Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sains atau FMIPA Kini Makin Dijauhi Anak Muda karena “Tak Jelas” Gunanya, Isinya Cuma Hafalan dan Teori Membosankan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
24 Februari 2025
A A
Kata Dekan FMIP UGM, Sains kini makin tak diminati karena tak jelas manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Ilustrasi - Kata Dekan FMIP UGM, Sains kini makin tak diminati karena tak jelas manfaatnya untuk kehidupan sehari-hari. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wakil Dekan FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Wiwit Suryanto mengurai beberapa persoalan yang membuat Sains kini seolah mengalami penurunan peminat.

***

Narasi turunnya minat siswa pada Sains jadi sorotan usai paparan dari Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma.

Yudi mengungkapkan, kini terjadi penurunan minat siswa untuk belajar bidang MIPA, mencakup: matematika, fisika, kimia, dan biologi.

Kesimpulan itu Yudi dapat dari teman-teman dekan di Fakultas MIPA yang mencatat adanya penurunan calon mahasiswa. Terutama dalam bidang fisika.

Hal itu Yudi sampaikan dalam acara Ngopi Bareng Kemdiktisaintek bersama Wartawan, Selasa (18/2/2025). Lantas, apa penyebabnya?

Sains yang hanya fokus pada hafalan rumus

Wiwit selaku Wakil Dekan FMIPA UGM menyebut, ada beberapa faktor yang memicu hal tersebut. Salah satunya adalah sistem pendidikan—terkhusus dalam konteks Sains—yang hanya berfokus pada hafalan rumus dan teori.

Sayangnya, hafalan itu tidak diimbangi dengan pengalaman eskplorasi yang cukup. Metode pembelajaran semacam itu, menurut Yudi, sudah tidak menarik lagi bagi siswa.

“Belum lagi, kurangnya eksperimen dan praktik langsung membuat sains terasa abstrak dan sulit dipahami,” ujar Wiwit dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/2/2025).

Mempertanyakan manfaat Sains bagi kehidupan sehari-hari

Lebih lanjut, Dekan FMIPA UGM tersebut tidak menampik kenyataan bahwa kurangnya minat terhadap Sains lantaran Sains dinilai tidak bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Bahkan tidak sedikit siswa mempertanyakan manfaat belajar Sains, karena sangat jarang dikaitkan dengan teknologi sehari-hari yang bersinggungan dengan hidup mereka, seperti smartphone, internet, atau kendaraan listrik. Belum lagi soal persepsi Sains sebagai ilmu sulit dan hanya untuk orang jenius.

“Ketidakmampuan melihat manfaat langsung dari ilmu Sains membuat mereka kehilangan motivasi untuk mempelajarinya. Banyak siswa merasa takut terhadap simbol, angka, dan persamaan matematika yang kompleks,” jelas Wiwit.

“Narasi hanya orang jenius yang bisa memahami membuat banyak siswa menyerah sebelum mencoba,” imbuhnya.

Ilmuan tidak semata lahir dari kepintaran teori

Padahal, kata Wiwit, tidak mesti demikian.

Iklan

Michael Faraday contohnya. Bapak Elektromagnetik itu ternyata bukan jago matematika maupun fisika teori. Dia hanya sangat betah dalam mengotak-atik alat eksperimen di laboratorium.

Nah, ini juga menjadi masalah baru. Kurangnya figur inspiratif di bidang Sains turut punya andil menurunnya minat anak muda untuk belajar sains.

“Banyak orang tidak tahu tentang siapa Michael Faraday. Sains jarang dipromosikan melalui media populer, sementara profesi di bidang bisnis, seni, dan hiburan lebih banyak mendapat sorotan,” ucap Wiwit.

“Akibatnya, siswa kurang memiliki role model ilmuwan atau inovator yang dapat menginspirasi mereka. Mungkin zaman saya dulu ada Pak Habibie yang begitu saya idolakan. Nampaknya kita perlu figur-figur ahli Sains yang sering ditampilkan di media,” sambung Dekan FMIPA UGM itu.

