Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Orang Trucuk Klaten Tetap Menikmati Masa Tua Meski Hidup di Kecamatan Termiskin, Bisa Survive Berkat Adanya Kasur Kapuk

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Maret 2024
A A
Orang Trucuk Klaten Tetap Menikmati Masa Tua Meski Hidup di Kecamatan Termiskin, Bisa Survive Berkat Adanya Kasur Kapuk.mojok.co

Ilustrasi Orang Trucuk Klaten Tetap Menikmati Masa Tua Meski Hidup di Kecamatan Termiskin, Bisa Survive Berkat Adanya Kasur Kapuk (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nyaris tak ada kemewahan yang bisa didapat selama tinggal di Trucuk, kecamatan di bagian tenggara Klaten yang berbatasan langsung dengan Bayat, Kalikotes, Cawas, dan Ceper. Hal itulah yang bikin Muhammad Bimas (22) malas buat pulang ke sana, meskipun jarak antara rumah dan kosnya bisa ia tempuh hanya 40 menit dengan mengendarai sepeda motor.

Saya dengan Bimas sudah hampir dua tahun tinggal di kos-kosan yang sama. Makanya, saya tahu kalau dia adalah tipe mahasiswa yang jarang pulang kampung. Dalam dua tahun terakhir saja, jumlahnya pulang ke rumah bisa dihitung jari. Bahkan mungkin jauh lebih sedikit ketimbang keluh-kesahnya tentang Trucuk itu sendiri.

“Enggak ada apa-apa di sana. Mau nyari tempat yang asyik, jauh. Dari mana-mana jauh dan kadang susah sinyal juga,” kata mahasiswa UNY ini, Kamis (21/43/2024), menceritakan alasannya jarang pulkam di sela-sela santap sahur kami.

Tapi sebenarnya Kecamatan Trucuk sendiri bukan tempat yang asing bagi saya. Sebelum mengenal Bimas yang banyak berkeluh-kesah mengenai sulitnya hidup di sana, saya sudah dua kali berkunjung ke Trucuk.

Pertama, pada 2017 lalu, saya mendatangi dua dukuh di sana, Sumber dan Ngrejo, karena kebutuhan tugas kuliah. Kedua, pada 2022 lalu, saat saya liputan buat tempat kerja yang lama tentang keluarga miskin Trucuk yang tinggal di sebuah gubuk reyot. Pada akhirnya, keluh kesah Bimas soal Trucuk membangkitkan memori lama saya soal kecamatan paling miskin di Klaten tersebut.

Ada 47 ribu orang miskin di Trucuk, paling banyak se-Klaten

Selain Bimas,  saya juga sempat berbincang dengan warga Klaten lain, Khonsa Thaqiya (22). Perempuan ini merupakan caleg muda asal PKS, yang pada Pemilu 2024 lalu ikut bertarung di pileg DPRD Klaten. Khonsa, yang tempat tinggalnya di Kalikotes–berbatasan langsung dengan Trucuk–juga mengakui betapa miskinnya kecamatan tersebut.

Melansir data resmi p3ke.kemenkopk.go.id, pada 2023 lalu jumlah keluarga yang menyandang kemiskinan di Klaten mencapai 198.696 jiwa. Fyi, nyaris 10 persen di antaranya ada di Trucuk.

Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan sendiri membagi data kemiskinan di Klaten menjadi beberapa kelompok alias desil. Kategori desil 1 = sangat miskin, desil 2 = miskin, desil 3 = hampir miskin, dan desil 4 = rentan miskin. Di atas desil 4 artinya berkategori mampu.

Nah, setelah saya lihat, di Trucuk sendiri ada lebih dari 13 ribu keluarga miskin. Untuk detailnya, ada 3.123 keluarga di desil 1, dan 3.966 keluarga di desil 2 terdapat. Sementara itu di desil 3 ada 3.966 keluarga hampir miskin dan di desil 4 terdapat 2.954 keluarga.

Adapun untuk angka individu, Trucuk mempunyai 47.654 jiwa yang berada dalam garis kemiskinan. Angka tersebut lah yang bikin Trucuk dinobatkan sebagai kecamatan paling miskin di Klaten.

Sangat sedikit pemuda Trucuk yang lanjut kuliah

Khonsa tak ingin mengomentari lebih jauh soal kehidupan sosial warga Trucuk. Sebab, meskipun tempat tinggalnya berdekatan, dia sangat jarang berinteraksi langsung dengan orang-orang Trucuk.

Namun, jika ia coba membandingkannya, sekilas memang terlihat perbedaan yang kontras antara Trucuk dengan kecamatan lain di Klaten.

