Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Solusi untuk Maraknya PHK di Sleman dari Pakar Ekonomi UGM, Agar Ekonomi Tak Terpuruk

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
8 Agustus 2024
A A
PHK, buruh jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - ‘Tahun Berganti, Tapi Nasib Kami Nggak Kemana-mana’ - Kekecewaan Buruh Jogja yang Kena PHK Sepanjang 2024 (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sleman, Jogja, menjadi salah satu daerah dengan angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) cukup tinggi. Pakar Ekonomi UGM pun menyoroti langkah yang perlu Pemerintah lakukan.

Kondisi dunia kerja di Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja. Bayangkan, hanya dalam rentang enam bulan saja, sudah sebanyak 101.536 kasus PHK pekerja di seluruh Indonesia. Begitulah bunyi data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) untuk rentang Januari-Juni 2024.

Dalam data itu, disebut juga kalau PHK di Sleman angkanya cukup tinggi. Dalam rentang tahun yang sama, tercatat 217 pekerja dari 37 perusahaan berbeda menjadi korban PHK. Angka tersebut masih berotensi terus meningkat dari waktu ke waktu.

Di balik gelombang besar PHK di Sleman

Menurut Pengamat Ekonomi Kerakyatan sekaligus Dosen Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UGM, Hempri Suyatna, tentu ada banyak faktor di balik maraknya PHK di Indonesia, begjtu juga PHK di Sleman.

“Saya kira memang banyak faktor yang menyebabkan gelombang PHK ini, terutama di sektor industri padat karya berorientasi ekspor seperti sektor garmen atau tekstil,” beber Pakar Ekonomi tersebut mengutip dari laman resmi UGM.

Dalam pandangannya, sektor industri padat karya saat ini memang tengah lesu. Hal tersebut terjadi tidak lepas dari lesunya pertumbuhan ekonomi global.

Oleh karena itu, perusahaan (misalnya) di sektor garmen atau tekstil mau tak mau harus melakukan langkah efisiensi. PHK pekerja menjadi salah satu cara untuk menekan ongkos produksi.

Selain itu, Pakar Ekonomi UGM itu menyebut, faktor lain yang bisa jadi menjadi penyebab tingginya angka PHK—termasuk PHK di Sleman—adalah karena maraknya produk-produk impor ilegal maupun penurunan daya beli masyarakat akibat devaluasi rupiah.

“Ditambah, proses transisi politik di Indonesia mendorong banyak perusahaan untuk wait and see: melihat bagaimana dinamika politik yang akan terjadi. Sehingga ikut berpengaruh,” sambungnya.

Solusi dari Pakar Ekonomi UGM

Kondisi yang tentu tidak boleh dibiarkan. Sebab, jika angka PHK tinggi, maka angka pengangguran juga tinggi. Hal ini tentu menjadi sinyal buruk pula bagi perekonomian Indonesia.

Hempri menekankan, Indonesia saat ini merupakan negara dengan populasi nomor empat terbanyak di dunia dan akan mendapatkan bonus demografi di tahun 20230 mendatang. Maka, peningkatan jumlah masyarakat yang kehilangan pekerjaan alias korban PHK—begitu juga PHK di Sleman—harus segera dicarikan solusi agar tidak mengganggu stabilitas negara.

Pakar Ekonomi UGM itu berpendapat, ada beberapa hal yang memang harus diantisipasi untuk mencegah agar gelombang PHK, baik skala nasional maupun spesifik PHK di Sleman, tidak memberikan efek yang lebih besar lagi. Antara lain:

Pertama, perlu ada evaluasi kembali mengenai Peraturan Menteri Perdagangan nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor. Sebab, peraturan tersebut dicurigai menjadi penyebab maraknya produk-produk impor yang berakibat pada lesunya industri di tanah air.

“Jika perlu, aturan harus direvisi untuk memberikan perlindungan produk-produk dalam negeri dari serbuan produk impor,” tutur Hempri.

Iklan

UMKM jadi penyelamat

Kedua, perlu ada peningkatan daya beli masyarakat, misalnya dengan memberikan jaminan stabilitas harga sehingga terjangkau oleh masyarakat. Misalnya lagi, bisa juga dengan mengadakan program-program bantuan sosial bagi keluarga tidak mampu.

Bantuan sosial tersebut memungkinkan masyarakat dari kalangan keluarga tidak mampu akhirnya memiliki kesanggupan untuk membeli produk dengan harga terjangkau tersebut.

Lebih lanjut, masih kata Hempri, perlu ada langkah lain untuk antisipasi korban PHK, secara umum maupun korban PHK di Sleman. Katakanlah dengan penyelenggaraan program padat karya yang melibatkan masyarakat di dalamnya. Termasuk dalam konteks ini adalah penguatan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) atau Industri Kreatif.

“Pengalaman selama ini sektor UMKM selalu mampu menjadi katup penyelamat perekonomian nasional,” ungkap Pakar Ekonomi UGM itu.

“Kebijakan untuk memperkuat sektor UMKM menjadi salah satu solusi bagi masyarakat yang menjadi korban PHK,” tegasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: 4 Persiapan agar Tak Jadi Sarjana Pengangguran ala UNAIR Surabaya, Kalau Lulus Nganggur biar Nggak Salahkan Ijazah Kampus

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2024 oleh

Tags: Jogjaloker jogjaloker slemanPengangguranPHKpilihan redaksislemanuhm
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co
Pojokan

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.