Salah satu resolusi Fita (23) di tahun 2026 ini adalah bisa mengelola keuangan dengan baik, mengingat ketidakpastian ekonomi global saat ini. Perempuan yang pernah tinggal di Jogja dan kerja di Jakarta itu percaya perencanaan keuangan yang disiplin menjadi kunci finansial di masa depan.
Sebab menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), 2026 merupakan tahun yang rentan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi termasuk di Indonesia.
***
Tahun 2020 saat Fita masih menjadi mahasiswa baru dan merantau di Jogja, ia mengaku harga kebutuhan pokok masih murah dibandingkan sekarang. Misalnya saja, dengan harga kos Rp450 ribu ia sudah mendapat fasilitas bagus. Kini, harga kos di Jogja minimal Rp550 ribu dengan fasilitas yang lumayan.
Bahkan untuk kost eksklusif saja, harganya sudah mirip harga sewa apartemen di Jakarta. Padahal, kata Fita, UMK Jogja yang senilai Rp2,8 juta sangat jauh dengan UMK Jakarta yang senilai Rp5 juta.
Guna menghemat biaya pengeluaran, Fita juga sering membeli makanan di angkringan di mana harga nasi kucing di tahun 2020 masih Rp2 ribu sementara sekarang harganya sudah Rp5 ribu. Dengan pola hidup yang demikian, Fita dapat menghabiskan Rp2 juta per bulan selama tinggal di Jogja.
“Dulu mungkin nggak sampai segitu tapi sekarang uang Rp100 ribu aja hanya cukup untuk membeli bahan makanan atau makanan siap saji dalam dua hari, apalagi dengan banyaknya warung makan atau coffee shop estetik di Jogja,” ujar Fita.
Dengan biaya hidup yang segitu dan angka UMK yang kecil, Fita pun berpikir ada baiknya kerja di Jakarta dibandingkan di Jogja. Toh, harga kebutuhan hidupnya sama-sama mahal tapi gaji yang didapat lebih besar. Oleh karena itu, saat dirinya mendapat tawaran kerja di Jakarta, Fita langsung gas.
Namun, sejak pindah dari Jogja ke Jakarta, Fita pun menyadari lokasi yang ia tinggali bukan penyebab utama jumlah tabungannya seret melainkan cara mengelola keuangannya yang kurang baik. Sebab di Jakarta, harga kebutuhan hidup juga terbilang mahal.
Kuis literasi keuangan
Pertanyaan: Kapan waktu yang paling efektif untuk menyisihkan dana tabungan agar menjadi bagian dari sistem keuangan?
Belajar dari kisah Fita, PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life), yang merupakan anggota IFG, BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi, memberikan tips bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik. Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi, menegaskan kesiapan finansial perlu dilakukan sejak dini.
“Ketika kondisi ekonomi semakin menantang, literasi keuangan menjadi semakin penting. Sebagai salah satu pelaku utama di industri asuransi jiwa dan kesehatan, IFG Life berkomitmen memberikan layanan terbaik serta perlindungan yang komprehensif dan berkelanjutan kepada konsumen,” ujar Gatot.
“Komitmen tersebut diwujudkan tidak hanya melalui produk dan proses klaim, tetapi juga dengan mendampingi masyarakat membangun stabilitas finansial melalui edukasi dan perencanaan yang terukur.”
Guna menyusun rencana keuangan yang lebih konkret, berikut beberapa resolusi yang bisa dipertimbangkan untuk menyambut 2026:
#1 Menabung di awal bulan 2026
Meski terdengar klise, kebiasaan menabung tetap menjadi fondasi utama dalam perencanaan keuangan. Kunci dari kebiasaan ini bukan pada besar kecilnya jumlah, melainkan konsistensi. Agar lebih efektif, kamu bisa coba untuk menabung di awal bulan.
Begitu gaji diterima di Januari 2026, sebagian dana bisa langsung dipindahkan ke rekening tabungan atau dialokasikan ke rekening dana nasabah (RDN) sebagai langkah awal berinvestasi. Dengan cara ini, menabung menjadi bagian dari sistem keuangan, bukan sekadar niat baik di akhir bulan.
Tabungan pun perlu dijadikan komponen tetap dalam anggaran dan perencanaan keuangan, sehingga tetap berjalan terlepas dari naik turunnya pengeluaran bulanan.
