Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Lulusan Jogja dari Kampus Nggak Terkenal Buktikan Cari Kerja di Semarang Itu Gampang, Setelah 7 Tahun Pilih Jadi Freelance di Gunungkidul

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
7 Maret 2024
A A
Lulusan Jogja dari Kampus Nggak Terkenal Buktikan Cari Kerja di Semarang Itu Gampang, Setelah 7 Tahun Pilih Jadi Freelance di Gunungkidul MOJOK.CO

Ilustrasi Lulusan Jogja dari Kampus Nggak Terkenal Buktikan Cari Kerja di Semarang Itu Gampang, Setelah 7 Tahun Pilih Jadi Freelance di Gunungkidul. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mencari pekerjaan di Indonesia itu katanya sulit, padahal nggak juga. Aziz membuktikan sebagai lulusan Jogja dari kampus yang nggak terkenal, ia dengan mudah mendapatkan kerja sebagai karyawan perusahaan di Semarang, meski tanpa bekal pengalaman kerja sebelumnya.

***

Mojok berbincang dengan Abdul Aziz (28) lewat sambungan telepon, Senin (4/3/2024) yang lalu. Sebelumnya ia mengirimkan naskah uneg-uneg yang ia beri judul, ‘Mencari Pekerjaan di Indonesia Tak Sesulit yang Dibicarakan Banyak Orang’. Lewat tulisan itu ia menceritakan panjang lebar bagaimana seharusnya orang itu bisa mudah mendapatkan pekerjaan. 

Lulusan Jogja dari kampus nggak terkenal, tapi percaya diri mudah dapat kerja

Saya kemudian menghubunginya lewat telepon untuk memperjelas apa yang ia maksud dengan mendapatkan pekerjaan itu gampang. “Tepat tahun 2017, saya menyelesaikan kuliah saya di salah satu kampus di Yogyakarta. Dengan modal Surat Keterangan Lulus (SKL), saya langsung berniat untuk mencari pekerjaan, saya nggak mau menganggur karena tidak ingin menjadi beban orang tua,” kata Abdul Aziz.

Kampus Aziz adalah STIE Bank Yogyakarta. Bukan kampus yang terkenal layaknya UGM, UNY atau kampus-kampus swasta mentereng seperti UMY, UII, STIE Kerjasama, UAJY dan lainnya. Ia mengambil Jurusan Manajemen.

Meski bukan lulusan kampus bonafid, Aziz percaya diri bisa segera dapat kerja. “Bukan soal kampusnya, tapi tergantung orang-orangnya,” kata Aziz.

Selain dorongan tidak ingin nganggur dan jadi beban orang tua, ia ingin mematahkan argumen banyak orang bahwa mencari pekerjaan di Indonesia itu susah.

“Orang yang percaya dengan argumen itu sama dengan mempersulit hidupnya sendiri. Kenapa begitu, karena saya melihat sendiri ketika mencari informasi lowongan pekerjaan di website atau media sosial itu banyak sekali tawaran kerja,” kata Aziz. 

Banyak lowongan pekerjaan, tapi pelamar nggak pakai strategi

Menurut Aziz ia melihat tiap hari selalu ada informasi lowongan pekerjaan, bahkan untuk posisi yang dibutuhkan kadang membutuhkan lebih dari satu orang tenaga kerja. “Melihat data tersebut, saya berpikir bahwa sebenarnya lowongan kerja itu cukup banyak, tapi kitanya yang kurang persiapan untuk melamar posisi pekerjaan tersebut, makanya tidak ada panggilan kerja,” katanya.

Aziz mengincar Semarang sebagai wilayah yang ia tuju untuk mencari pekerjaan. Alasan pertama karena UMR-nya paling tinggi di Jawa Tengah. Di Semarang ada kawasan industri dengan banyak perusahaan, sehingga peluang mendapat pekerjaan lebih terbuka. 

“Saya awalnya mengincar Karawang karena UMR-nya paling tinggi di Indonesia, tapi jelang lulus nenek saya meninggal, saya kasihan sama orang tua kalau jauh dari mereka. Saya itu asli Blora, jadi saya pikir Semarang Blora nggak terlalu jauh,” kata Aziz. 

Aziz melihat banyak orang yang mencari kerja langsung kirim banyak lamaran pekerjaan tanpa ada persiapan atau riset dulu. Hal yang ia pertama lakukan adalah melakukan riset pekerjaan yang akan ia incar.

Aziz hanya membutuhkan satu jam untuk mencari lowongan pekerjaan di Semarang sebelum menentukan pilihan. Ia memilih platform media sosial Facebook untuk mencari info lowongan pekerjaan sebelum menentukan pilihan lowongan yang ia incar.

“Meskipun sudah mendapatkan informasi lowongan pekerjaan, saya masih pilih-pilih lagi agar peluang langsung keterima kerjanya lebih tinggi,” katanya. 

Iklan

Facebook jadi pilihan Aziz mencari lowongan karena biasanya yang mengirimkan lowongan dari HRD langsung atau dari karyawan perusahaan tersebut. Biasanya mereka membutuhkan pekerja dalam waktu yang cepat. 

Sadar diri dengan melamar pekerjaan yang sebenarnya untuk lulusan SMP

Setelah Aziz pilih-pilih, akhirnya ia menentukan untuk menjadi operator perusahaan konveksi yang memproduksi fashion khusus rajut. Lowongan itu sebenarnya diperuntukkan minimal untuk lulusan SMP. Ia sengaja tidak memilih bagian staff yang peruntukannya minimal untuk lulusan S1 dengan pengalaman lebih dari 1 tahun. 

Aziz sadar diri, dengan baru saja lulus dan berbekal SKL, maka kecil kemungkinannya bisa diterima kerja bagian staff administrasi kantor. 

Azis merasa tidak perlu gengsi melamar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya yang jurusan Manajemen. Ia tidak malu sebagai sarjana lulusan Jogja mengambil pekerjaan operator.

Perusahaan nggak peduli seorang pelamar itu dari kampus terkenal atau tidak, yang jelas untuk posisi pelamar dengan ijazah S1 rata-rata mensyaratkan pengalaman kerja. Hal itu jelas tidak bisa ia penuhi, sehingga ia punya strategi sendiri.

Perusahaan yang ia incar, meminta pelamar datang segera ke perusahaan dengan membawa lamaran dan langsung melakukan interview. “Karena saya sudah memutuskan untuk melamar jadi staff operator, paginya sekitar jam 3 saya dari Jogja ke Semarang untuk melamar posisi tersebut,” kata Aziz.

Baca halaman selanjutnya

Buktikan cari kerja di Semarang itu mudah bagi lulusan Jogja, lolos wawancara langsung kerja hari itu juga

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2024 oleh

Tags: cari kerjafreelancegunungkidulJogjalowongan kerjalulusan jogjaSemarang
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO
Edumojok

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO
Urban

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026
Jumanah pedagang jamu parem kendil di pasar jangkang Yogyakarta. MOJOK.CO
Sehari-hari

“Ngopag” ala Lansia: Menikmati Jamu Parem Kendil yang Sudah Berdiri Sejak Tiga Generasi di Pasar Jangkang Yogyakarta

17 Februari 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja MOJOK.CO

Klitih dan Normalisasi Kekerasan: Alarm Bahaya dari Jalanan Jogja

16 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.