Impian Putri Fateemah (28) seolah menguap begitu saja setelah lulus sebagai Sarjana Pendidikan Seni, sebab nyatanya mencari kerja di era sekarang begitu sulit. Sudah ratusan lamaran kerja ia kirim, tapi tak pernah diterima hingga dihina oleh saudara-saudaranya.
***
Barangkali, sama seperti anak kebanyakan, Putri, panggilan akrab Putri Fateemah, hanya menjawab asal saat ditanya soal cita-cita semasa anak-anak. Kala itu, ia ingin menjadi dokter gigi. Namun setelah lulus SMA, Putri malah masuk Jurusan Pendidikan Seni.
Keinginannya pun berubah menjadi seorang filsuf. Inspirasi itu datang saat ia membaca salah satu syair karya Jalaluddin Rumi dan Kahlil Gibran. Nyatanya, segala mimpi itu sirna saat Putri lulus kuliah di tahun 2019.
Sebagai Sarjana Pendidikan Seni, Putri mengaku sulit mencari kerja. Ratusan lamaran kerja sudah ia kirim, baik melalui email maupun secara langsung. Perusahaan yang ingin ia masuki pun tak muluk-muluk, asal dirinya memenuhi kriteria yang diinginkan.
“Aku nggak pernah pilih-pilih perusahaan karena waktu itu yang penting aku kerja, bisa bantu orang tua,” ucap Putri saat dihubungi Mojok, Kamis (11/12/2025).
Tapi dari ratusan perusahaan yang ia lamar, sebagian menolak, sebagiannya lagi bahkan tak menjawab.
“Daftar kerja memang gampang karena era digitalisasi, cuman keterimanya nggak mudah,” keluhnya.
Pengalaman menyebalkan saat wawancara kerja
Karena tak diterima di perusahaan mana pun, Putri akhirnya mencari kerja freelance. Yang penting pada saat itu, ia bisa mengurangi beban keluarganya. Di sisi lain, ia masih ingin mencari pekerjaan dengan gaji yang aman dan stabil. Oleh karena itu, dia tak berhenti menyebar CV.
Pada suatu hari, Putri akhirnya mendapat panggilan wawancara di salah satu perusahaan lembaga kursus bahasa. Namun ia bimbang karena wawancara harus dilakukan secara offline, padahal di hari itu Putri masih berkabung.
“Nenekku baru meninggal 5 hari dan aku harus ke luar kota untuk wawancara,” kata Putri.
Namun, karena tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Putri akhirnya pergi berkendara dengan motor sendirian. Ia nekat berangkat mulai dari pukul 05.30 WIB meski cuaca gerimis. Bagi Putri, gerimis hanyalah tantangan kecil sampai kemudian ia menjumpai masalah yang lebih besar.
“Baru setengah jam aku berkendara, ada trafo di kanan jalan yang meledak di depanku,” ujar Sarjana Pendidikan Seni tersebut.
Beruntung, kejadian itu tak melukai dirinya. Putri tetap tancap gas menuju lokasi wawancara sehingga tetap bisa tiba tepat waktu. Eh tidak tahunya, di sana ia masih di ghosting. Putri di minta menunggu selama satu setengah jam–lebih dari jadwal yang ditentukan.
“Wawancaraku akhirnya selesai sore. Akhirnya aku sampai di rumah sekitar pukul 20.00 WIB. Aku jadi harus melewati hutan-hutan yang gelap sendirian,” kata Putri.
Luka yang tak pernah hilang
Setelah melewati perjuangan tersebut, Putri malah tak diberi kabar sama sekali. Apakah ia diterima atau ditolak? Hingga saat ini, hasilnya masih tanda tanya. Tapi tentu saja, karena sudah beberapa bulan berlalu, Putri sudah bisa menyimpulkannya sendiri.
“Itu terakhir kalinya aku daftar kerja karena aku sudah benar-benar capek. Aku nggak habis pikir, apakah HR sesulit itu mengirim email balasan?” tanya Putri.
Setelah kejadian itu, Putri akhirnya kerja freelance kembali sebagai seorang content writer. Beberapa tahun kemudian, Putri kembali harus menerima duka. Di awal tahun 2025, ayah Putri meninggal.
“Kepergian ayah mengubah banyak hal dalam hidupku. Sekarang aku harus ikut andil melakukan pekerjaan berat yang dulu beliau lakukan. Seperti ngasih makan kambing, ngarit rumput untuk pakan, sama bantuin ibu. Singkatnya, aku menggantikan peran ayahku yang dulu,” tutur Sarjana Pendidikan Seni tersebut.
Tak sampai di situ, 100 hari setelah ayahnya meninggal, Putri kembali mendapat kabar buruk.
“Aku dipecat one monetize dari agensi freelance-ku, karena mereka juga kesulitan finansial,” ucap Putri.
Dihina karena sarjana nganggur
Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, bukannya mendapat dukungan dari keluarga besar, Putri justru menjadi bahan omongan oleh tante dan pamannya. Mereka mulai mengungkit-ungkit gelar sarjana kuliah Putri, tapi belum dapat pekerjaan yang mapan.
“Seolah-olah aku hina banget karena sarjana tapi nggak jadi pegawai malah ikut-ikutan bertani kayak orang tuaku dulu. Seolah-olah aku ini contoh yang buruk untuk anak-anak mereka,” ujar Putri.
Padahal, untuk bertahan hidup satu hari saja, Putri mesti berjuang mati-matian. Ia pun tak berdiam diri di rumah dan tetap melakukan aktivitas ayahnya dulu sambil membuka usaha kecil-kecilan. Misalnya, menjual jilbab sembari membuat beauty content.
Saat Putri berjuang dalam senyap, pamannya justru ingin mengirim Putri ke mantan bosnya yang ada di Bogor untuk bekerja.
“Aku suruh sendiko dawuh ke mantan bos pamanku. Dia bilang, kalau disuruh apapun, entah itu bantuin ngepel, nyapu, nyuci, aku harus mau,” cerita Putri.
Tekanan dari saudara-saudara Putri selepas ayahnya meninggal, membuat dia malas untuk pergi keluar rumah selama dua tahun lamanya. Hingga ia mendatangi psikolog untuk mengatasi masalah tersebut. Kini, Putri mengaku jauh lebih baik dari biasanya.
“Hal pahit yang aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa menolong kalian tuh ya diri kita sendiri, walaupun sekarang mungkin kita belum tahu caranya. Yang penting kalian jangan pernah berhenti untuk melangkah dan tetap fokus apa yang ada di depan kalian.” Kata Putri.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Ditolak UB dan Terpaksa Kuliah di Kampus Tak Terkenal, Kini Malah Sukses: Dapat Kerja Gaji Dua Digit setelah Ratusan Lamaran Ditolak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














