Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Januari 2026
A A
indonesia masters, badminton, bulu tangkis.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Demi menonton Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan, Jakarta, pasangan suami-istri asal Tangerang rela terjebak macet selama tiga jam. Ini adalah turnamen bulu tangkis berskala internasional pertama yang mereka saksikan langsung.

***

Dari kejauhan, kompleks Istora Senayan, Jakarta, tampak biasa saja pada Selasa (20/1/2026) siang itu. Matahari masih menggantung tinggi, memancarkan panas yang menyengat kulit. 

Tidak terlihat antrean yang mengular panjang di depan loket maupun pintu masuk. Pemandangan ini terasa wajar, mengingat ini baru hari pertama babak penyisihan turnamen Daihatsu Indonesia Masters 2026.

Beberapa orang tampak berjalan santai melintasi pelataran. Sebagian lainnya memilih duduk berteduh di pinggir pagar sembari menunduk, sibuk menggulirkan layar ponsel mereka.

Jika seseorang hanya menilai dari suasana halaman depan, hari pembukaan turnamen internasional ini terasa seperti hari kerja biasa di Jakarta: tenang, datar, dan nyaris sepi.

indonesia masters.MOJOK.CO
Suasana di luar Istora Senayan masih tampak sepi di hari pertama babak penyisihan Indonesia Masters 2026, Selasa (20/1/2026) (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Namun, suasana “tenang” itu runtuh seketika saat kaki saya melangkah masuk ke dalam arena.

Begitu pintu akses menuju tribun terbuka, suasana berubah drastis 180 derajat. Hawa sejuk pendingin ruangan bercampur dengan gelombang suara yang memekakkan telinga. 

Teriakan ikonik “Indonesia, Indonesia” langsung menyambut saya. Bergema, susul-menyusul dari berbagai sudut tribun.

Balon tepuk, yang menjadi identitas penonton bulutangkis Tanah Air, dipukul berulang-ulang sehingga gemanya mengisi setiap celah udara di arena yang legendaris ini. 

Sementara di tengah lapangan, atlet tunggal putra Indonesia, Prahdiska Bagas Shujiwo, sedang berjibaku melawan perwakilan Taiwan, Wang Po-Wei.

indonesia masters.MOJOK.CO
Suasana tribun penonton Istora Senayan saat pertandingan babak penyisihan Indonesia Masters 2026, Shujiwo (Indonesia) melawan Wang (Taiwan). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Siang yang tampak lengang dari luar, menjelma menjadi keriuhan yang begitu berisik di dalam. Meskipun kursi-kursi tribun belum sepenuhnya terisi karena masih babak awal, suara penonton yang hadir sudah amat chaos. 

Mereka berteriak, bersorak, dan memberi tekanan, seolah tak mau kalah stamina dengan para atlet yang sedang memeras keringat di lapangan. Saya merasakan kontras itu secara nyata dan langsung: tampak sepi di luar, tapi semarak di dalam.

Pengalaman haru fans layar kaca

Di sela-sela jeda pertandingan, perhatian saya teralihkan dari lapangan ke barisan penonton. Di tribun atas, duduk sepasang suami istri yang wajahnya masih menyiratkan sisa-sisa lelah, tapi tertutup oleh senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.

Iklan

Mereka adalah Edi (42) dan Nur (40), pasangan asal Tangerang, Banten. 

Bagi mereka, duduk di kursi tribun Istora hari ini bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Ini adalah sebuah pencapaian kecil yang harus ditebus dengan perjuangan menembus “neraka” jalanan ibu kota.

“Tadi macetnya luar biasa. Hampir tiga jam di jalan,” ujar Edi kepada saya, yang tengah berjalan menuju musala untuk menunaikan salat Zuhur.

indonesia masters.MOJOK.CO
Nur dan Edi menonton Indonesia Masters di Istora Senayan bersama putrinya. Ini adalah pengalaman pertama mereka nonton turnamen internasional secara langsung. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Normalnya, perjalanan dari Kabupaten Tangerang menuju Senayan melalui tol Tangerang-Merak hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam. Namun, bukan Jakarta kalau jalanan lancar-lancar saja.

Mereka berangkat pukul delapan pagi dengan harapan bisa tiba lebih awal. Sialnya, mereka baru bisa menapakkan kaki di Istora pukul 11.00 siang.

Edi, seorang karyawan swasta yang kebetulan sedang libur kerja, memutuskan mengajak istrinya, Nur, yang sehari-hari adalah ibu rumah tangga, untuk menonton langsung. Mereka bukan penonton “karbitan”. Keduanya adalah pecinta bulutangkis garis keras. 

Pasangan ini mengaku telah mengikuti perkembangan bulutangkis nasional sejak era kejayaan Taufik Hidayat hingga masa kini di era Jonatan Christie.

