Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pariwisata Bikin Warga Jogja Terasing dan Terancam di Kota Sendiri

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Februari 2025
A A
Pariwisata Jogja.Pariwisata Bikin Warga Jogja Terasing dan Terancam di Kota Sendiri.MOJOK.CO

Ilustrasi Pariwisata Bikin Warga Jogja Terasing dan Terancam di Kota Sendiri (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Suka tidak suka, Jogja dikenal sebagai kota pariwisata favorit para turis. Namun, suka tidak suka juga, pariwisata menjadi bom waktu yang mengancam kehidupan warga aslinya.

“Tourisme kill the City. Pariwisata membunuh Kota Jogja. Sulit buat dibantah,” kata Aceng, yang meminta namanya buat disamarkan, pada akhir 2024 lalu. 

Iklan

Aceng merupakan warga asli Jogja yang tergabung dalam Lamidet Society atau LSYK, sebuah kolektif sub-suporter yang aktif dalam gerakan perlawanan atas pembangunan yang berketidakadilan di Jogja. Khususnya pariwisata, yang bagi Aceng dan kawan-kawannya, dipandang lebih banyak mudharat-nya.

“Kami tak membenci pariwisata, apalagi benci Jogja. Kami hanya mengkritik kebijakan pemerintah yang sama sekali tak memihak warga lokal. Overtourism salah satunya.”

Pariwisata maju, tapi warganya miskin

Libur Nataru kemarin adalah penyadaran bagi Aceng. Jogja semakin ramai diserbu wisatawan. Gelombang kendaraan plat luar kota yang masuk Jogja memadati jalanan hingga bikin kemacetan tak karuan panjangnya.

Menukil data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) DIY pada Senin (3/2/2025), jumlah wisatawan dalam negeri yang berkunjung ke DIY sepanjang 2024 mencapai 38,03 juta perjalanan. 

Jumlah itu merupakan yang tertinggi dalam enam tahun terakhir. Ia bahkan mengalami peningkatan signifikan sebesar 24,95 persen dari tahun sebelumnya.

Catatan yang sama juga menunjukkan tingkat okupansi hotel berbintang pada Desember 2024 sebesar 70,24 persen, sementara hotel nonbintang sebesar 31,28 persen.

“Tapi, kami dapat apa. Cuma dapat macetnya. Pemasukan? Ya larinya ke pejabat-pejabat, warga asli seperti kami dapat remahan saja,” tegas Aceng.

Ironisnya, meski menjadi jujugan wisata favorit, Jogja didaulat sebagai provinsi termiskin di Pulau Jawa, menurut data BPS pada Maret 2024. Jumlah penduduk miskin di Jogja mencapai 445.550 orang.

Pariwisata Jogja malah bikin warganya terasing

Bagi Aceng, ironi tersebut adalah bukti bagaimana klaim “pariwisata menjadi mata uang di Jogja” adalah mitos. Di balik ingar-bingar pariwisata, kemiskinan dan kesenjangan masih mengintip dari rumah-rumah sempit warga aslinya.

“Pertanyaan kemudian, siapa yang akhirnya diuntungkan? Rakyat kecil? Nggak ada. Tetap yang tambah kaya hanyalah yang punya kuasa,” ungkap Aceng.

Mojok sendiri juga pernah menulis cerita Fandi, pemuda asli Jogja yang resah dengan pariwisata Jogja. Ceritanya dapat dibaca dalam liputan “Mereka yang Memilih Menyingkir dari Keramaian Jogja saat Libur Nataru”.

Dalam tulisan tersebut, sebagai warga asli Jogja, Fandi membantah beberapa mitos berkaitan pariwisata Jogja. Sebagai misal, klaim bahwa “tsunami wisatawan bakal menguntungkan UMKM lokal”.

Baginya, klaim ini cuma pepesan kosong. Sebab, ibunya yang merupakan pengusaha UMKM, belum pernah yang namanya ketiban durian runtuh saat Jogja ramai diserbu wisatawan.

“Pertama, harus dilihat dulu UMKM yang banyak itu apakah punya orang asli Jogja. Apakah yang punya usaha menyerap tenaga kerja orang asli sini? Kan nggak, kebanyakan orang asing,” kata Fandi, saat berbincang dengan Mojok, Jumat (27/12/2024) lalu.

“Lantas, siapa yang diuntungkan? Orang luar dan pejabat. Kami jadi penonton saja.” 

Kebijakan yang tak menyasar kesejahteraan rakyat

Ada penjelasan masuk akal mengapa di balik gemerlap pariwisata Jogja, nyatanya masih banyak warga miskin yang–kalau mengutip kata Fandi–cuma jadi penonton.

Iklan

Menurut Kepala Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM, Mohamad Yusuf, ini terjadi karena model kebijakan pariwisata yang diterapkan oleh Pemda DIY itu sendiri.

Misalnya, seperti yang dijelaskan Yusuf, orientasi pemda cuma memandang pariwisata sekadar untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). 

“Padahal, PAD tidak berhubungan langsung dengan pengentasan kemiskinan,” kata dosen Departemen Antropologi FIB UGM ini.

Selain itu, Yusuf juga memandang bahwa warga lokal jarang dilibatkan. Paling kentara di Malioboro, pusat pariwisata DIY itu, yang malah warga lokalnya jarang melakukan aktivitas perekonomian di sana.

“Bahkan, pemilik hotel dan restoran di DIY pun sebagian besar bukan warga lokal. Ini yang disebut dengan leakage in tourism, kebocoran pariwisata. Keuntungan ekonomi malah ke luar Jogja.”

Yusuf juga menilai bahwa faktor lain juga karena geliat desa wisata di Jogja masih terpusat pada kalangan elite. Alhasil, warga lokal yang mendapat keuntungan dari desa wisata pun dapat dihitung jari.

Pariwisata Jogja mengancam sumber air warga

Pada Senin (20/1/2025) lalu, Mojok juga memuat liputan berjudul “Jogja Krisis Air, Pemerintah Malah Bikin Proyek yang Menghambat Sumber Air”. Liputan ini memberi unjuk bahwa Jogja tengah mengalami krisis air.

Hal ini disampaikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X melalu sambutannya dalam acara penanaman 1.000 pohon langka di Nawang Jagad, Sleman.

“Kami sudah tidak mungkin lagi untuk bisa mendapatkan air dari Merapi, kecuali yang berada di sebelah timur yang sekarang masih berfungsi,” ucap Sultan, mengakui sejak erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, ketersediaan air dari lereng semakin menipis.

Sementara peneliti Lingkar Keadilan Ruang, Toto Sudiarjo, menyebut bahwa krisis air di lereng Merapi terjadi akibat praktik pertambangan ilegal untuk material batu dan pasir yang masih masif. 

“Kondisi ini memperparah kekeringan di Jogja dari tahun ke tahun,” jelas Toto.

Krisis air di lereng Merapi memperparah krisis yang sebelumnya sudah terjadi di daerah lain, seperti Gunungkidul. Toto menjelaskan, pembangunan untuk percepatan proyek 10 Bali Baru di Jogja telah merusak daerah resapan air di Gunungkidul. Telaga-telaga alami yang dikelilingi bukit karst dan pohon-pohon penyimpan air, banyak yang dibongkar untuk pembangunan jalan raya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ironi Jogja, Kota Gudeg yang Kekurangan Bahan Baku Gudeg atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2025 oleh

Tags: DIYJogjakemiskinan jogjapariwisata jogjawisata jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan.MOJOK.CO

Khotbah Bunyi-bunyian Senyawa di Candi Prambanan

26 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.