Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau Miskin “Diinjak-injak” Orang Kaya: Meninggalkan Kota Kecil demi Mengubah Nasib, Malah Diupah Tak Wajar

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Mei 2025
A A
Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau “Diinjak-injak” Orang Kaya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau “Diinjak-injak” Orang Kaya: Meninggalkan Kota Kecil demi Mengubah Nasib, Malah Diupah Tak Wajar (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Menteng, Jakarta Pusat, dikenal sebagai salah satu kawasan elite di Jakarta. Tak terhitung lagi berapa banyak rumah-rumah mewah dan gedung-gedung tinggi yang berdiri di sana.

Konon, harga tanah di Menteng menjadi yang tertinggi di Indonesia. Menurut hitung-hitungan beberapa pakar properti, harga tanah di sana bisa mencapai Rp100 juta per meter persegi. Maka tak heran kalau Menteng disebut sebagai rumahnya orang-orang tajir melintir.

Meski dikenal sebagai kawasan elite, ada banyak ironi di dalamnya. Misalnya, di Twitter (X) pernah ramai dengan postingan netizen yang menunjukkan sebuah rumah reyot berdiri di antara rumah-rumah mewah. Belakangan diketahui rumah tersebut dihuni oleh seorang janda tiga anak yang sehari-hari bekerja di pasar tradisional. 

Tak sampai di situ. Di balik kemewahan dan gelimang harta orang-orang kaya, juga tersimpan derita para perantau yang datang dari berbagai daerah. Mereka berniat mengubah nasib, tapi yang didapat malah sebaliknya.

Nekat ke Jakarta cuma bermodal nyawa

Fiko (25), begitu ia meminta ditulis, adalah salah satunya. Datang dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, motivasinya cuma satu: mencari uang sebanyak-banyaknya untuk kebahagian orang tua.

“Di kotaku itu UMR-nya kecil banget. Tiap tahun jarang naik. Apalagi buat lulusan SMA sepertiku, nyaris nggak dihargai,” ujarnya tatkala dihubungi Mojok, Senin (19/5/2025) malam.

Ia memilih Menteng, Jakarta Pusat sebagai jujugan karena ajakan salah satu kawan yang sudah terlebih dahulu merantau. Kata dia, mengulang nasihat kawannya itu, “ijazah nggak penting, asal bisa kerja bakal punya banyak uang.”

Oleh karena ajakan itu, ia pun mantap datang ke Jakarta tanpa bekal apa-apa: tak ada surat lamaran, berkas-berkas penting lainnya, ataupun uang saku. Kata dia, modal nyawa saja.

“Temanku di Menteng kerja buat orang gitu, nggak tetap. Kadang suruh jaga rumah, kadang jadi asisten artis, pokoknya sesuai panggilan. Freelance, tapi banyak uang,” ucapnya.

Kerja 7/24, dibayar cuma 600 ribu

Benar saja, sesuai dugaannya, setibanya di Jakarta ia langsung dapat kerja. Ia bekerja di sebuah rumah orang kaya di Menteng, Jakarta Pusat. Jobdesk-nya? Fiko diminta untuk “menjaga” rumah tersebut selama ditinggal beberapa hari ke luar negeri oleh pemiliknya.

Menjaga yang dimaksud termasuk membersihkan, merawat, hingga menyambut orang kalau-kalau ada tamu yang datang. Prinsipnya sama dengan pekerja rumah tangga (PRT), bedanya ia hanya bekerja saat rumah itu ditinggal.

“Benar-benar kayak pembantu. Nyapu, ngepel, bersihin kebun, bedanya itu aku kalau nggak salah kerja cuma 7 hari pas rumah itu ditinggal sama pemilik,” ungkapnya.

Kalau dilihat dari foto-foto di rumah itu, Fiko menduga kalau pemiliknya adalah pejabat. Entah anggota DPR, menteri, atau pejabat lain. Ia tak mau menduga-duga, yang penting dibayar, pikirnya.

Baca halaman selanjutnya…

Iklan

Ada yang diupah murah. Ada juga yang dibayar “terima kasih”, padahal oleh artis.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 20 Mei 2025 oleh

Tags: jakartajakarta pusatkerja di jakartaMentengmenteng jakarta pusatmerantau ke jakartapilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO
Ragam

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.