Tali berwarna biru itu ditarik perlahan. Kunci yang mengganjal pintu terlepas, dan kandang kayu yang dilapisi jaring seketika terbuka.
Sejenak, Elang Jawa di dalamnya terdiam. Kepalanya menoleh, matanya menyapu sekeliling. Hutan di depannya terbentang hijau dan sunyi, seolah menunggu keputusan terakhir.
Detik berikutnya, sayapnya mengepak kuat. Udara terbelah. Tubuh cokelat keemasan itu terangkat dan melesat. Ia sempat terbang ke sisi kiri, sebelum akhirnya berbelok ke arah kanan, menukik tajam, lalu menghilang di balik kanopi pepohonan.
Pelepasliaran, yang dilakukan di Danau Situ Gunung, kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Sabtu (13/12/2025) itu selesai dalam hitungan detik. Namun, bagi para peneliti, justru di situlah cerita dimulai.

Di punggung Elang Jawa yang diberi nama “Raja Dirgantara” itu, terpasang sebuah alat kecil. Ringan, nyaris tak terlihat dari kejauhan. Bukan untuk menahan, bukan pula untuk mengikat.
Alat itu dilekatkan agar manusia dapat tetap “mengikuti” perjalanan seekor predator yang kini kembali sepenuhnya menjadi milik hutan. Sejak momen itu, elang tersebut tak lagi bisa dipantau dengan mata.
Pergerakan Elang Jawa terpantau di ponsel
Beberapa langkah dari lokasi pelepasliaran, suasana mendadak sunyi. Para peneliti saling bertukar pandang, lalu beberapa di antaranya menunduk ke arah layar ponsel di tangan mereka.
Tak lama kemudian, dari ponsel tersebut, sebuah titik muncul. Kecil. Diam sesaat. Lalu bergerak perlahan. Di layar ponsel itulah, perjalanan Elang Jawa yang baru saja dilepas kembali ke alam mulai terbaca.

Bagi Usep Suparman, peneliti Elang Jawa dari Raptor Conservation Society (RCS), momen setelah pelepasliaran selalu menjadi yang paling menegangkan. Elang Jawa boleh saja telah menghilang dari pandangan, tetapi nasibnya belum sepenuhnya aman.
“Di lapangan, berkaca dari pengalaman yang dulu-dulu, kita sering kehilangan jejak,” ujarnya kepada Mojok usai pelepasliaran Raja Dirgantara, Sabtu (12/13/2025). “Kalau elang sudah terbang jauh, kita tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.”
Kini, layar ponsel memberi petunjuk awal. Memang bukan jaminan keselamatan, tetapi cukup untuk membuat para peneliti setidaknya mengetahui arah gerak dan keberadaannya.
Usep menambahkan, sejak dilepasliarkan, tugas panjang para peneliti justru baru dimulai. Baginya, pelepasliaran bukanlah garis akhir, melainkan pintu masuk ke fase pemantauan yang lebih komprehensif dan menuntut kesabaran.
Kemajuan teknologi semakin membantu proses konservasi
Setiap pergerakan Raja Dirgantara, kini dipantau lewat teknologi GPS yang terpasang di punggungnya. Alat kecil ini diharapkan mampu membuka gambaran utuh tentang bagaimana seekor Elang Jawa menata kembali hidupnya di alam liar.
Usep berharap, dari Raja Dirgantara, mereka bisa memperoleh data jelajah yang akurat. Bukan sekadar ke mana ia terbang, tetapi seberapa luas wilayah yang digunakannya, bagaimana pola geraknya, dan ruang ekologi seperti apa yang benar-benar dibutuhkan Elang Jawa untuk bertahan. Data semacam inilah yang selama ini sulit didapat secara utuh.
“Selama ini, akurasinya tidak maksimal,” kata Usep. Selama ini, pengamatan visual kerap terputus oleh medan, cuaca, dan keterbatasan manusia mengikuti pergerakan predator yang bisa melayang jauh dalam waktu singkat.
Metode pemasangan GPS sebenarnya bukan hal baru. Dua Elang Jawa sebelumnya pernah dilepasliarkan dengan perangkat serupa, masing-masing di kawasan Gunung Salak dan Puncak. Namun, teknologi yang digunakan kala itu masih menyisakan banyak celah.