Namun, selama puluhan tahun itu pula, mereka hanyalah “fans layar kaca”. Dukungan mereka selalu terhalang oleh jarak dan waktu. Sorak-sorai mereka hanya terpantul di dinding ruang tamu rumah.

“Sudah lama sekali ingin nonton langsung turnamen internasional. Tapi ya begitu, selalu tertunda. Kadang karena pekerjaan, kadang karena jarak, atau alasan-alasan kecil lainnya,” ungkap Edi, mengenang niat yang kerap kali gagal terlaksana.

Hari ini, bermodal tiket presale seharga Rp40.000, Edi dan Nur akhirnya berangkat. Mereka memutuskan berangkat tanpa terlalu banyak pertimbangan rumit, meski harus berjibaku dengan kemacetan yang menguji kesabaran.

Atmosfer Istora yang tak bisa dibeli televisi

Duduk di tribun Istora memberikan perspektif yang sama sekali berbeda bagi Edi dan Nur. Di televisi, babak penyisihan kerap terasa datar dan sepi. Kamera sering kali gagal menangkap emosi mentah yang terjadi di arena.

Namun, dari tribun, bahkan pertandingan di babak awal pun terasa begitu hidup.

Setiap reli panjang disambut dengan tepuk tangan yang membahana. Setiap poin yang diraih, atau hilang, memicu sorak spontan yang menyentak dada.

Bulu tangkis, yang selama ini saya dan mereka kenal lewat layar kaca, terasa jauh lebih dekat. 

indonesia masters.MOJOK.CO
Suasana Istora Senayan tetap semarak meskipun perwakilan Indonesia, Shujiwo, kalah dari Wang asal Taiwan di babak penyisihan hari pertama Indonesia Masters 2026. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

“Kalau di TV memang tetap deg-degan, tetap ikut sedih dan emosi kalau kalah. Tapi nonton langsung itu vibes-nya jauh lebih terasa, kami teriak-teriak rasanya nggak capek,” ungkapnya. 

Bagi Nur dan Edi, pengalaman ini membuka mata. Ada rasa puas yang menjalar karena akhirnya bisa melihat dan mendengar sendiri apa yang selama ini hanya hadir secara audio-visual di rumah.

“Suara pukulan kok-nya nyaring banget ternyata,” kata mereka, sambil tertawa. 

Lebih dari itu, mereka akhirnya paham mengapa Istora Senayan dikenal sebagai arena yang “angker” dan intimidatif bagi lawan. Selama ini, mereka hanya mendengar tentang betapa militannya dukungan suporter Indonesia. Hari ini, mereka bukan lagi sekadar pendengar; mereka adalah bagian dari intimidasi itu.

“Biasanya cuma dengar teriakan dari TV, sekarang malah ikut teriak,” ujar Nur, kembali tertawa.

Macet tiga jam tak bikin kapok nonton Indonesia Masters

Daihatsu Indonesia Masters 2026 sendiri akan berlangsung sepanjang pekan, dari tanggal 20 hingga 25 Januari. Ribuan orang akan datang silih berganti. Banyak yang akan mengejar partai semifinal atau final demi melihat para bintang besar mengangkat trofi.

Namun, di tengah sorak-sorai ribuan manusia itu, saya menyadari satu hal penting: di balik kemegahan dan semarak Istora, selalu terselip cerita-cerita kecil yang personal. Cerita tentang pengalaman pertama seperti yang dialami Edi dan Nur.

Mereka adalah representasi dari ribuan pecinta bulutangkis di luar sana yang mungkin masih ragu untuk datang. Orang-orang yang datang bukan semata-mata karena ingin melihat siapa yang juara, tetapi karena ingin merasakan sendiri atmosfer magis yang selama ini hanya menjadi dongeng di layar televisi.

Bagi Edi dan Nur, perjalanan tiga jam menembus kemacetan Jakarta terbayar lunas. Lelah karena duduk berjam-jam di dalam kendaraan tergantikan oleh euforia meneriakkan “Indonesia!” bersama ribuan orang asing yang disatukan oleh kecintaan yang sama.

“Kalau besok masih ada kesempatan, datang lagi. Apalagi final, sepertinya wajib datang biarpun macet lagi,” pungkas Edi.

Hari masih siang, dan babak penyisihan baru saja dimulai. Perjalanan turnamen ini masih panjang. Namun, bagi sebagian penonton di tribun, termasuk pasangan suami istri yang duduk tak jauh dari saya, hari ini sudah lebih dari memuaskan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Januari 2026 oleh

Tags: Badmintonbulu tangkisBWFindonesia mastersindonesia masters 2026istora senayanjakartapilihan redaksiturnamen bulu tangkis
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.