Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Tak Bisa Bikin Ketupat di Desa Manggar Rembang Dibayangi ‘Hukuman Mengerikan’

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 April 2024
A A
Tak Bisa Bikin Ketupat Di Desa Manggar Rembang Dapat Hukuman Mengerikan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tak bisa bikin ketupat di Desa Manggar, Rembang dapat 'hukuman mengerikan'. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak bisa membuat ketupat bisa dibayangi “hukuman yang mengerikan”. Setidaknya itulah mitos yang berkembang di kalangan masyarakat Desa Manggar, Rembang, Jawa Tengah sejak dulu kala. Mitos yang semakin ke sini semakin terabaikan, khususnya oleh anak-anak muda setempat.

***

Tangan Anipah (48) tampak cekatan menganyam janur-janur hijau di hadapannya. Tak butuh lama, janur-janur tersebut berubah menjadi beberapa buah ketupat yang siap terisi beras untuk kemudian disantap. Demikianlah pemandangan di teras rumah Anipah pada Senin, (8/4/2024) malam WIB.

Di Desa Manggar, Rembang, sebenarnya lebaran tak identik dengan ketupat. Sebab, dalam versi masyarakat setempat, ada dua sesi lebaran dalam bulan Syawal. Pertama, yakni lebaran Idul Fitri yang peringatannya pada 1 Syawal. Kemudian yang kedua adalah lebaran ketupat yang perayaannya jatuh pada 7 Syawal.

Pada tanggal 7 Syawal itulah masyarakat Desa Manggar, Rembang baru akan ramai-ramai membuat ketupat. Sehingga namanya lebaran ketupat.

“Tapi ini bikin ketupat buat tanggal 1 Syawal karena anak-anak yang minta,” ujar Anipah.

Dua anak perempuan Anipah sudah berumah tangga. Masing-masing sudah tak tinggal satu atap lagi dengan Anipah di Desa Manggar, Rembang. Oleh karena itu, setiap ada kabar dua anaknya akan pulang ke Desa Manggar, Rembang, Anipah sangat bersemangat untuk menyediakan apa yang anak-anaknya minta. Termasuk memasakkan ketupat dan opor untuk menyambut hari raya Idul Fitri 1445 H/2024 M ini.

“Di hari-hari biasa pun begitu. Sebelum pulang pasti ngabarin mau dimasakkan apa,” tutur Anipah.

Anak muda di Desa Manggar Rembang enggan repot membuat ketupat

Anipah menyebut, saat ini amat jarang menemui pembuat ketupat di Desa Manggar, Rembang. Kalau ada, pastilah dari kalangan orang-orang sepuh. Sementara kalau dari kalangan anak-anak muda, termasuk pasangan suami istri muda, lebih memilih beli saja dengan alasan lebih praktis.

“Sekarang sukanya kalau nggak beli wadah ketupatnya saja, yang tinggal isi dan masak, ya beli ketupat jadi. Tinggal santap,” ujar Anipah.

“Anak-anak muda sekarang wegah repot,” sambungnya.

Padahal dalam ingatan Anipah, di masa kecil dan remajanya dulu membuat ketupat menjadi aktivitas yang para remaja Desa Manggar, Rembang sambut dengan sangat antusias.

Tak Bisa Bikin Ketupat Di Desa Manggar Rembang Dapat Ancaman Mengerikan MOJOK.CO
Tak bisa membuat ketupat di Desa Manggar, Rembang dapat ‘hukuman mengerikan’. (Aly Reza/Mojk.co)

Dua hari menjelang lebaran ketupat 7 Syawal, para orang tua di Desa Manggar akan membeber janur di balai bambu yang terletak di pekarangan rumah masing-masing. Di sana para orang tua akan mengajari anak-anak bagaimana caranya menganyam janur tersebut agar membentuk ketupat yang sempurna.

Menurut Anipah, anak-anak di Desa Manggar, Rembang akan bersaing untuk membuat ketupat dengan bentuk terbaik. Yang tak kunjung bisa pasti malu sekaligus takut setengah mati.

Iklan

“Karena di desa ini dulu ada mitos, kalau seumur hidup nggak bisa membuat ketupat nanti bakal dapat hukuman di alam kubur,” jelas Anipah.

