Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Edumojok

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 Februari 2026
A A
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Trixi Karinina Dewi Sindhutomo diwisuda di UGM. (Sumber: UGM)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berangkat dari ketertarikannya dengan permasalahan sosial, Trixi Karinina Dewi Sindhutomo akhirnya mendaftar kuliah S1 di Jurusan Manajemen dan Kebijakan Publik. Selama 3 tahun berselang, dia pun lulus di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogja dengan skripsinya yang mengangkat isu tentang kebijakan social housing atau perumahan rakyat di Belanda untuk kelas menengah.

Jalani sempro Manajemen dan Kebijakan Publik sepulang dari Belanda

Akhir tahun 2025 lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa hingga saat ini, masih terdapat 29 juta rakyat Indonesia yang masih belum memiliki rumah. Isu ini pun segera menjadi concern baik bagi pemerintah maupun masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia gencar melaksanakan program 3 juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Misalnya, petani, nelayan, buruh, guru, pengemudi, hingga pekerja media. 

Permasalahan itu pada akhirnya ikut menarik perhatian Trixi. Saat melakukan pertukaran pelajar ke Belanda di University of Groningen, dia tak sengaja melihat perumahan rakyat di sana dan kagum dengan kebijakan pemerintahnya.

Maka, walaupun Trixi masih semester 5 pada saat itu, dia tetap melakukan riset serta mengambil data untuk skripnya yang berjudul National Social Housing Policy for the Indonesian Middle Class: Policy Learning from the Netherlands.

“Jadi aku pulang dari Belanda langsung seminar proposal (sempro), habis itu langsung analisis data. Jadi sebelum KKN, skripsi sudah selesai tinggal revisi aja. Selesai KKN, itu udah bener-bener selesai revisiannya juga, jadi tinggal nunggu nilai KKN langsung bisa sidang,” jelasnya dilansir dari laman resmi UGM, Rabu (18/2/2026).

Membandingkan kebijakan perumahan rakyat di Indonesia dan Belanda

Saat di Belanda, Trixi mengambil riset Spatial Planning. Jenis riset yang cukup berbeda dengan jurusannya di Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, meskipun tujuannya sama-sama membangun sarana publik.

Data primernya dia ambil dari 2 representatif orang Belanda yang bekerja di Housing Association dan satu akademisi ahli di bidang di housing market yang juga merupakan dosennya. Sementara, data sekundernya dia ambil lewat hasil wawancara dengan 2 orang pegawai Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Indonesia.

Lewat riset tersebut, Trixi berhasil mengembangkan pengetahuannya soal ekonomi geografi dan juga tata kelola kota. Hanya saja, dia lebih berfokus pada pembangunan tata kelola spasial. “Termasuk juga tata kelola kota ataupun rural (desa),” ucapnya.

Menurut Trixi, kebijakan perumahan rakyat di Belanda khususnya untuk masyarakat kelas menengah bisa menjadi contoh pengalaman sukses yang bisa diterapkan di Indonesia. 

“Meskipun kebijakan perumahan sosial Belanda telah bergeser dari yang dipimpin negara menjadi desentralisasi, yang mengakibatkan berkurangnya pembangunan dan meningkatnya disparitas regional, pengalaman masa lalunya tetap relevan dengan permasalahan perumahan Indonesia saat ini,” kata Trixi.

Dalam skripsinya, Trixi mengangkat soal pengakuan kebutuhan masyarakat kelas menengah dalam kebijakan perumahan sosial nasional, dan kebijakan zonasi inklusif 40-40-20. Tak hanya itu, dia juga membahas soal adaptasi proyek horizontal yang dipimpin negara seperti VINEX. Sebuah kebijakan perencanaan kota di Belanda yang berfokus pada pengembangan perumahan dan infrastruktur di area pinggiran kota.

Temuan Trixi menunjukkan bahwa kelembagaan dan hukum di Indonesia perlu melakukan revisi jika ingin menerapkan pembelajaran kebijakan seperti di Belanda, khususnya reformasi hukum dari atas ke bawah dan inovasi kelembagaan dari bawah ke atas.

Lulus Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik dengan predikat cumlaude  

Tentu saja untuk menyelesaikan skripsi tentang perumahan rakyat di Belanda tidaklah mudah. Trixi mengaku harus menyeimbangkan waktu dengan kegiatan program pertukaran pelajarnya. Namun, berkat kegigihan dan juga disiplin yang tinggi, ia mampu untuk meraih prestasi baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Iklan

Sebelum berangkat ke Belanda, Trixi turut aktif dalam berbagai kepanitiaan dan volunteering. Tak hanya itu, dia juga pernah meraih piagam penghargaan seperti Peraih Medali Perak Pimnas, serta memperoleh predikat best presentation dan best paper pada Temu Administrator Muda Indonesia tingkat nasional.

Berkat ketekunannya, Trixi akhirnya lulus sebagai Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik UGM dengan IPK 3,85 selama masa studi 3 tahun 27 hari. Hal itu menjadikannya sebagai wisudawan yang lulus dengan masa studi tercepat pada periode I tahun 2025 lalu.

“Kuncinya memang harus tekun dan konsisten. Jadi misalnya, walaupun lagi menghadapi hari-hari yang sulit, tetap harus dijalanin. Dan sadar bahwa nggak semua hari itu happy. Jadi nggak apa-apa, jalan aja terus. Jangan sampai berhenti,” ujar alumnus yang lulus dengan skripsi soal perumahan rakyat di Belanda tersebut.

Trixi juga berpesan bahwa jalan setiap orang tidaklah sama karena memiliki waktu dan tantangannya masing-masing. Dan apa yang dia jalani sekarang, tidak harus sama dengan yang dilalui orang lain.

“Aku disini 3 tahun itu karena memang ada berbagai alasan yang aku pertimbangkan secara pribadi dan aku merasa nggak semua orang harus seperti itu,” ujarnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2026 oleh

Tags: jurusan manajemen dan kebijakan publikKelas Menengahkisah inspiratifperumahan rakyatS1skripsi Manajemen dan Kebijakan PublikUGM
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO
Edumojok

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.