Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jadi Petani Bawang Merah di Kulon Progo Lebih Menyenangkan daripada Jadi TKI di Malaysia

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
5 Januari 2024
A A
Jadi Petani Bawang Merah di Kulon Progo Lebih Menyenangkan daripada Jadi TKI di Malaysia MOJOK.CO

Ilustrasi Jadi Petani Bawang Merah di Kulon Progo Lebih Menyenangkan daripada Jadi TKI di Malaysia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pensiun jadi TKI di Malaysia pilih jadi petani bawang merah

Sebelum memutuskan menjadi petani, Sunardi jadi TKI di Malaysia. Ia bekerja di perusahaan plywood atau perusahaan pengolahan kayu. Pekerjaan itu ia tekuni dari tahun 2007 hingga 2012. Iming-iming ringgit nyatanya tak membuatnya bertahan lebih lama di Malaysia.

“Pingin mandiri, Mas. Pekerjaannya berat, 12 jam kerja di pabrik,” kata Sunardi.

“Lho bukannya jadi petani lebih berat?” tanya saya.

“Ya berat, Mas, tapi kalau seneng kan nggak kerasa,” kata Sunardi tertawa. 

Bagi Sunardi, petani bukan sekadar pekerjaan. Petani adalah bagian dari hidupnya. “Bapak saya juga petani, dia menanam semangka,” kata Sunardi. 

Jadi Petani Bawang Merah di Kulon Progo Lebih Menyenangkan daripada Jadi TKI di Malaysia MOJOK.CO
Sunardi di lahan persawahan yang ia olah, Kamis (4/01/2024). Ia menjadi buruh harian lepas di sela-sela mengolah lahan bawang merah di Kulon Progo. (Agung P/Mojok.co)

Sunardi tidak memungkiri, banyak anak muda yang kini enggan mengolah sawah. Banyak yang memilih kerja kantoran atau jadi buruh pabrik. “Ya kalau kerja seperti itu kan dapat gaji tetap setiap bulan, kalau bertani kadang nggak tentu,” kata Sunardi.

Hal senada pernah diungkapkan oleh narasumber Mojok, Saiman (67) petani di Argorejo, Sedayu, Bantul. Ia yang sudah menyerahkan lahan sawahnya kepada anak-anaknya harus menelan kenyataan pahit. “Sawah-sawah yang sudah saya kasih ke anak untuk diolah dikembalikan ke saya. Mereka nggak sanggup untuk mengolahnya, pilih kerja kantoran,” kata Saiman. 

Saiman sebenarnya memberi solusi pada anak-anaknya agar tidak mengganggu pekerjaan kantoran mereka. “Sebenarnya bisa mengolah sawah itu pagi hari sebelum berangkat kerja,” tapi mereka tidak mau. 

Kunci jadi petani, senang dan jangan terpaksa

Saiman menunjukkan lahan persawahan yang tidak digarap oleh pemiliknya. Para pemilik itu memilih untuk menyewakan lahan, termasuk ke dirinya. “Jiwa saya kan petani, Mas, eman-eman kalau lihat ada lahan kosong,” katanya saat itu.

Sunardi menegaskan bahwa baginya bertani itu bukan terpaksa. Namun, karena memang susah menjadi bagian hidupnya. Di sisi lain memang banyak nak muda yang tidak mau bertani, tapi menurutnya tidak sedikit juga yang menjadikan pertanian sebagai bagian hidupnya. 

Di tempatnya tinggal, tidak sedikit anak-anak muda yang memilih bertani dengan serius. Lahan yang sedang ia kerjakan untuk ditanami buah melon milik tetangganya yang menyewa tanah. “Tetangga sewa setahun untuk melon. Nah, tenaga buruhnya ya teman-teman dan tetangganya sendiri,” kata Sunardi. 

Hal yang sama juga ia lakukan ketika mengolah lahan persawahannya yang ia tanami bawang merah. “Jadi petani itu ya menurut saya sih menyenangkan,” katanya tertawa. 

Bagi Sunardi, pekerjaan apa pun pasti punya tantangan. Bagi petani bawang merah seperti dirinya, tantangannya tentu saja di harga pupuk dan kalau ada bawang merah impor. Namun, selama ia menjadi petani, masalah-masalah tersebut relatif bisa bisa ia tangani.

Sebagai petani, Sunardi bukan hanya mengandalkan otot, tapi juga otak. Begitu juga dengan teman-temannya yang berani menyewa sawah. Ia berhitung, tanaman apa yang sekiranya bisa cocok untuk ia tanam di lahan dekat rumahnya dan menguntungkan. 

Iklan

“Kalau saya tanam cabai, itung-itungan saya nggak masuk. Saya pilih bawang merah karena tiap panen pasti laku, perputaran uangnya juga cepat,” kata Sunardi menunjuk tanaman cabai yang tak jauh dari lahan yang tengah ia olah.

Kulon Progo sendiri menjadikan bawang merah sebagai salah satu produk unggulan pertanian. Salah satu varietas bawang merah yang dikembangkan adalah Srikayang yang merupakan bawang merah asli dari wilayah Kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Jeritan Petani di Sedayu yang Anak-anaknya Nggak Mau Mengolah Sawah di Jogja

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2024 oleh

Tags: bawang merahKulon Progopetanipilihan redaksi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO
Urban

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO
Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Solusi atas Jeritan Hati Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Kuliah menjadi mahasiswa di PTN PTS Malang bikin merasa tersesat karena fenomena menginapkan pacar di kos hingga kumpul kebo MOJOK.CO

Kuliah di Malang karena Label Kota Pelajar: Berujung “Tersesat” karena Menormalkan Perilaku Tak Wajar Mahasiswa

4 Mei 2026
Mayday 2026: Buruh tuntut 8 poin. MOJOK.CO

8 Tuntutan “Jujur” Buruh di Mayday 2026: Ciptakan Lapangan Kerja, Kendalikan Dampak AI, hingga Lindungi Pekerja Platform Digital

2 Mei 2026
Ancaman "Indomi" bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma MOJOK.CO

Ancaman “Indomi” bagi Generasi Muda Minang: Ketika Inyiak Berubah Jadi Opa dan Oma

4 Mei 2026
papua.MOJOK.CO

Harga yang Harus Dibayar dari Pembangunan di Papua: Hutan Rimbun Diratakan Alat Berat, Alam dan Masyarakat Adat Terancam

3 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.