Hukuman tak bisa membuat ketupat di Desa Manggar Rembang

Anipah tak tahu persis kapan pertama kali mitos ini berkembang di Desa Manggar, Rembang. Yang jelas, sejak masa kanak-kanak dan remajanya di tahun 1980-an, mitos ini sudah mengakar kuat di tengah masyarakat.

Mitosnya adalah, bagi yang tidak bisa membuat ketupat selama hidupnya, maka ia bakal mendapat hukuman mengerikan: setelah mati di alam kuburnya akan memikul peli bimo.

“Konon wujudnya (peli bimo) adalah kemaluan laki-laki, tapi bentuknya sangat-sangat besar,” terang Anipah.

Terdengar aneh dan memancing pertanyaan. Tapi memang demikianlah mitos yang sudah berkembang sejak masa remaja Anipah perihal hukuman mengerikan bagi orang-orang di Desa Manggar, Rembang yang seumur hidup tak bisa membuat ketupat.

Anipah sendiri tak tahu persis kenapa memikul peli bimo yang menjadi hukumannya. Hanya saja, sejak masa remaja dulu, membayangkannya saja sudah mengerikan. Sehingga banyak anak-anak di Desa Manggar, Rembang—baik laki-laki maupun perempuan—yang bertekad bisa membuat ketupat sedini mungkin.

“Terlepas benar atau tidak, keyakinan itu sebenarnya coba aku tanamkan ke anak-anak (kelahiran 1997). Dengan harapan biar belajar membuat ketupat,” ujar Anipah

“Tapi anak-anak lebih pintar. Jadi mitos itu nggak berlaku,” imbuhnya.

Alhasil, mitos tak lebih hanya sekadar mitos. Anak-anak kelahiran 1997 hingga sekarang sudah mengabaikan mitos tersebut. Mereka lebih memilih cara praktis dengan membeli ketupat jadi di pasar. Tak ada lagi ketakukan pada hukuman mengerikan memikul peli bimo.

Menjaga tradisi membuat ketupat

Syuhada (79), salah satu orang sepuh di Desa Manggar, Rembang pun tak tahu kenapa memikul peli bimo yang dipakai sebagai hukuman. Namun, satu hal yang pasti, mitos tersebut lahir dalam rangka untuk menjaga tradisi membuat ketupat di Desa Manggar, Rembang.

“Sekarang begini, anak-anak muda nggak mau membuat ketupat. Belinya dari orang-orang tua. Kalau orang-orang tua ini sudah nggak ada, anak-anak muda mau beli ke siapa? Pembuat ketupa sudah punah,” ujar Syuhada, Selasa (9/4/2024) siang WIB.

Menurut Syuhada, zaman dulu amat mudah memberi pengajaran pada anak-anak melalui mitos. Misalnya dalam kasus membuat ketupat ini, anak-anak tentu ngeri manakala membayangkan kelak harus mendapat hukuman memikul peli bimo di alam kubur.

Karena ngeri, anak-anak akhirnya terpacu untuk membuat ketupat. Dengan begitu, ada satu generasi pembuat ketupat yang terselematkan.

“Selain itu, membuat ketupat itu jadi ajang kerukunan. Orang tua serawung dengan anak. Anak-anak saling mengajari dan berlomba-lomba dengan sesamanya,” beber Syuhada.

“Bahkan tetangga pun bisa ikut nimbrung bikin ketupat bareng-bareng,” terang salah satu orang sepuh di Desa Manggar, Rembang itu.

Sayangnya, seperti keresahan yang Anipah utarakan, semakin ke sini mitos tersebut semakin terabaikan. Anak-anak muda di Desa Manggar, Rembang tak lagi menganggap bisa membuat ketupat sebagai perkara yang penting. Tak bisa membuat ketupat sudah tak lagi menyisakan rasa malu dan kengerian.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Bagi Orang Rembang Jadi TKI di Malaysia Lebih Terhormat ketimbang Sarjana, Gara-Gara Sarjana Banyak yang Nganggur dan Jadi Beban Orang Tua Padahal Kuliah sampai Jual Sawah

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 10 April 2024 oleh

Tags: desa manggardesa manggar rembangIdul Fitrijawa tengahketupatLebaranpilihan redaksirembang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)
Catatan

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Yamaha Grand Filano lebih cocok untuk jarak jauh daripada BeAT. MOJOK.CO

Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT

26 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.