Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

MBG, Hidangan Negara yang Bikin Anak-Anak Tumbang: Gratis di Piring, Mahal di Nyawa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 September 2025
A A
makan bergizi gratis MBG.MOJOK.CO

Ilustrasi - Skandal Besar MBG (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Program MBG telah meracuni banyak siswa di berbagai daerah. Sialnya, anggaran pendidikan terus “disedot” demi program populis dan politis ini.

***

Iklan

Malam itu, suasana rumah seorang siswa SMA Negeri 2 Wonogiri mendadak riuh. Anak yang baru pulang sekolah tergolek mual, perut melilit, lalu muntah berulang kali. Orang tuanya panik, segera membawanya ke puskesmas. 

Keesokan harinya, kabar serupa bergema dari banyak rumah: puluhan siswa tidak hadir di sekolah, sebagian dilarikan ke fasilitas kesehatan. Semuanya bermula dari makanan kotak yang dibagikan lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Dalam hitungan jam, kegembiraan menyantap makan siang gratis berubah jadi derita massal. Peristiwa itu kemudian terkonfirmasi: lebih dari 100 siswa SMAN 2 Wonogiri mengalami keracunan pada 12 September 2025.

Di Sragen dan Lampung, keracunan MBG juga terjadi

Beberapa hari berselang, tragedi serupa muncul dari Sragen, kabupaten tetangga. Kali ini, ratusan siswa dan guru SMP-SMA dilaporkan sakit usai menyantap jatah MBG. Gejalanya mirip: mual, pusing, muntah, hingga sebagian harus dirawat inap di rumah sakit daerah.

Orang tua murid pun mempertanyakan kualitas makanan. Bahkan ada yang mengunggah foto dapur katering di media sosial: ruang sempit, lantai becek, dan tumpukan bahan makanan yang tidak tertutup rapat.

Dari Jawa Tengah, kabar keracunan juga terdengar hingga Lampung. Puluhan siswa SMP di Bandar Lampung mengalami gejala sama setelah menyantap makanan program MBG. 

Beberapa saksi menyebut nasi sudah dingin dan lauk terasa asam ketika dibagikan. Pemerintah daerah memang mengakui distribusi makanan kerap terlambat karena harus menempuh perjalanan jauh dari dapur katering ke sekolah-sekolah pelosok.

Program dipaksaan, cara masak pun ugal-ugalan

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan sebuah pola, yakni ada yang keliru dalam sistem penyediaan dan distribusi makanan. Investigasi sementara di lapangan menemukan dapur katering MBG tidak memenuhi standar higienitas. 

Banyak yang masih berupa rumah kontrakan dengan peralatan seadanya, tenaga masak tanpa pelatihan khusus, dan minim pengawasan. Bahkan ada katering yang memasak ribuan porsi dengan hanya tiga tungku kecil. 

Sehingga, wajar kalau kualitas dan keamanan makanan rentan bermasalah. Apalagi ketika harus diangkut berjam-jam menuju sekolah tanpa pendingin.

“Sejak awal, program ini sarat konflik kepentingan politik dan ekonomi. Skema yang dipaksakan lebih mirip proyek mercusuar ketimbang layanan publik,” kata Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, kepada Mojok, Rabu (24/9/2025).

Ia menegaskan, MBG yang digadang-gadang menyehatkan anak bangsa justru berulang kali mengancam nyawa anak.

Data JPPI mencatat, hingga 21 September 2025, total 6.452 anak menjadi korban keracunan MBG. Angka itu melonjak 1.092 hanya dalam sepekan. 

“Ini seharusnya ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) dan dihentikan sementara untuk evaluasi. Sayangnya, pemerintah dan DPR justru menutup mata dan tetap melanjutkan program,” ujar Ubaid.

Tapi, anggaran MBG malah terus ditambah

Ironisnya, hanya sehari setelah lonjakan kasus itu, DPR mengesahkan RAPBN 2026 yang menempatkan MBG sebagai salah satu prioritas utama dengan anggaran Rp335 triliun.

