Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Ortu Rela Melepas Anaknya Kuliah Mengejar Mimpi, tapi Dihantui Rasa Takut Salah Pergaulan di Perantauan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
31 Juli 2026
A A
Pesan Menohok dari Ibu: Saat Doa Menjadi Satu-satunya Kuliah, Permintaan dan Jangan Sampai Tiang Itu Roboh di Perantauan MOJOK.CO

Ilustrasi Merantau untuk Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Keputusan melepas anak merantau demi bangku kuliah kerap menyisakan kecemasan batin bagi orang tua yang takut pergaulan anaknya memburuk di kota besar. Di sisi lain, perantauan juga bisa membawa penyesalan mendalam karena terlalu sibuk mengejar ambisi hingga kehilangan waktu berharga bersama keluarga yang menanti di rumah.

***

Riuh bahagia di halaman Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) siang itu menular ke siapa saja. Ratusan mahasiswa memakai toga, sibuk tersenyum dan berfoto dengan keluarga. Di tengah keramaian itu, saya yang sedang menunggu kawan wisuda, tak sengaja mengobrol dengan seorang bapak paruh baya yang duduk sendirian di bawah pohon.

Namanya Radi. Pria ini datang jauh-jauh dari Palembang demi menghadiri wisuda anak perempuan satu-satunya.

Bukannya membicarakan berapa banyak uang yang sudah ia keluarkan, obrolan kami justru mengalir ke arah yang menyesakkan dada. Radi mengenang kembali masa-masa berat saat pertama kali harus melepas putrinya merantau ke Jogja empat tahun silam.

“Bohong kalau orang tua bilang ikhlas-ikhlas saja anaknya pergi jauh dari rumah,” buka Radi sambil tersenyum tipis.

Bagi Radi, putrinya itu sangat lengket dengan ayah dan ibunya. Sejak kecil hingga lulus SMA, ia tidak pernah jauh dari rumah. Keputusan sang anak untuk nekat kuliah di Jogja bagaikan pukulan bagi Radi.

Ketakutan ortu, merantau bikin anak “rusak”

Yang membuat Radi sampai tak bisa tidur berhari-hari saat itu bukanlah urusan biaya kuliah.Ia sadar hidupnya pas-pasan, tapi untuk urusan pendidikan anak, uang selalu bisa diusahakan. 

Ketakutan terbesarnya justru datang dari omongan teman-teman sesama pekerja di Palembang.

Setiap hari, telinganya dijejali cerita miring soal anak rantau yang pergaulannya “rusak” di kota besar. Teman-temannya sering menakut-nakutinya dengan berita soal mahasiswa yang salah pergaulan, lupa ibadah, hingga uang kuliah yang habis dipakai main.

“Uang itu bisa dicari, Mas. Tapi kalau anak sampai berubah jadi nggak karuan di sana, hancur perasaan orang tua. Ketakutan itu yang bikin saya berat banget ngelepas anak saya berangkat,” katanya.

Bagi anak pun juga berat meninggalkan rumah buat kuliah

Mendengar curhatan Radi, saya cuma bisa mengangguk pelan. Ada semacam rasa bersalah yang tiba-tiba menyusup di dada. Perkataan Radi seketika memvalidasi apa yang saya rasakan sendiri pada 2017 lalu.

Saat itu, saya harus meninggalkan kampung halaman untuk berkuliah di Jogja. Rasanya sangat berat, terutama saat berpamitan dengan kedua simbah yang sudah berusia senja. 

Saya tahu persis, di balik senyum mereka, ada kecemasan dan sepi yang akan mereka tanggung setiap malam. Orang tua merelakan hari-harinya diliputi rasa waswas, sekadar agar anaknya bisa meraih nasib yang lebih baik.

Iklan

Kecemasan Radi soal jarak, waktu, dan perubahan di perantauan itu juga mengingatkan saya pada kawan lama saya, Hendra (28).

Hendra adalah potret nyata tentang betapa mahalnya harga sebuah ambisi anak rantau. Ia berasal dari keluarga miskin di Bangka dan berhasil kuliah di Jogja berkat beasiswa Bidikmisi tahun 2016. Berbekal modal nekat, ia meninggalkan keluarganya demi gelar sarjana.

Tahun pertama dan kedua kuliah, Hendra terpaksa menelan mentah-mentah rasa rindu. Ia tidak bisa pulang saat Lebaran karena harga tiket pesawat Jogja-Bangka terlalu mahal untuk kantongnya. Ia memilih bertahan di kos sepi saat teman-temannya asyik mudik.

Penyesalan terbesar wisuda tanpa sang ayah yang sudah meninggal

Di tahun ketiga, Hendra sebenarnya mendapat rezeki dan punya cukup uang untuk membeli tiket. Namun, ambisi membutakannya. Ia memilih tidak pulang dan memusatkan fokusnya hanya untuk kuliah. 

Ia sengaja mengabaikan keluarganya di desa dengan pemikiran: “Nanti saja pulangnya, nunggu sukses dan bawa ijazah.”

Keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Hanya seminggu sebelum hari wisudanya tiba, ayahnya meninggal dunia di kampung.

Saat hari perayaan wisuda itu datang, hanya ibunya yang hadir ke Jogja. Hendra menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya. Ijazah yang ia kejar mati-matian rupanya tidak pernah bisa menebus waktu yang ia buang begitu saja bersama ayahnya.

Melepas anak kuliah ke luar kota memang pertaruhan besar

Lamunan saya tentang kisah Hendra buyar saat seorang mahasiswi berkebaya dan bertoga berlari kecil menghampiri Radi. 

Wajah Radi yang tadinya tegang mendadak berubah cerah. Ia langsung berdiri dan memeluk anak perempuannya itu erat-erat.

Ketakutan Radi empat tahun lalu terbukti salah. Anaknya tidak “rusak” seperti cerita-cerita horor teman kerjanya. Putrinya pulang membawa gelar sarjana dengan senyum yang masih sama seperti saat ia berangkat dulu.

Melihat pemandangan itu, saya sadar satu hal. Mengirim anak merantau ke kota besar adalah pertaruhan yang luar biasa besar bagi orang tua. 

Mereka menukarkan ketenangan batinnya dengan kecemasan panjang. Mereka rela menahan rindu, berbohong pura-pura tegar, hanya demi melihat sang anak memakai toga kebanggaan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2026 oleh

Tags: anak rantauCerita wisuda UNYKisah mahasiswa rantaukuliahKuliah di jogjamerantaumerantau kuliahOrang tua melepas anak kuliahPengorbanan orang tua
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Andromeda dan bajaj. MOJOK.CO
Sekolahan

Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat

24 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Penggagalan perdagangan ilegal burung di Tanjung Perak Surabaya. Satwa dilindungi dimasukkan boks sampai ada yang mati MOJOK.CO

Penggagalan Perdagangan Ilegal Burung di Tanjung Perak Surabaya, Satwa Dilindungi Dimasukkan Boks sampai Ada yang Mati

30 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.