Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Program Pasang CCTV Untuk Cegah KDRT Itu Ngawur, Tak Sentuh Inti Persoalan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 November 2024
A A
Program Pasang CCTV Untuk Cegah KDRT Itu Ngawur, Tak Sentuh Inti Persoalan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Program Pasang CCTV Untuk Cegah KDRT Itu Ngawur, Tak Sentuh Inti Persoalan (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Angka kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Sleman, DIY, masih sangat tinggi. Sayangnya, solusi yang ditawarkan oleh paslon yang bertarung di Pilkada 2024 ini sama sekali tak menyentuh inti persoalan.

Berdasarkan data yang dihimpun Mojok dari berbagai sumber, ada 400 lebih kasus kekerasan yang dialami perempuan di Sleman dalam setahun terakhir. 214 di antaranya adalah KDRT dan 208 kasus lain kategori non-KDRT. 

Isu ini pun menjadi pembahasan serius dalam Debat Publik Putaran Kedua Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Sleman, yang ditayangkan secara live di kanal YouTube KPU Sleman, Minggu (3/11/2024) malam. Kedua cawabup pun saling beradu argumen untuk menuntaskan persoalan ini.

Program pasang CCTV di kampung-kampung

Dalam kesempatan tersebut, Cawabup Sleman nomor urut 1, Sukamto, mengaku bahwa penanganan KDRT sudah ada Perda yang mengaturnya. Namun, hal itu masih banyak kekurangan karena belum banyak orang tahu.

Maka, pihaknya sebisa mungkin akan gencar mensosialisasikan perda tersebut, agar semakin banyak orang teredukasi.

“Sekarang kembali lagi, harus kita sosialisasikan ke masyarakat [perda]. Jadi karena mereka tidak tahu, nah ini yang perlu kita sosialisasikan lagi,” ujar Sukamto.

Selain itu, pasangan dari bupati petahana, Kustini Sri Purnomo ini mengatakan, program yang akan mereka jalankan adalah pengaktifkan CCTV di kampung-kampung. Sukamto berharap pengaktifan CCTV ini mampu menjadi pemantau jika terjadi kekerasan yang dialami perempuan, khususnya KDRT.

“Sleman ini kan jadi rumah bersama. Pemerintah, dalam hal ini kami akan membuat CCTV kampung yang ikut menjadi pengawasan dari kasus kekerasan,” tambah Sukamto.

Bukan solusi karena tak menyentuh inti permasalahan KDRT

Ketua Pelaksana Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) DIY, Sari Murti Widyastuti, memberi komentar terkait solusi yang ditawarkan salah satu paslon tersebut. Menurutnya, program tadi bukanlah solusi karena sama sekali tak menyentuh inti persoalan.

Dia menjelaskan, KDRT adalah bentuk kasus kekerasan yang sifatnya domestik. Artinya, kerap terjadi di dalam rumah dan dilakukan oleh orang-orang terdekat seperti suami.

“Makanya, cukup aneh mengapa mau pasang CCTV di lingkungan kampung, sementara hampir semua kasus KDRT terjadi di dalam rumah,” ujar Sari Murti saat dihubungi Mojok, Senin (4/11/2024) sore.

Menurut dosen hukum Universitas Atmajaya Jogja ini, jika memang serius mengatasi kasus KDRT, maka selaiknya harus diselesaikan mulai dari hulunya. Dalam hal ini adalah memastikan laki-laki tidak menjadi pelaku mengingat sebagian besar kasus dilakukan oleh suami.

“Menurut saya, faktor ekonomi, misalnya, itu hanya pemicu lain. Masalahnya tetap di pelaku. Makanya, penting memastikan bahwa sebelum menikah, mempersiapkan mental itu penting,” imbuhnya.

Penguatan instrumen hukum lebih penting

Alih-alih memasang CCTV di kampung-kampung, Sari Murti menganggap bahwa solusi terbaik untuk mengatasi kasus KDRT adalah penguatan instrumen hukum. Mulai dari pelaporan, penanganan, sampai pendampingan korban.

Iklan

“Mengapa penting, sebab instrumen memang sudah ada, tapi praktiknya yang tidak maksimal. Contoh, masih banyak istri yang baru mau melapor saja malah diabaikan. Ada juga yang sudah melapor, tapi kasus tak ditangani,” jelasnya.

“Bagaimana kasus mau ditangani, kalau suara korban saja tidak didengarkan?,” tegas Sari Murti.

Apa yang disampaikan Ketua Pelaksana FPKK DIY itu diafirmasi oleh Yuli (25), bukan nama sebenarnya. Ia merupakan salah satu korban KDRT yang kasusnya sempat mencuat pada 2022 lalu.

Kala itu, Yuli melaporkan suaminya karena sudah beberapa kali melakukan kekerasan kepadanya. Sejak Januari-April 2022, dia mengaku lebih dari tiga kali mendapat pukulan dari suami. Dua kejadian masih ditolerir, tapi karena tidak kuat, Yuli akhirnya melapor.

“Melapor ke polisi, tapi malah disalah-salahin, katanya istri-istri yang kudu memahami suami. Padahal saya waktu itu udah menunjukkan bukti kekerasan, termasuk luka-luka memar,” jelasnya kala dihubungi Mojok, Selasa (5/11/2024).

Akhirnya, atas rekomendasi saudaranya, Yuli memutuskan mencari pendamping hukum dan pemulihan psikis. Kendati kasus tak pernah terselesaikan, kini dia mengaku lega karena sudah terbebas dari sikap toxic sang suami. Awal 2023 lalu, Yuli memutuskan bercerai.

“Jadi, waktu Masnya ngasih tahu soal program CCTV itu, apalah itu. Kalau itu buat ngatasin klitih, curanmor, gitu masih oke. Tapi kalau KDRT, mending diem aja daripada ngomong ngawur,” pungkasnya, geram.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Jogja Darurat KDRT, Ironisnya Hanya Sedikit yang Diproses Hukum

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 6 November 2024 oleh

Tags: KDRTKekerasan Dalam Rumah Tanggakekerasan pada perempuanPilkada 2024pilkada sleman
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Solo Fighter PDIP vs Keroyokan di Kandang Banteng, Pilkada 2024.MOJOK.CO
Kabar

Solo Fighter vs Keroyokan di Kandang Banteng, Benarkah Jateng Tak “Merah” Lagi? 

29 November 2024
Pesan Damai untuk Pilkada Jogja, Hasto Wardoyo: Kita Ini Lomba Lari, Bukan Tinju. MOJOK,CO
Kilas

Pesan Damai untuk Pilkada Jogja, Hasto Wardoyo: Kita Ini Lomba Lari, Bukan Tinju!

23 November 2024
Calon Bupati Sleman, Harda Kiswaya Tegaskan Akan Atasi Masalah-masalah Sleman MOJOK.CO
Kilas

Pertemuan dengan Komunitas Nusantara Sleman: Kesigapan Harda Kiswaya Atasi Masalah Ternyata Sudah Tak Diragukan

19 November 2024
Wujudkan Mimpi Anak Kota Jogja Mentas di Timnas, Hasto Komitmen Perbanyak Fasilitas Sepak Bola.MOJOK.CO
Olah Raga

Wujudkan Mimpi Anak Kota Jogja Mentas di Timnas, Hasto Komitmen Perbanyak Fasilitas Sepak Bola

15 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.