Dari jumlah itu, Rp223 triliun diambil langsung dari pos pendidikan. Akibatnya, porsi anggaran pendidikan yang semestinya minimal 20 persen APBN—sebagaimana amanat UUD 1945—merosot menjadi hanya 14 persen.

Iklan

JPPI menyebut, langkah ini sebagai bentuk “pengkhianatan terhadap konstitusi”. Pendidikan yang seharusnya dijamin sebagai hak dasar anak justru dikorbankan demi proyek populis. 

“DPR dan pemerintah bersama-sama telah merampas hak anak Indonesia atas pendidikan dan memporak-porandakan masa depan bangsa,” kata Ubaid.

Padahal, di lapangan, kebutuhan dasar pendidikan masih jauh dari kata terpenuhi. Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan lebih dari 60 persen ruang kelas SD di Indonesia dalam kondisi rusak, mulai dari ringan hingga berat. Banyak sekolah yang masih menumpang di balai desa atau bangunan darurat.

Krisis guru juga nyata. Per 2024, lebih dari 1 juta guru belum tersertifikasi. Artinya, mereka belum mendapat jaminan kompetensi sekaligus tunjangan yang layak. 

Kondisi ini berimbas langsung pada kualitas pembelajaran. Tidak sedikit guru terpaksa mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan hidup, sementara pemerintah justru mengalihkan ratusan triliun ke program makan siang.

Di beberapa daerah, cerita memilukan datang dari ruang kelas yang bolong atapnya, meja kursi reyot, hingga perpustakaan kosong tanpa buku. 

“Gizi penting, tapi jangan sampai mengorbankan hal-hal fundamental. Anak-anak kita butuh ruang kelas yang aman dan guru yang sejahtera,” tegas Ubaid.

PR-nya A, yang dikerjakan malah B

Masalah lain adalah putusan Mahkamah Konstitusi No.3/PUU-XXII/2024 yang memerintahkan sekolah bebas pungutan biaya, hingga kini belum bisa dijalankan. Pemerintah beralasan anggaran tersedot untuk MBG. 

Alhasil, jutaan keluarga masih terbebani iuran sekolah. Sementara menu MBG tetap hadir di meja makan anak-anak dengan risiko keracunan.

Publik pun makin resah. Orang tua murid, organisasi masyarakat sipil, hingga pakar gizi mendesak evaluasi total. Tuntutan mereka serupa: tetapkan KLB atas kasus keracunan, hentikan sementara program, realokasikan kembali Rp223 triliun untuk kepentingan esensial pendidikan, serta libatkan masyarakat sipil dalam perumusan kebijakan.

Namun, hingga kini, suara-suara itu seolah terhempas di ruang hampa. Pemerintah tetap menegaskan MBG akan dijalankan penuh pada 2026, dengan klaim telah menyiapkan mekanisme pengawasan. 

Sementara itu, kasus keracunan terus terjadi dari satu daerah ke daerah lain, menimbulkan trauma bagi anak-anak dan keresahan bagi orang tua.

Pada akhirnya, cerita Wonogiri, Sragen, hingga Lampung bukan sekadar peristiwa lokal, melainkan cermin rapuhnya manajemen program nasional yang menyangkut hajat hidup jutaan anak. 

Di satu sisi, negara mengklaim sedang memberi gizi, tapi di sisi lain, anak-anak justru jatuh sakit karena makanan yang seharusnya menyehatkan.

“DPR dan Pemerintah bersama-sama telah mengkhianati UUD 1945. Mereka merampas hak anak Indonesia atas pendidikan dan memporak-porandakan masa depan bangsa demi proyek populis bernama MBG,” pungkas Ubaid Matraji.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Keracunan Massal MBG Bukan Lagi Masalah Teknis, tapi Sistemik: Hentikan Sementara Kalau Keselamatan Tak Dijamin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 September 2025 oleh

Tags: keracunan massal mbgkeracunan MBGmakan bergizi gratisMBGpilihan redaksiprogram mbgprogram prabowo
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

14.900 Kilometer untuk 90 Menit: Kisah Orang Tua di Balik Final Garuda Pertiwi vs Thailand

25 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.