#2 Evaluasi pembelian di tahun 2026
Bangun kebiasaan belanja yang lebih mindful. Di era belanja online, proses pembelian yang serba cepat kerap membuat keputusan diambil secara impulsif. Apalagi saat terjadi promo di tanggal dan bulan yang sama seperti promo 1 Januari 2026.
Nah, salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah memberi jeda satu atau dua hari sebelum checkout, terutama untuk barang yang tidak mendesak.

Sebelum menyelesaikan transaksi, ajukan tiga pertanyaan dasar: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah akan bermanfaat, dan apakah tersedia anggaran.
Kebiasaan ini membantu meningkatkan kesadaran dalam mengelola pengeluaran tanpa harus sepenuhnya menahan diri dari belanja di tahun 2026.
#3 Hati-hati dengan layanan langganan
Model layanan berbasis langganan kini semakin umum, mulai dari aplikasi hingga hiburan digital. Tanpa disadari biaya kecil yang dibayar rutin dapat menggerus pendapatan bulanan, termasuk dari layanan yang sudah jarang digunakan.
Untuk menghindari kebocoran anggaran, kamu bisa mulai kebiasaan untuk melakukan pengecekan secara berkala terhadap layanan yang masih aktif di riwayat transaksi e-wallet atau kartu kredit.
Lalu, gunakan satu alamat email khusus untuk layanan berbayar juga dapat membantu, sehingga lebih mudah melacak layanan apa saja yang masih aktif dan segera menghentikan yang sudah tidak diperlukan.
#4 Memahami perlindungan yang kamu punya
Situasi tak terduga dapat terjadi kapan saja, sehingga penting memahami perlindungan yang dimiliki, termasuk asuransi dan BPJS. Luangkan waktu untuk memahami kembali manfaat, ketentuan klaim, hingga batasannya, agar perlindungan dapat dimanfaatkan optimal dan kebutuhan lain dapat diantisipasi dalam perencanaan keuangan.
Sejumlah penyedia asuransi, seperti IFG Life, kini menghadirkan layanan digital untuk membantu nasabah memahami perlindungan yang dimiliki tanpa harus menelusuri dokumen polis secara manual.
Melalui aplikasi One by IFG, nasabah dapat mengakses informasi terkait jenis asuransi dan manfaat perlindungan, sekaligus memanfaatkan proses klaim yang lebih sederhana. Kehadiran layanan digital ini ditujukan untuk meningkatkan kemudahan akses layanan asuransi bagi masyarakat, baik dari sisi informasi maupun proses.
#5 Tetapkan “limit hidup” di tahun 2026
Berniat untuk lebih hemat pun sering kali tidak cukup. Kamu perlu batasan yang jelas untuk membantu mengatur pengeluaran gaya hidup dengan lebih konsisten. Karena itu, memasuki 2026, kamu dapat mulai menetapkan “limit hidup” atau batas maksimal pengeluaran bulanan untuk kebutuhan gaya hidup seperti makan di luar, hiburan, atau aktivitas sosial.
Angka ini sebaiknya ditentukan sejak awal bulan dan dibuat lebih rendah dari limit kartu yang tersedia. Dengan cara ini, pengeluaran tetap terkontrol tanpa harus sepenuhnya mengorbankan ruang untuk bersenang-senang, sehingga keseimbangan antara menikmati hidup dan menjaga kesehatan keuangan tetap terjaga.
***
Pada akhirnya, membangun kebiasaan finansial bukan soal perubahan besar yang dilakukan sekaligus, melainkan konsistensi dalam langkah-langkah kecil sehari-hari. Di tengah ketidakpastian ekonomi, resolusi keuangan yang realistis dan terukur dapat menjadi pegangan untuk menjaga stabilitas dan rasa aman.
Dengan perencanaan yang lebih sadar dan disiplin, kamu dapat menghadapi 2026 dengan lebih siap, bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk kestabilan finansial di setiap tahap kehidupan.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Menyesal Kerja di Jogja dengan Gaji yang Nggak Sesuai UMP, Pilih ke Jakarta meski Kerjanya "Hectic". Toh, Sama-sama Mahal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