Indonesia akan makin tertinggal?

Jika generasi muda semakin lama tidak berminat pada sains, bagi Wiwit, akan berdampak pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Indonesia sebagai bangsa besar akan terus ketergantungan teknologi pada negara asing. Tanpa memiliki ilmuwan dan insinyur yang kompeten, Indonesia hanya akan menjadi konsumen teknologi, bukan produsen.

“Negara tentu akan semakin bergantung pada teknologi impor, yang dapat menghambat kemandirian dan daya saing nasional”, ungkapnya.

Sementara di era persaingan saat ini, kata Wiwit, negara-negara maju seperti China, Jepang, Taiwan, Korea, dan Amerika Serikat berinvestasi besar-besaran dalam riset Sains dan Teknologi.

Jika generasi muda Indonesia tidak tertarik pada Sains, tentu akan membuat semakin tertinggal dalam persaingan global. Kondisi ini pun bisa berakibat pada lemahnya daya saing. Bahkan menjadikan Indonesia minim inovasi untuk menyelesaikan masalah nasional seperti penyelesaian soal krisis energi, perubahan iklim, ketahanan pangan, dan mitigasi bencana alam.

Laboratorium sekolah yang tak memadai

Wiwit pun menilai, kurikulum saat Ini tidak menggiring siswa memiliki minat mendalami bidang Sains. Sistem pendidikan di Indonesia, bagi Dekan FMIPA UGM itu, masih memiliki beberapa kelemahan dalam menarik minat siswa terhadap Sains.

Disamping terlalu berfokus pada hafalan dan teori, pembelajaran masih menekankan pada rumus dan definisi, bukan eksplorasi dan pemecahan masalah.  Kurang dilakukan pendekatan secara interaktif dan eksperimen.

Laboratorium-laboratorium Sains di banyak sekolah juga kurang memadai. Alhasil, siswa tidak memiliki kesempatan untuk melakukan eksperimen secara langsung.

“Evaluasi berbasis ujian, bukan pemahaman konseptual. Model ujian masih mengutamakan hafalan, bukan kreativitas dan pemahaman yang mendalam,” urai Wiwit.

Ubah cara pengajaran

Ada beberapa solusi yang Wiwit tawarkan merespons fenomena ini. Di antaranya mewajibkan pelajaran Sains di sekolah dan mengubah cara mengajar dari hafalan ke eksplorasi: meningkatkan pembelajaran berbasis eksperimen dan proyek nyata disertai penggunaan teknologi digital seperti simulasi, augmented reality, dan coding interaktif.

Tidak luput pula memperlihatkan pada siswa perihal relevansi Sains dalam kehidupan sehari-hari. Terlebih, mengaitkan pelajaran MIPA dengan teknologi modern yang digunakan para siswa. Sesekali, menurutnya, bisa pula mengadakan kunjungan ke industri bahkan mencoba kolaborasi dengan perusahaan teknologi.

“Jika  memungkinkan,  hadirkan role model agar menginspirasi para siswa. Misal menghadirkan ilmuwan dan inovator Indonesia yang sukses di bidang Sains dan Teknologi. Mengadakan program mentorship dan seminar inspiratif tentang karier di bidang Sains dengan disertai perbaikan kurikulum dan lainnya,” pungkas Dekan FMIPA UGM tersebut.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: ‘Baca Tulis Saja Tak Bisa, Malah Diajarin Coding’ – Kata Peneliti Soal Program Prabowo-Gibran yang Terkesan Kebelet AI atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2025 oleh

Tags: fmipa ugmjumlah peminat fmipasainsUGM
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Kena Mental demi Bahagiakan Ayah Ibu yang Hanya Lulusan SD hingga Jadi Wisudawan Terbaik

6 Maret 2026
Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.