Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Januari 2026
A A
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Transportasi umum di Jakarta–baik TransJakarta dan KRL–terbilang rawan bagi penumpang-penumpang perempuan. Para perempuan bisa menjadi sasaran pelecehan dari oknum laki-laki tak bertanggung jawab. 

Seperti yang baru-baru ini viral dan diberitakan banyak media. Seorang warganet mengunggah video momen dua laki-laku melakukan mastrubasi di dalam TransJakarta. Parahnya, sampai keluar cairan yang mengenai jaket seorang penumpang perempuan. 

Sebenarnya bukan sekali itu pelecehan terjadi di transportasi umum di Jakarta. Berkali-kali juga viral, berulang kali petugas menindak. Namun, ada saja oknum laki-laki dengan kecenderungan “menyimpang”: Menyalurkan syahwatnya di tempat umum. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh JAKARTA SIDERS (@jakarta_siders)

Untung penumpang TransJakarta peduli, kalau di KRL cuek walaupun ada yang dilecehkan

Di kolom komentar unggahan video itu, ada warganet yang mengaku bahwa tindak pelecehan terhadap perempuan di transportasi umum Jakarta memang masih kerap terjadi. 

Namun, ada situasi yang berbeda antara di TransJakarta dan KRL. Si warganet mengaku, kalau di TransJakarta, masih banyak penumpang yang peduli. Sehingga ketika ada orang berbuat asusila, maka penumpang lain akan langsung bertindak sebelum nanti diteruskan ke petugas. 

Berbeda dengan yang terjadi di KRL. Pengakuan si warganet, penumpang KRL cenderung cuek-cuek. 

Alhasil, ketika ada perempuan menjadi korban pelecehan, walaupun si korban sudah menunjukkan gestur butuh dibantu, tapi penumpang lain seperti tak peduli.

“Urusanmu ya urusanmu sendiri. Jangan libatkan orang lain.” Begitu kira-kira jawaban dari sorot mata penumpang lain saat korban pelecehan memberi kode minta bantuan. Bahkan banyak juga penumpang yang memilih mengalihkan perhatian. 

Cari-cari kesempatan di tengah kesempitan transportasi umum Jakarta

Irgina (29), salah seorang perempuan pekerja di Jakarta, mengaku beberapa kali mengalami kasus pelecehan saat naik transportasi umum. 

Pernah suatu kali, ketika naik TransJakarta dan dalam kondisi agak berdesakan, ia merasakan bagian pantatnya dielus dengan punggung tangan oleh penumpang di belakang. Namun, setiap kali ia menoleh, si penumpang laki-laki itu pura-pura fokus melihat area luar. 

Iklan

“Kalau dibilang nggak sengaja, tapi ada gerakannya,” ujar Irgina, Sabtu (17/1/2025). 

Pernah juga ia mengaku, di dalam kepadatan TransJakarta, ada penumpang yang terasa dengan sengaja mengendus rambutnya. Ada juga yang sengaja berpegangan di tiang, tapi tangannya diletakkan persis di hadapan dada Irgina. 

“Sehingga kalau ngerem, tangannya bisa tersentuh dada saya. Modusnya begitu. Mangkanya biar nggak pindah-pindah,” kata Irgina. 

Untung ada penumpang lain yang peduli

Dalam modus seperti itu, penumpang lain memang kerap samar. Oleh karena itu, beberapa kali Irgina sengaja meminta bantuan. Berbisik kepada penumpang lain di dekatnya. 

“Untungnya aku sering ketemu penumpang cowok baik. Jadi pas aku ngadu, dia langsung ngelihatin ke arah belakang,” jelas Irgina. 

Namun, karena cowok tersebut tidak melihat gelagat mencurigakan dari penumpang di belakang Irgina, Irgina diminta untuk maju ke depan. Agar terlindung dari penumpang dengan modus mesum tadi. 

“Memang aku belum pernah ngalamin yang sampai ribut-ribut. Tapi modus-modus semacam itu masih sering terjadi di dalam transportasi umum di Jakarta, termasuk TransJakarta,” ucapnya. 

