Sirkulasi udaranya nyaris nol.

“Siang hari itu, panasnya minta ampun. Udah kayak di-oven. Makanya kalau lagi nggak kerja dan cuman di kos, rasanya mending keluar kemana gitu.”

Kalau malam bising dengan suara musik di kafe sebelah

Namun, penderitaan Beni yang sebenarnya baru dimulai saat matahari terbenam. Kosan Beni ini letaknya persis menempel dengan tembok belakang sebuah kafe hits di Seturan. Kafe tersebut rutin memutar musik live, volumenya sangat kencang.

Iklan

Setiap malam, setelah pulang kerja part-time, Beni harus duduk berjam-jam di depan laptop untuk mengejar target bab skripsinya agar tidak di-DO. 

Bayangkan situasinya: badannya lengket karena keringat terus menetes di dalam kamar pengap, sementara telinganya tiada henti dihajar suara dentuman bass dari kafe sebelah yang tembus ke tembok kamarnya.

“Kaca di atas pintu kosku itu sampai getar tiap malam kalau kafenya lagi setel lagu kenceng. Asli, rasanya pengen nangis tapi nggak keluar air mata,” kenang Beni sambil tertawa lepas.

Tapi kos murah (dan nggak layak) ini menjadi saksi perjuangan

Di tengah siksaan kamar oven dan bisingnya suara musik itu, kewarasan Beni tertolong oleh sosok Aa’ penjaga warung burjo di depan gang kosnya.

Aa’ Burjo ini seolah paham betul kondisi Beni sebagai mahasiswa tua yang sedang kepepet. Saat akhir bulan dan uang hasil kerja paruh waktunya belum cair, warung inilah yang menjadi penyambung nyawanya.

“Aa’ Burjo itu baiknya luar biasa. Aku sering banget ngutang makan di sana. Kalau pesen nasi telor, nasinya sering dilebihin, porsinya dibikin kuli,” ujar Beni.

Kebaikan kecil dari Aa’ Burjo, termasuk utang yang boleh dibayar belakangan itu sukses membuat perut Beni tetap kenyang. Hal sederhana ini sangat ampuh menjaga mood Beni agar tidak menyerah di tengah jalan.

Rutinitas gila itu, mulai dari bekerja, mengetik skripsi, dan makan kasbon di burjo, dijalani Beni berbulan-bulan. Hingga akhirnya, kerja kerasnya terbayar lunas. Beni berhasil maju sidang, merevisi naskahnya, dan sah menjadi sarjana sebelum surat peringatan DO dari kampus benar-benar turun.

Kini, masa-masa penuh keringat di kos Rp300 ribu itu hanya tinggal kenangan lucu bagi Beni. Ia tidak berusaha meromantisasi kesusahannya, apalagi menganggapnya sebagai pengalaman hidup yang keren.

“Kalau disuruh ngulang nggak mau lah. Tapi ya, kosan itu bukti nyata manusia kalau udah kepepet keadaan, bertahan di tempat kayak gimana pun dijabanin,” tutupnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2026 oleh

Tags: Ancaman DO kampusBiaya hidup mahasiswa JogjaJogjaKisah mahasiswa Jogjakoskos jogjakos murah jogjaKos murah SeturanMahasiswa Jogjamahasiswa tuaPerjuangan lulus kuliahseturanskripsi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa MOJOK.CO

Di Antara Teriakan Maling dan Sunyinya Nurani: Seorang Anak Menangisi Bapaknya yang Tewas Dikeroyok Massa

27 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.