Tinggal di kos bebas memberi ide seorang mahasiswa di Malang untuk menjalankan “bisnis” sewa tempat untuk menyalurkan syahwat tapi tak modal. Sewanya bahkan tak perlu bayar pakai uang, tapi apa saja asal sama-sama senang.
***
Catatan: Tulisan ini tidak bermaksud menormalisasi perbuatan yang bertentangan dengan norma hukum, agama, maupun sosial yang berlaku. Tidak juga dimaksudkan untuk memberi inspirasi. Tapi merupakan rekaman realitas yang ada dan nyata, serta gambaran dampak serius dari perbuatan tersebut.
Ada ribuan kos yang tersebar di Malang–sebagai “Kota Pelajar”-nya Jawa Timur. Dari ribuan tersebut, banyak di antaranya yang berstatus bebas (dalam arti laki-laki dan perempuan bisa masuk-keluar dengan leluasa.
Misalnya, di platform Mamikos tercatat ada sekitar 3.299 kos. 2.000 di antaranya berstatus sebagai kos bebas. Itu tentu bukan angka total. Paling banyak ditemui di Lowokwaru, Suhat, dan Blimbing.
Dari pengalaman pribadi di kos sendiri, lalu manfaatkan kekagetan mahasiswa luar Malang
Menginapkan pacar di kos seperti bukan perkara tabu. Itu yang Mako (29), nama samaran, rasakan selagi menjadi mahasiswa di Malang sejak 2016 silam.
Lambat laun Mako pun terbiasa begitu: Sering mengajak kekasihnya menginap. Tentu bukan sekadar menginap (hanya untuk numpang tidur).
“Nggak ada opsi living together atau istilah sekarang kohabitasi. Karena waktu itu ada kesadaran, aku masih muda, masih labil. Pasti urusan perasaan juga begitu (Untuk menghindari menyebut “Masih punya potensi besar untuk gonta-ganti pasangan),” ujarnya memulai cerita belum lama ini.
Namun, kebebasan kos di Malang berbeda dengan kota-kota lain. Misalnya Surabaya. Di kota yang dikenal pernah memiliki lokalisasi besar ini, menginapkan pacar di kos justru bisa menjadi masalah besar.
Teman-teman SMA Mako kebanyakan kuliah di Surabaya. Mereka sempat kaget ketika mendapati fakta betapa bebas kos-kos di Malang. Termasuk kos yang Mako tempati.
Dari situlah Mako tercetus ide gila. “Kalau kamu ke Malang sama pacarmu, nggak masalah sewa kosku,” begitu kata Mako pada temannya, penuh godaan. Dari situlah “bisnis kotor” itu ia jalankan.
Bisa bayar murah, tak pakai uang tak masalah
Beberapa teman Mako–mahasiswa di luar Malang–kerap datang membawa pacar, berganti-ganti pacar.
Modus utamanya adalah healing ke wisata alam. Lalu ngopi-ngopi estetik. Hingga menikmati lampu-lampu kota dari ketinggian, yang terlihat seperti bintik-bintik bersinar.
Kalau sudah larut malam, ketimbang keluar ongkos mahal untuk sewa hotel atau penginapan, pilihan paling hemat adalah menginap di kos Mako.
“Permalam kupatok Rp50 ribu-Rp70 ribu. Tergantung seberapa dekat status pertemanan kami sebelumnya. Karena kan ada model teman yang nggak terlalu dekat, tapi kemudian jadi sok akrab untuk urusan ini,” jelas Mako.
“Terlebih, ada loh yang aku nggak kenal. Jadi temanku bilang ke temannya kalau ke Malang suruh ngontak aku aja buat sewa kos,” sambungnya.
Bahkan, jika sudah amat dekat, Mako terima-terima saja jika dibayar dengan sebungkus rokok Surya isi 16 atau Sampoerna Mild.
Tak masalah, asal sama-sama senang seja. Jika dibayar uang, Mako senang ia punya tambahan uang untuk beli rokok dan bensin. Kalau dibayar rokok, ia pun tetap senang karena tidak harus meloloskan uang sakunya untuk jatah ngebul.
Baca halaman selanjutnya…
Jadi saksi mahasiswa kampus Islam menjaga citra alim padahal tak pernah kuat menahan syahwat