Untuk mempermudah gambaran, Usep mengibaratkan metode lama seperti mencoba memahami kehidupan seseorang hanya dari foto-foto yang diambil setahun sekali.
“Kita tahu wajahnya, tapi tidak tahu rutinitasnya,” ujarnya. Sementara teknologi telemetri dan GPS, kata Usep, membuat peneliti seolah menonton siaran langsung (live streaming). Kita bisa melihat ke mana Elang Jawa pergi, di mana ia beristirahat, dan potensi bahaya apa yang mendekatinya setiap hari.
Sebelum GPS-GSM digunakan, tim RCS mengandalkan radio telemetri berbasis sinyal. Alat itu juga dipasang di tubuh Elang Jawa, tetapi data yang dihasilkan harus dilacak dan diolah secara manual. Prosesnya memakan waktu, tenaga, dan sering kali tidak cukup presisi.
“Jadi GPS tracking itu salah satu metode untuk mengetahui seberapa jauh daerah jelajah dan seberapa luas habitat yang Elang Jawa gunakan,” imbuh Usep.
Tiga puluh tahun meneliti Elang Jawa membuat Usep percaya bahwa konservasi tak bisa berhenti pada cara-cara lama. Teknologi, baginya, bukan sekadar alat bantu, melainkan jembatan untuk memperpanjang napas hidup satwa kharismatik hutan Jawa itu.
Ia menyebut, populasi Elang Jawa yang kini teridentifikasi di alam berkisar antara 2.000 hingga 3.000 individu. Angka itu, menurutnya, menjadi indikator bahwa upaya perlindungan selama tiga dekade terakhir menunjukkan hasil.
“Itu berarti aman dan sukses dalam memproteksi Elang Jawa itu sendiri,” ujarnya.
Dulu andalkan satelit Argos, kini pakai GPS-GSM
Dari sisi ilmiah, pilihan menggunakan teknologi pelacakan berbasis GPS-GSM juga memiliki dasar yang kuat. Peneliti Pusat Riset Sistem Biota BRIN, Oki Hidayat, menjelaskan bahwa pergerakan hewan dalam lanskap setidaknya terbagi ke dalam tiga pola. Antara lain home range, dispersal, dan migrasi.
“Elang Jawa, sebagai raptor endemik dengan sebaran terbatas, lebih banyak bergerak dalam home range, wilayah jelajah di sekitar sarang untuk berburu dan beraktivitas sehari-hari. Bisa juga dispersal ketika individu muda mencari wilayah baru,” jelasnya kepada Mojok, Sabtu (12/13/2025).
Untuk memahami pola-pola itu, alhasil teknologi pelacakan menjadi krusial. Selama ini, sistem satelit Argos merupakan metode yang paling umum digunakan dalam studi pergerakan satwa liar, termasuk raptor.
Namun, berdasarkan kajian tim riset Tiga Dekade Konservasi Elang Jawa, sistem tersebut memiliki keterbatasan. Akurasinya relatif rendah, berkisar antara 150 hingga 1.000 meter, dengan data yang tidak selalu terkirim secara cepat. Terutama di wilayah tropis seperti Indonesia, di mana satelit hanya melintas beberapa kali dalam sehari.
“Argos ini melintas cuma dua kali sehari di Indonesia, jadi data tidak bisa terkirim secara cepat,” ungkapnya. Keterbatasan ini membuat Argos kurang ideal untuk memantau satwa dengan pergerakan lokal dan detail perilaku yang halus, seperti Elang Jawa.
Sementara teknologi GPS-GSM menawarkan pendekatan berbeda. Akurasi lokasinya mencapai 3–10 meter, dan data dapat dikirim secara realtime atau near real time melalui jaringan seluler. Perangkatnya pun lebih kecil dan ringan, di bawah 30 gram, serta lebih hemat daya karena modem GSM hanya aktif saat mengirim data.
“Untuk raptor endemik seperti Elang Jawa, yang distribusinya lokal dan hidup di wilayah dengan cakupan sinyal seluler cukup baik, GPS-GSM jauh lebih efektif,” jelas Oki. Data pergerakan pun bisa langsung diakses melalui aplikasi di ponsel.

Dari genggaman ponsel itulah, titik-titik kecil di layar tak lagi sekadar koordinat. Ia berubah menjadi cerita tentang ruang hidup, ancaman, dan peluang bertahan seekor Elang Jawa bernama Raja Dirgantara yang kini terbang bebas.
Bagi Oki Hidayat, penggunaan teknologi GPS-GSM dalam pemantauan Elang Jawa pada dasarnya adalah sebuah ikhtiar. Bukan sekadar soal kecanggihan alat atau kecepatan data yang diterima peneliti, tetapi upaya untuk memastikan setiap langkah konservasi berdiri di atas informasi yang jelas dan terukur.
“Dengan mengetahui ke mana Elang Jawa terbang, seberapa luas wilayah jelajahnya, dan ruang apa saja yang paling sering digunakannya, keputusan perlindungan bisa diambil dengan lebih tepat.”
Oki menilai, selama ini banyak upaya konservasi berjalan dengan keterbatasan data. Akibatnya, perlindungan habitat sering bersifat umum dan tidak selalu menyasar area yang benar-benar penting bagi satwa.
Alhasil, teknologi pelacakan berbasis GPS-GSM membuka peluang untuk memperbaiki pendekatan tersebut. Data pergerakan yang dikumpulkan secara realtime memungkinkan peneliti memahami kebutuhan ruang Elang Jawa secara lebih detail, sekaligus mengenali titik-titik yang rentan terhadap gangguan manusia.
Perlu adanya sinergi dari banyak pihak
Oki juga berharap, ke depan, teknologi ini dapat digunakan secara lebih luas dan konsisten. Tidak hanya untuk memantau individu hasil rehabilitasi, tetapi juga untuk memperkaya basis data ekologi Elang Jawa di berbagai bentang alam. Dengan data yang memadai, upaya pelestarian tidak lagi bergantung pada asumsi, melainkan pada bukti lapangan yang terus diperbarui.
Namun, Oki juga menegaskan bahwa teknologi tidak akan bekerja sendirian. Data hanya akan bermakna jika ditindaklanjuti dengan perlindungan habitat, pengelolaan kawasan yang bijak, serta keterlibatan para pemangku kepentingan di lapangan.
“Makanya perlu kembali dipertegas, dalam konteks inilah pelacakan menggunakan teknologi GPS-GSM menjadi bagian penting dari kerja konservasi yang lebih besar.”

Pendekatan berbasis data ini mulai menemukan bentuk nyatanya di sejumlah lokasi. Saat ini, Djarum Foundation terlibat aktif dalam pelestarian satwa terancam punah di Gunung Muria, termasuk Elang Jawa dan macan tutul, dengan memadukan perlindungan satwa dan pemulihan habitat bersama masyarakat setempat.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Upaya “Mengadopsi” Sarang-Sarang Sang Garuda di Hutan Pulau Jawa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan















