Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menikah dengan Sesama Karyawan Indomaret: Tak Seperti Berumah Tangga Gara-gara Beda Shift Kerja, Ketemunya di Jalan Bukan di Ranjang

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Desember 2025
A A
Drama sepasang pekerja kabupaten (menikah sesama karyawan Indomaret): jarang ketemu karena beda shift, tak sempat bikin momongan MOJOK.CO

Ilustrasi - Drama sepasang pekerja kabupaten (menikah sesama karyawan Indomaret): jarang ketemu karena beda shift, tak sempat bikin momongan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menjalin hubungan sejak SMA, sepasang pekerja kabupaten (Zami (24) dan Masita (24)) akhirnya menikah pada 2024 lalu. Meski menikah dan satu rumah, keduanya terbilang jarang bisa jenak bertemu. Sebab, karena keduanya adalah sesama karyawan Indomaret di sebuah kabupaten kecil di Jawa Tengah, shift kerja yang berbeda kerap kali membuat mereka seperti giliran menjaga rumah: Jika Zami pulang, Masita baru saja hendak berangkat. Begitu sebaliknya.

Menikah diam-diam karena takut bermasalah

Zami dan Masita memang sama-sama tak lanjut kuliah sejak lulus SMA. Masita sempat menganggur terlebih dulu sebelum keterima kerja sebagai karyawan Indomaret kabupaten. Sementara saat itu Zami masih kerja serabutan.

Pada 2023 lalu, baru lah Zami menyusul kerja di gerai mini market berlogo lebah itu. Hanya saja, Zami bekerja di gerai yang berbeda dengan Masita.

Karena merasa sudah menjalin hubungan cukup lama dan punya cukup tabungan dari kerja sebelumnya, dua muda-mudi asal Jawa Tengah itu pun kemudian memutuskan untuk menikah.

“Sejak persiapan nikah itu sebenarnya sudah muncul dramanya. Karena waktunya sering nggak pas. Aku kerja siang, eh dia (Masita) malamnya. Seminggu itu bisa ketemu hari yang bisa pas (sama-sama libur) paling sekali-dua kali,” ungkap Zami, Senin (15/12/2025).

Mereka juga sama-sama sepakat untuk tidak mengaku ke manajer masing-masing. Sebab, meski dalam kontrak tidak ada aturan soal pernikahan, tapi mereka takut status “menikah” itu nantinya akan berpengaruh ke kontrak kerja mereka ke depan.

“Karena kan kalau melamar kerja di Indomaret ada yang pakai syarat ‘Belum menikah’. Asumsinya, karyawan di sana kalau bisa yang lajang,” kata Zami.

Menikah sesama karyawan Indomaret: Tidak ada bulan madu, habis akad langsung kerja

Oleh karena diam-diam itu, Zami dan Masita tidak bisa mengambil cuti lama-lama. Praktis hanya tiga hari mereka cuti. Izin cutinya tentu saja dengan alasan yang dibuat-buat.

Dari tiga hari cuti itu, hari pertama untuk persiapan. Hari kedua (hari H) untuk akad. Kemudian jeda sehari di hari ketiga untuk quality time berdua.

“Nggak ada bulan madu-bulan madu. Setelah itu aku dan istri langsung balik kerja,” ujar Zami.

Hingga saat ini pun, keduanya masih belum sempat merasakan bulan madu. Kalau toh sedang sama-sama libur atau cuti, mereka tidak bisa serta-merta mengagendakan jalan-jalan jauh. Sebab, aturan antara gerai Zami dan Masita berbeda. Sehingga harus disesuaikan.

“Paling ya (healing) yang deket-deket aja. Kalau nggak ya sekadar cari makan bareng, jajan bareng seharian,” jelas Zami.

Menikah sesama karyawan Indomaret: suami pulang, istri berangkat, alhsil ketemuan di jalan

Drama utama hubungan Zami dan Masita setelah menikah masih sama seperti di masa pacaran dulu: Jam shift kerja yang berbeda.

Ketika Zami dapat shift pagi/siang, eh Masita dapat shift sore/malam. Alhasil, ketika Zami baru saja pulang, belum juga sampai rumah, Masita sudah harus tancap gas berangkat.

Iklan

Karena Indomaret kabupaten tempat Masita bekerja tidak buka 24 jam, shift Masita di sore/malam berakhir di jam 10 malam. Ia pulang dan tiba di rumah jam setengah 11 siang.

Sebenarnya Zami kerap masih melek, menunggu kepulangan Masita. Akan tetapi, Masita pulang dalam kondisi energi yang tinggal sisa-sisa. Sehingga tidak bisa berbincang atau quality time lebih lama dengan Zami. Sebab, tak lama kemudian Masita akan tepar di kasur.