Perbuatan asusila dari belakang di transportasi umum Jakarta

Cerita serupa juga datang dari Neli (25). Bedanya, jika Irgina lebih sering naik TransJakarta, Neli lebih sering menggunakan moda transportasi umum KRL. 

Neli mengaku pernah merasa penumpang laki-laki di belakangnya menempelkan kemaluannya ke pantat Neli. 

Apakah itu ketidaksengajaan karena kondisi KRL yang berdesakan? Mungkin. Namun, situasi itu nyatanya digunakan sebagai kesempatan bagi si otak mesum. Sebab, kalau tidak sengaja mestinya hanya sekali. Tapi penumpang mesum itu sengaja mengulanginya terus-menerus, tanpa beriktikad menghindari. 

“Aku sempat negur waktu aku ngalamin itu. Tapi si otak mesum itu malah balik marah. Katanya, ya kalau nggak mau senggolan jangan naik KRL. Kesel banget. Sementara penumpang lain cuma ngelihatin,” ujar Neli. 

Di media sosial, Neli pun mengaku pernah mendapati komentar dari warganet laki-laki membela diri. Katanya, perempuan di KRL amat mudah menuding laki-laki melakukan pelecehan. Padahal dalam situasi KRL yang serba berdesakan, laki-laki bisa apa? 

“Kan sebel banget kayak gitu,” kata Neli. 

Diam-diam merekam

Perempuan memang amat rentan jadi objek pelecehan di transportasi umum di Jakarta. Bukan hanya dalam bentuk sentuhan fisik. Tapi bahkan pakai modus yang lebih halus. 

Neli pernah mendapati seorang perempuan pekerja Ibu Kota, kira-kira usia menjelang 30-an, diam-diam direkam oleh penumpang yang duduk di hadapannya. 

“Si mbak-mbak itu kan berdiri. Sebenarnya dia itu tertutup. Pakai masker, berhijab, pakaian panjang. Cuma memang bagian tubuhnya agak mencolok. Tapi itu kan anugerah Tuhan. Dasar cowok mesum aja yang nggak bisa gitu biasa aja ngelihatnya,” beber Neli. 

Ia melihat, ternyata si cowok mesum itu menyalakan kamera belakang ponselnya. Lalu mencari-cari celah untuk merekam dan memfoto penumpang perempuan di hadapannya. 

“Aku langsung bisikin ke si mbaknya, ngajak dia agak ke depan walaupun kondisinya berdesakan. Terus si cowok itu ngelihatin aku terus,” kata Neli. 

***

Baik Irgina maupun Neli tentu agak traumatis tiap hendak menaiki transportasi umum di Jakarta. Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Demi menghindari macet dan ongkos lebih murah. Hanya sesekali saja mereka menyelingi menggunakan ojek online. 

Tapi mereka mencoba sehati-hati mungkin tiap naik TransJakarta maupun KRL. Mata mereka awas mengamati gelagat-gelagat mencurigakan dari penumpang lain. 

“Aku sih berharapnya penumpang lain juga peduli gitu. Saling ngelindungi,” harap Neli. 

“Nggak tahu ya, aku malah berpikir, kayaknya perempuan bakal lebih aman dari potensi pelecehan kalau tempatnya khusus. Misalnya, kalau TransJakarta, ada gitu TransJakarta yang khusus penumpang perempuan. Dipisah aja udah. Kalau KRL, nggak tahu dah, harusnya petugas lebih awas aja sih,” sementara begitu pendapat Irgina. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pilihan yang Sulit Bagi Warga Karawaci Tangerang: Antara Siksaan Naik KRL Kena Gencet atau Naik Bus Kena Macet atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2026 oleh

Tags: jakartaKRLKRL jakartaTransJakartatransportasi umum jakartatransum jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO
Cuan

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
User kereta api (KA) ekonomi naik bus Sumber Selamat: sebenarnya kursi lebih nyaman, tapi ogah tersiksa lebih lama MOJOK.CO

User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan

2 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.