Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Januari 2026
A A
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Ilustrasi - Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang perempuan pekerja di Surabaya harus kerja mati-matian, bahkan beneran ingin mati, karena menjadi tulang punggung keluarga. Masalahnya, kerja kerasnya tiap hari kerap ludes untuk mengurus kakak laki-lakinya yang, baginya, tidak berguna. 

***

Peringatan: Tulisan ini mengandung tema berat terkait kondisi gangguan mental. Jika Anda dalam kondisi rentan, disarankan untuk tidak membacanya lebih lanjut.

Lampu kamar sudah mati. Asap aromaterapi sudah menguar. Musik penenang pun sudah mengalun lembut. Namun, Titian (27), bukan nama asli, perempuan asal Surabaya, masih kesulitan memejamkan mata. 

Lebih-lebih, di jam-jam lewat 12 malam, sering kali ia diserang kecemasan yang sulit dikendalikan. Bercampur antara cemas, sakit, dan marah. 

Titian baru bisa benar-benar tidur selepas Subuh. Lalu ia harus bangun pukul 06.30 untuk siap-siap berangkat ke kantor. Itu membuat tubuhnya terasa pegal-pegal. Energinya untuk bekerja terasa terkuras bahkan sebelum memulai kerja. 

Alhasil, demi tidur lebih cepat, ia sangat bergantung dengan pil tidur. Sebenarnya ada dosisnya. Tapi ia kadang melanggar dosis dengan harapan lekas tidur. 

Punya kakak laki-laki seperti sampah

Titian tumbuh dengan pemahaman: Kakak laki-laki pasti akan menjadi pelindung bagi keluarga. Apalagi jika punya adik perempuan. Konon juga, hubungan antara kakak laki-laki dan adik perempuan bisa terjalin dengan hangat. 

Ingatan masa kecil dengan sang kakak memang samar-samar. Namun dalam ingatannya, kakak Titian yang sekarang berumur 30-an lebih, memang sudah bermasalah sejak SMA. Bahkan harus dikeluarkan di kelas 2 dan tidak pernah sekolah lagi. Hubungan mereka dingin. Sulit mengenang momen-momen indah bersama sang kaka di masa lalu.

“Aku sampai curiga, jangan-jangan ayah stroke itu juga karena nggak tahan ngadepin areknya,” ujar Titian, Kamis (15/1/2026). 

Ayah Titian jatuh stroke beberapa bulan sejak sang kakak dikeluarkan dari SMA. Sebab setelahnya, sang kakak makin susah diatur. Sering keluar rumah. Bahkan lebih berani membentak orang tua. 

Sejak ayahnya stroke, Titian akhirnya harus mengambil alih peran sebagai tulang punggung keluarga. Ia mengorbankan mimpi untuk kuliah. Memilih langsung bekerja setelah lulus SMA. Karena ibunya toh tidak bisa bekerja. Fokus merawat ayah di rumah. 

“Aku berharap kakak sadar dan bantu. Tapi dia kayak sampah. Tiap pagi dia pulang dengan kondisi teler, habis mabuk. Terus di rumah tidur seharian, melek buat makan, main game, terus keluar lagi,” ucap Titian. 

Kerja mati-matian sebagai pekerja Surabaya, uang dipalak kakak

Titian bekerja di sebuah pusat perbelanjaan. Gajinya sebagai pekerja Surabaya, meski hanya lulusan SMA, menyentuh UMR. 

Iklan

Uang itu kemudian ia bagi-bagi. Buat belanja harian di rumah, sesekali terapi untuk ayah, dan sisanya untuk pegangan sendiri. 

Namun, kakaknya benar-benar tak tahu diri. Sering kali ketika Titian baru pulang kerja, ia memalak Titian agar menyerahkan sejumlah uang. Caranya meminta uang dengan membentak. Kalau tak dikasih bahkan sampai nekat merebu tas Titian. 

“Aku juga sering pas pulang kerja, lihat kamarku bekas diobrak-abrik. Kayaknya dia lagi nyari duit,” ungkap pekerja Surabaya itu dengan wajah lesu. “Dia itu tampangnya mbeler. Bukan sekadar mabuk, tapi lebih kayak pemakai.” 