“Polanya begitu, muter terus. Bahkan, nggak jarang kami janjian ketemu di jalan. Jadi pas aku pulang dan istri mau berangkat, kami ketemu di titik tertentu. Ya cuma sekadar ketemu, daripada ketemu cuma sebelum tidur dan pagi sebelum aku berangkat kan,” ucap Zami.

Kapan punya anak? Bikin aja nggak sempat

Ada masanya pertengkaran kecil terjadi. Sebab, Zami dan Masita seperti bukan orang yang membina sebuah rumah tangga. Status memang menikah, tinggal di bawah satu atap rumah (meskipun masih numpang di rumah orang tua Zami), tapi yang terjadi mereka justru kerap tidak bisa menikmati waktu sebagai suami-istri.

Tekanan makin berat ketika orang tua, saudara, dan tetangga menggojlok: “Wong kalau kerja yang satu pulang yang satu baru berangkat, kapan sempat bikin anak?”

Memang hanya candaan, tapi amat ngena di Zami dan Masita. Satu sisi mereka juga sama-sama ingin lekas punya anak, tapi di sisi lain mereka harus menghitung realita.

“Apalagi teman-teman seumuran yang sudah menikah, rata-rata juga sudah punya anak,” kata Zami.

“Guyonan soal kami nggak sempet bikin anak karena shift kerja berbeda memang relate. Kami ‘berhubungan’ itu ya disempat-sempatkan hahaha,” ujar Zami. Namun, selain itu, Masita sendiri memang berniat menunda dulu untuk punya momongan.

Alasannya, jika Masita hamil dan melahirkan, ia takut akan kehilangan pekerjaan sebagai karyawan Indomaret. Sebab, nantinya ia akan fokus mengurus anak di rumah.

Kalau toh misalnya pihak manajemen tetap memberi kesempatan Masita untuk kerja, ia malah tidak tega dengan si bayi. Pasalnya, si bayi akan kesulitan menemukan waktu bersama kedua orang tuanya.

“Aku pernah bercandai istriku, ya malah enak, pas aku shift kamu yang jaga (si bayi), pas kamu shift giliran aku yang jaga,” seloroh Zami.

“Kamu kira gampang?!” Jawab Masita ketus.

Pasangan pekerja kabupaten harus sama-sama kerja demi hidup

Masita berprinsip, istri harus tetap kerja untuk membantu suami. Sebab, sebagai pekerja kabupaten, jika hanya mengandalkan gaji dari salah satu saja (dari suami saja misalnya), maka tidak akan cukup untuk hidup sehari-hari.

Sementara kebutuhan makin hari makan banyak, tapi pendapatan sebagai pekerja Indomaret kabupaten hanya segitu-segitu saja. Uang Rp100 ribu nilainya terasa tak lebih dari uang Rp10 ribu.

Jika suami-istri sama-sama bekerja, kata Masita, maka gaji dua orang bisa digabungkan untuk saling backup satu sama lain. Itu lah kenapa ia berat jika harus melepas pekerjaan sebagai karyawan Indomaret hanya untuk punya anak.

“Percuma punya anak tapi kalau memenuhi kebutuhan hidup saja megap-megap,” kata Masita.

Memang tidak menyenangkan: Jam kerja dengan suami tidak sama, masih kena tekanan soal momongan. Tapi Masita mencoba menikmati situasi saat ini. Karena untung dia dan Zami sama-sama produktif: Keluar rumah menghasilkan uang.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: cuti indomaretgaji indomaretgaji indomaret kabupatenIndomaretkaryawan indomaretkaryawan indomaret tidak boleh menikahpekerja kabupatenpilihan redaksisesama karyawan indomaret tidak boleh menikahshift indomaretumr indomaret kabupaten
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kos di Jogja
Catatan

Rasanya Tinggal di Kos “Medioker” Jogja: Bayar Mahal, tapi Nggak Dapat Sinar Matahari

19 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska
Sehari-hari

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

13 Februari 2026
Nyaris dicurigai kumpul kebo di penginapan Jogja saat Valentine. MOJOK.CO

Sisi Gelap Penginapan “Murah” di Jogja, Ramai dan Untung Saat Valentine Berkat Anak Mudanya yang Hobi Kumpul Kebo

14 Februari 2026
Pelajaran hidup dari kereta api (ka) ekonomi MOJOK.CO

Kereta Api Ekonomi Memang Nyiksa Punggung dan Dengkul, Tapi Penuh Pelajaran Hidup dan Kehangatan dari Orang-orang Tulus

13 Februari 2026
Mahashivaratri, festival tahunan yang dirayakan umat Hindu untuk menghormati Dewa Siwa di Candi Prambanan. MOJOK.CO

Hari Suci Terpenting Umat Hindu, Mahashivaratri Perdana Digelar di Candi Prambanan dengan 1008 Dipa Menyala

14 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.