Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sesal Berobat ke Dukun Bayi ketimbang ke Dokter, Bukannya Sembuh tapi Salah Kaprah hingga Penyakit Jadi Makin Serius dan Ancam Nyawa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
4 November 2025
A A
Ngerinya malpraktik pengobatan tradisional dukun bayi/dukun beranak MOJOK.CO

Ilustrasi - Ngerinya malpraktik pengobatan tradisional dukun bayi/dukun beranak. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Malpraktik dari seorang dukun bayi/beranak membuat seorang perempuan muda harus menderita sakit serius. Pilihan ke pengobatan tradisional ketimbang ke fasilitas kesehatan itu akhirnya berbuah sesal belaka. Karena harus menjalani hari demi hari dengan konsekuensi buruk yang terus membayangi.

Diagnosis ngawur seorang dukun bayi/dukun bernak?

Usai terjatuh dari motor, Sofi (29), panggil saja begitu, mengeluhkan rasa nyeri di perutnya. Apalagi jika digunakan untuk jongkok. Ia lantas berobat ke seorang dukun bayi di desanya di Rembang, Jawa Tengah.

Alasannya memilih berobat ke dukun bayi karena pemahaman yang sudah terlanjur subur di lingkungannya: Bahwa dukun bayi/dukun beranak bisa mengobati keluhan-keluhan di dalam perut perempuan.

“Oh ini wadah bayinya merosot,” ujar si dukun bayi. Sofi percaya saja, sehingga membiarkan si perempuan tua itu mengurut-urut perutnya. Meski rasanya amat sakit.

Lebih dari sekali Sofi berobat ke perempuan tua itu. Hasilnya, perutnya memang berangsur lega. Walaupun masih ada sisa-sisa nyerinya.

Namun, kesembuhan itu tak berangsur lama. Setelahnya, nyeri di perut Sofi malah terasa makin melilit. Lebih menyiksa ketimbang sebelumnya. Dari situ ia lantas mencoba beralih ke bidan di puskesmas setempat.

“Ternyata ditemukan benjolan. Besar kemungkinan sel kanker, kata si bidan seperti itu,” ungkapnya bercerita dengan tubuh dan suara lemas, Minggu (26/10/2025).

Takut pada alat-alat dan tindakan medis, menghambat kesembuhan diri

Dari si bidan, Sofi diminta berobat ke RSUP Dr Kariadi Semarang. Fasilitas kesehatan di Rembang memang belum memadai untuk penyakit-penyakit serius.

Oleh karena itu, sudah menjadi kelaziman jika pasien tidak bisa ditangani di Rembang sendiri, maka akan dirujuk ke Semarang.

Sialnya, Sofi tumbuh di lingkungan dengan persepsi bahwa setiap yang dibawa ke Semarang, maka sudah di tahap serius. Karena sudah serius, maka tindakan medis yang diambil juga akan serius. Dalam konteks kanker, ada dua kemungkinan: operasi dan kemoterapi.

“Aku nggak mau kalau kemo. Takut kenapa-kenapa,” ungkap Sofi. Obrolan dengan Sofi memang terjadi sebelum di dibawa ke Semarang.

Beberapa saudara Sofi—yang lebih muda dan melek medis—mencoba memahamkan Sofi: Kalau takut kenapa-kenapa, harusnya bukan ke dukun bayi yang secara medis punya tingkat risiko tinggi. Ini kok malah takut kenapa-kenapa pada dokter.

Saudara Sofi juga menegaskan bahawa sekarang alat-alat sudah canggih. Yang paham penyakit ya dokter. Jika Sofi menolak datang ke rumah sakit, itu malah akan mengambat kesembuhannya sendiri.

Percaya air doa

“Sudah dikasih air doa. Katanya kalau minum nggak akan terjadi apa-apa,” kata Sofi.

Iklan

Tentu pemahaman Sofi—yang didukung oleh lingkungannya—membuat saudara-saudaranya tadi amat alot untuk memberi pemahaman perihal pentingnya tindakan medis.

“Boleh percaya dengan air doa. Dan memang orang Islam wajib percaya dengan kekuatan doa. Tapi, Gusti Allah itu kan sifatnya banyak, salah satunya Maha Penyembuh. Nah, perantara penyembuh itu ya dokter,” ucap salah seorang saudara Sofi yang enggan disebut namanya.

Apalagi, lanjut saudara Sofi, sampai ada embel-embel “Setelah minum tidak akan terjadi apa-apa.” Bagi saudara Sofi, itu adalah kalimat yang bahaya sekali diucapkan. Sebab, tanpa didasari dengan kajian medis. Hanya hasil terawangan.

Salah kaprah dukun bayi dan terawangan “orang pintar”

Setelah melalui bujuk rayu yang sangat alot, akhirnya Sofi dan orang tuanya sepakat untuk ke Semarang. Awalnya dengan catatan: Hanya periksa, bukan untuk operasi. Catatan yang juga membingungkan bagi saudara Sofi yang turut mengantar.

