Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kopi Rahtawu: Ketika Sampah Tak Bernilai Menjadi Emas bagi Petani Kopi di Lereng Muria

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Juli 2025
A A
petani kopi rahtawu kudus jawa tengah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kopi Rahtawu: Ketika Sampah Tak Bernilai Menjadi Emas bagi Petani Kopi di Lereng Muria (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kopi robusta mengepulkan aroma khasnya di udara siang yang sejuk, khas kawasan lereng pegunungan. Ia mengiringi hangatnya obrolan saya bersama Wijanarko (32), seorang petani kopi asal Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. 

Secangkir kopi robusta racikan Wijanarko yang disuguhkan langsung setelah kedatangan saya, seolah menjadi penawar lelah dari perjalanan menanjak lereng Gunung Muria. 

Di tengah percakapan, sesekali pandangan saya terlempar ke arah halaman. Di sana, beberapa warga desa terlihat sibuk dengan aktivitas menjemur biji kopi yang baru saja dipanen. Bagi saya, itu menciptakan pemandangan yang tak hanya menawan, tetapi juga menggambarkan denyut kehidupan di sentra penghasil kopi ini.

“Di sini, Mas, semua menanam kopi. Kopi itu sumber penghidupan,” ungkap lelaki yang akrab disapa Narko itu, Selasa (15/7/2026), sambil sesekali menghisap kretek-nya.

petani kopi kudus jawa tengah.MOJOK.CO
Narko, petani kopi Rahtawu yang mendapatkan berkah berkat kompos hasil olahan sampah organik. Foto diambil pada Selasa (12/7/2025)

Desa Rahtawu, yang terletak di lereng Gunung Muria, memang dikenal sebagai salah satu produsen kopi berkualitas di Jawa Tengah. Sementara Wijanarko sendiri telah mendedikasikan hidupnya untuk mengolah biji-biji kopi ini sejak ia masih belia. 

Dulu, orang Rahtawu “takut” menjadi petani kopi

Kendati sejak belia sudah akrab dengan kopi, sebenarnya Wijanarko tak pernah terbesit untuk nyemplung menjadi petani kopi. Alasannya sederhana: harga kopi kala itu masih sangat rendah, tidak cukup buat hidup.

“Pilihannya kalau nggak menjadi petani jagung, ya merantau, Mas,” ungkapnya.

Alhasil, setelah lulus SMA di salah satu sekolah Muhammadiyah, Narko memutuskan buat bertani jagung saja. Mata pencaharian yang juga digeluti oleh warga lain di Desa Rahtawu. 

petani kopi.MOJOK.CO
Petani kopi di Desa Rahtawu terlihat sedang menjemur biji kopi yang baru saja dipanen. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Namun, kata Narko, bertani jagung ternyata terlalu rumit dan hasilnya kerap tidak sesuai harapan. Masa panennya singkat, hasil panen pun kecil nilai jualnya.

Situasi sulit itulah yang akhrinya membawa Narko buat menghidupkan lagi kebun kopi. Warisan leluhur yang dulu sempat menjadi tumpuan hidupnya, tapi perlahan memudar pesonanya.

Revolusi kopi Rahtawu

Narko pun berpikir, sebenarnya apa sih yang bikin hasil panen kopi di desanya cuma gitu-gitu aja. Dalam artian, hasilnya pas-pasan; sekali panen cuma cukup buat balikin modal awal.

Ia pun menemukan jawabannya.

 

petani kopi.MOJOK.CO
Narko, petani kopi Rahtawu, tengah memetik kopi di kebunnya. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Jadi dulu, sistem tanam kopi di Desa Rahtawu itu masih menggunakan metode bernama “lancuran”. Yakni tanaman tumbuh tinggi ke atas dengan sistem tumpang sari. Padahal, kopi ditumpang bersama tanaman lain dalam lancuran, kudu bersaing dalam mendapatkan unsur hara, air, dan sinar matahari. 

Iklan

“Nah, ini, Mas, yang menyebabkan pertumbuhan tanaman kopi terhambat dan hasil panen menurun,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa perawatannya pun juga belum seintensif sekarang. 

Lantas, setelah “berguru” ke berbagai tempat, ia menyadari bahwa cara terbaik agar hasil panen melimpah adalah dengan sistem sambung pucuk. Jadi, dua bagian tanaman kopi: batang atas (entres) dan batang bawah (bibit semai) disambung.

Soal perawatan, ia juga lebih sering memangkas cabang-cabang baru agar nutrisi dari pupuk fokus ke bunga dan buah. Bukan ke batang.

“Dengan sistem ini, hasil panen menjadi lebih banyak, Mas,” ungkapnya. 

Wijanarko, kopi kandang.MOJOK.CO
Narko, petani kopi Rahtawu, tengah memamerkan produk olahan kopi yang ia beri merek ‘Kopi Kandan’. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Gayung pun bersambut. Di saat hasil panen kopinya melimpah, terjadi juga lonjakan pembeli dalam lima tahun terakhir. Kalau dulu pembeli hanya pengepul lokal di sekitar Kudus dan Pati, kini, kata Narko, “udah pengepul besar sampai luar Jawa kayak Kalimantan.” 

Belum lagi, kini harga kopi juga sudah gila-gilaan. Kalau dulu harga biji kopi cuma berkisar Rp10-15 ribu per kilo, kini harganya stabil di antara Rp50-85 ribu per kilo untuk green bean.

“Apalagi kopi itu masa panennya lama, Mas, bisa lebih dari empat bulan masih metik,” ujarnya. “Dalam setahun, kalau hasil penjualan Rp100 juta itu dapat lah.”

Kompos olahan sampah organik rumah tangga, kunci lain panen melimpah

Narko juga bercerita mengenai kunci lain dari melimpahnya hasil panen kopi dalam lima tahun terakhir: kompos olahan sampah organik rumah tangga. Padahal, warga Rahtawu awalnya tak terlalu familiar dengan kompos, tapi lebih sering memakai kohe (kotoran hewan).

“Kohe itu ternyata juga mudah jamuran. Nah, jamur-jamur itu sering banget bikin pertumbuhan pohon kopi terhambat,” kata dia.

pupuk kotoran hewan, ternak.MOJOK.CO
Narko, petani kopi Rahtawu, tengah memberi makan kambingnya. Dulu, sebelum ada kompos, ia menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk alami. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Untungnya, sejak 2019, Narko dan warga Rahtawu lainnya mengikuti program konservasi Gunung Muria yang digagas oleh Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Tujuannya, adalah untuk menghijaukan kembali Gunung Muria dengan varietas lokal—yang kalau di Rahtawu adalah kopi.

Setelah mengikuti program ini, warga desa, termasuk Narko, mendapatkan bibit buah dan kompos secara gratis. Wijanarko bahkan bisa meminta kompos sebanyak yang ia butuhkan, cukup dengan menghubungi pihak pemberi.

petani kopi rahtawu kudus jawa tengah.MOJOK.CO
Sejumlah petani kopi Rahtawu sedang mengecek pupuk kompos organik yang disimpan dalam ruang penyimpanan seperti lumbung. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

“Kalau habis, tinggal minta. Gratis, Mas. Tahun ini saja saya dapat 300 karung,” kata Narko.

Mojok sendiri berkesempatan mendatangi Pengolahan Organik (PPO) Oasis Kretek Factory di Kabupaten Kudus pada Selasa (15/7/2025) pagi. Pantauan Mojok, di sana terdapat puluhan ton sampah organik mulai dari sisa makanan, dedaunan, hingga batang boton yang nantinya bakal diolah menjadi kompos.

Terlihat juga sejumlah petugas tengah menurunkan sampah-sampah organik dan memasukkannya ke sebuah mesin cacah raksasa. Setelah proses pencacahan selesai, sampah organik itu akan dicampur dengan bakteri baik agar berubah menjadi pupuk organik.

Pupuk organik itulah yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat secara cuma-cuma. Termasuk Narko dan warga Kudus lainnya.

PPO BLDF.MOJOK.CO
Eskavator di PPO BLDF memasukkan sampah organik ke dalam mesin penggilingan. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Dari warga Kudus, untuk warga Kudus

Mojok juga disambut Timothy Ariel Saputra selaku staf Community Development PPO Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Ia menjelaskan bahwa sampah-sampah organik ini memang disetorkan dari rumah tangga, rumah makan, sekolah, hotel, pasar, bahkan pondok pesantren. 

“BLDF memang secara khusus menggandeng mereka sebagai mitra,” ujar Timothy.

Ia juga menambahkan, dengan adanya program ini, masyarakat diajak untuk lebih aktif memilah sampah organik dan nonorganik. Sebab, mereka bisa mendapatkan manfaat langsung dari pemilahan sampah organik itu.

“Secara prinsip, kompos ini ya dari warga kembali ke warga lagi,” jelasnya. 

PPO BLDF.MOJOK.CO
Petugas PPO BLDF sedang membasahi gilingan sampah organik dengan cairan bakteri baik. Nantinya pupuk organik yang sudah siap bakal dibagikan secara cuma-cuma kepada warga Kudus, di antaranya para petani kopi Rahtawu. Foto diambil pada Selasa (15/7/2025). (Mojok.co/Eko Susanto)

Tak jauh dari PPO Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF), ada juga Pusat Pembibitan Tanaman. Di sana, ribuan bibit pohon dibudidayakan menggunakan kompos dari pengolahan sampah tadi. 

Bibit pohon ini meliputi eboni, trembesi, asam jawa, dan berbagai tanaman lainnya. Setelah tumbuh besar, bibit pohon ini akan ditanam di lahan-lahan kritis. (*)

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Membakar Sampah Residu dengan Tetap Ramah Lingkungan Ala Kudus, Biar Tak Numpuk di TPA atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2025 oleh

Tags: gunung muriajawa tengahkopi muriakopi rahtawukuduskudus jawa tengahpetani kopipetani kopi rahtawupetani kopi rahtawu kudus jawa tengahpilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Andai Ibu tidak menikah dengan ayah.co
Seni

“Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 

11 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO
Catatan

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

Saya Benci Setengah Mati, Gudeg Jogja Menjadi Simbol Hidup Tak Bertanggung Jawab tapi Sering Menyelamatkan Saya Semasa Kuliah

6 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.