“Bukan bermaksud gimana-gimana, ya, Mas. Tapi sekilas memang dari tampilan luar saja, ketika masuk Desa Kalikebo di Trucuk, misalnya, kita udah jarang banget jumpain rumah-rumah gede. Lantainya pun juga belum pakai ubin,” jelas perempuan yang aktif mengajar di Ponpes Hidayah Klaten ini. 

Yang ia tahu juga, tingkat pendidikan di Trucuk juga masih mengkhawatirkan. Kata Khonsa, rata-rata pemuda asli sana hanya tamat SMA. Jelas, ini jauh berbeda dengan kecamatan lain, misalnya, Kalikotes, yang banyak pemudanya kuliah ke Jogja atau Solo. 

Iklan

Berdasarkan data BPS 2022, tercatat memang tak ada pemuda lulusan sekolah di Trucuk yang melanjutkan kuliah. Kebanyakan mereka, yang merupakan lulusan SMK Negeri 1 Trucuk–satu-satunya sekolah jenjang SMA/SMK di sini–langsung lanjut kerja. 

Bimas sendiri sebenarnya adalah kasus unik. Boleh dibilang, ia adalah sedikit dari orang Trucuk yang bisa kuliah. Itupun, Bimas bukan asli Trucuk alias hanya pendatang. Masa kecilnya hingga SMA dia habiskan di Lampung. 

Hidup dalam stigma malas dan kriminal

Ketika saya berkunjung ke Trucuk pada 2017 lalu, satu hal yang paling saya ingat adalah stigma malas dan kriminal yang tersemat pada warganya. Bahkan, hal ini sudah berjalan sejak 1980-an. Tapi sekali lagi, yang namanya stigma benar atau tidaknya tetap bikin susah warga lain yang kena getahnya.

Hendro (53), misalnya, salah satu warga Dukuh Sumber yang cukup terganggu dengan stigma tersebut. “Orang sini dibilangnya kalau ke sawah itu siang-siang karena orangnya males,” kata dia. “Sama kalau ada maling, gali, yang kabur, pasti orang-orang langsung nunjuknya juga warga sini, Mas,” sambungnya.

Padahal, hal tersebut tidaklah benar. Setengah abad Hendro hidup di Trucuk, belum sekalipun ia melihat tetangganya malas-malasan atau berbuat kriminal. Yang ada, orang-orang di sana tetap berusaha survive di tengah keterbatasan. Salah satunya dengan memproduksi kasur kapuk.

Orang Trucuk Klaten Tetap Menikmati Masa Tua Meski Hidup di Kecamatan Termiskin, Bisa Survive Berkat Adanya Kasur Kapuk.mojok.co
Bapak-bapak di Dukuh Ngrejo, Kecamatan Trucuk, bersiap menjual kasur kapuk hasil produksi mereka (dok. pribadi/Ayuningtyas)

Menikmati masa tua dengan membuat kasur kapuk

Setiap harinya, warga di Sumber dan Ngrejo membuat banyak produk dari kapuk. Ada yang bikin kasur ranjang, kasur lantai, bantal, dan guling. Produk-produk ini biasanya mereka pasarkan ke kota-kota tetangga, seperti Jogja, Solo, sampai ke Wonogiri.

“Kalau nunggu musim panen padi, ibu-ibu di sini sudah bikin kasur sejak subuh. Bapak-bapak yang tugasnya jual. Ada yang pakai motor ada juga yang dipikul,” kata Hendro. “Lantas malas dari mana, orang kami kerja sejak subuh.”

Hendro juga mengakui, melalui aktivitas kerja ini orang-orang Trucuk pada akhirnya bisa menikmati masa tua mereka. Membuat kasur kapuk bersama teman-teman seusia mereka, sambil ngobrol seharian, tanpa perlu pusing memikirkan stigma orang. Menurut Hendro, kemewahan ini tak bisa dirasakan semua orang.

“Miskin uang itu bisa dicari. Yang susah ketemu itu ya senang di masa tua begini, Mas. Ngumpul bareng yang lain sambil melakukan hal berguna. Jarang ada orang yang diberi nikmat begini,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Jatinangor Town Square, Lambang Kemajuan Sumedang yang Jadi Andalan Mahasiswa Bidikmisi Buat Nggembel tapi Tetap Keren

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2024 oleh

Tags: kecamatan termiskinkecamatan trucukkecamatan trucuk kabupaten klatenklatentrucuk
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO
Sosok

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co
Pojokan

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO
Kilas

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

19 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.