“Keputusan dokter, itu harus operasi. Tapi nggak bisa langsung, justru harus kemoterapi dulu untuk mengeringkan luka dalam. Ada bagian usus yang retak,” jelas saudara Sofi menirukan penjelasan dokter.

Dugaannya, usus retak dan beberapa luka di area rahim Sofi adalah imbas dari salah kaprah tindakan si dukun beranak tempat Sofi berobat sebelumnya. Saudara Sofi merasa amat jengkel sekali waktu itu.

Pertama, karena memercayakan sesuatu bukan pada ahlinya. Kedua, dalam situasi seperti itu pun, Sofi masih bersikukuh enggan operasi. Sebab, jika operasi pengangkatan rahmin dilakukan, maka ia terancam tidak punya anak lagi.

“Padahal si bidan sudah bilang, ikuti apa pun saran dokter,” kata si saudara Sofi.

“Tapi keputusan harus diambil cepat. Jika nggak dioperasi malah makin bahaya. Jadi setelah alot ngasih pemahaman, diputuskan untuk ambil operasi dan kemoterapi,” sambungnya.

Pada akhirnya, kini Sofi dan keluarganya harus dibayangi kemungkinan-kemungkinan buruk. Hanya sesal yang tersisa dari upaya pengobatan sebelumnya (lebih percaya dukun bayi dan air doa ketimbang medis).

Profesi tua yang menyimpan bahaya

Penelitian berjudul “The Choice of Delivery Place in Indonesia: Does Home Residential Status Matter?” menyebut, kondisi lingkungan memang sangat berpengaruh bagi pilihan seseorang dalam menggunakan fasilitas kesehatan.

Sebanyak 80,3% perempuan yang tinggal di rumah sendiri dengan otoritas kuat, memilih melahirkan di fasilitas kesehatan. Sementara itu, proporsi perempuan yang tinggal bersama orang tua, mertua, atau kerabat sebesar 34,5%: Memilih pengobatan secara tradisional.

Maka, jika lingkungan lebih berpegang pada pengobatan tradisional sebagai tindakan krusial seperti berobat atau bersalin di dukun bayi, si perempuan pada akhirnya mengikuti sistem tradisional yang sudah berlaku tersebut.

Persoalannya, sejumlah jurnal dan penelitian menyebut, berobat secara tradsional memiliki tingkat risiko lebih tinggi. Bahkan kematian.

Dukun bayi memang menjadi salah satu profesi tertua di Indonesia. Sudah banyak orang (orang tua-orang tua pendahulu kita)yang lahir dari tangan dukun bayi.

Namun, keberadaan dukun bayi tersebut tidak lepas dari kondisi zaman yang di masa lalu peralatan medis memang belum sememadai sekarang. Dengan begitu, ketika alat-alat medis makin canggih, perempuan lebih disarankan periksa di fasilitas kesehatan alih-alih ke pengobatan tradisional.

Penelitian berjudul “Initiation of Traditional Birth Attendants and Their Traditional and Spiritual Practices During Pregnancy and Childbirth in Ghana” dari Lydia Aziato dan Cephas N. Omenyo menyarankan, pendampingan oleh tenaga medis tetap perlu dilakukan meski sebuah keluarga masih percaya pada kemagisan dukun bayi. Bahkan seharusnya, medis lah yang menjadi jujukan utama.

Bahkan, dukun bayi pun kini disarankan untuk mengikuti pelatihan secara medis. Sebagai antisipasi terjadinya malpraktik atau hal-hal tidak diinginkan lainnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ketika Menolak Bayi Perempuanku Dikhitan: Mereka Bilang Aku Ibu Egois atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 November 2025 oleh

Tags: bahaya bersalin di dukun bayibahaya dukun bayibahaya persalinan di dukun bayibersalin di dukun bayidukun bayidukun beranakibu hamilpengobatan tradisional
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Susah jadi bidan desa, niat edukasi malah dianggap menentang tradisi MOJOK.CO
Ragam

Susah Payah Bidan Desa: Warga Lebih Percaya Dukun Bayi, Kasih Edukasi Malah Dianggap Menentang Tradisi

6 Januari 2026
Dokter Obgyn Perempuan Lebih Sedikit bikin Ibu Hamil Parno. MOJOK.CO
Ragam

Sedikitnya Jumlah Dokter Obgyn Perempuan bikin Calon Ibu “Parno”, Lebih-lebih karena Kasus Pelecehan Seksual yang Pernah Terjadi

1 Mei 2025
Nalika Tayangan TV Melu Nyuntik Mati Profesi Dukun Bayi MOJOK.CO
Rerasan

Nalika Tayangan TV Melu Nyuntik Mati Profesi Dukun Bayi

17 Oktober 2020
Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Selama Masa Kehamilan
Penjaskes

Tips Sederhana Menjaga Kesehatan Selama Masa Kehamilan

17 Mei 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.