Sebab, Titian sudah banyak mendengar cerita, kalau tiap malam sang kakak pasti akan berkumpul dengan gengnya di salah satu titik hiburan malam di salah satu sudut Surabaya.  Dengar-dengar tidak hanya karaoke dan mabuk-mabukan. Tapi juga judi dan sewa perempuan. 

Sementara ibunya tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menangis meratapi perilaku anak laki-lakinya, sekaligus menangisi anak perempuannya yang harus memikul beban keluarga. 

Mati-matian jadi pekerja Surabaya hingga pengin mati beneran

Sekalipun malam harinya sudah dikasih uang, tapi sang kakak masih kerap tiba-tiba meminta lagi untuk beli rokok, dengan tanpa berdosa. Tak jarang pula meminta uang untuk beli paket internet. 

Ibu Titian mengaku pernah membawa kakak Titian ke ahli spiritual untuk diruqyah. Tapi tak membuahkan hasil. 

Titian pun akhirnya merasa putus asa. Sebab, di rumah itu, ia merasa tidak memiliki pembela. 

“Kalau kakakmu minta duit, kasih sepunyamu aja. Daripada dia ngamuk. Kalau kamu ada uang, nanti kita cari peruqyah yang lebih hebat buat menyembuhkan,” kata Ibu Titian, sering kali begitu. 

“Kenapa nggak diusir saja sih dari rumah. Cuma bikin beban,” jawab Titian. 

“Begitu-begitu juga anak ibu, kakakmu sendiri,” jawab sang ibu yang membuat hati Titian teriris. 

Dalam batin pekerja Surabaya itu, “Pernah nggak ibu mikirin kondisiku? Aku juga anak ibu kan? Sekarang kayak cuma sekadar ATM. Harusnya yang berkorban kayak gini, kerja mati-matian jadi tulang punggung keluarga itu kakak, bukan aku!”

Tak pelak jika Titian berulang kali berpikir untuk benar-benar mati. Bunuh diri. Lebih-lebih ia mengaku sempat menemukan pelampiasan rasa sakit dengan cara menyakiti diri sendiri (menyayat benda tajam lengan dan kaki). 

Bahkan ia mengaku pernah berupaya menggorok leher sendiri. Saking tak tahannya dengan hidup yang ia jalani. Hanya saja, ketika baru tercipta goresan tipis, Titian malah menangis tergugu. Tiba-tiba muncul perasaan aneh: Ingin mati, tapi takut berdosa karena melalui jalur bunuh diri. 

“Aku pengin egois, pergi dari rumah, nggak peduli rumah lagi. Tapi di situ ada ibu dan ayah, yang masih butuh aku,” kata Titian. 

Untung ada teman-teman yang membuat waras

Untungnya, Titian punya beberapa teman baik–semasa SMA–yang masih terhubung.

Di tengah kesibukan kuliah mereka, mereka masih menyempatkan waktu untuk mengajak Titian nongkrong. Mempersilakan Titian untuk bercerita banyak hal. Khususnya soal luka-lukanya. 

“Aku juga sering nginep di rumah salah satu temenku. Itu biasanya di akhir-akhir bulan. Biar sisa duitku nggak dipalak kakak,” ujar pekerja Surabaya itu. “Walaupun kalau nginep begitu, ibu pasti nelepon terus. Tapi hp sengaja kumatikan.”

Pasalnya, pernah satu momen Titian mengangkat telepon. Alih-alih bertanya Titian di mana dan kenapa, tapi sang ibu malah bertanya Titian di mana karena kakaknya ngamuk di rumah minta uang. Sementara sang ibu tidak pegang uang untuk diberikan.

Apalagi, setelah mengikuti saran teman-temannya untuk rutin ke Psikiater, Titian mencoba menyisihkan uang untuk konsultasi. Sehingga ia perlu menjaga betul sisa-sia duitnya. Tapi setidaknya itu membuatnya sedikit agak waras. 

“Ya walaupun aku masih susah tidur. Obat sesuai dosis masih nggak mempan. Tapi aku mensyukuri perkembangan diriku yang berhenti self harm,” tutupnya. 

Titian meminta saran pada teman-teman pembaca Mojok, barangkali ada insight untuknya untuk menjalani hari-hari yang terasa suram di hidupnya. Sampai kapan? Apakah alasan bertahan hidup demi ibu dan ayah itu cukup untuk bertahan sedikit lebih lama?

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2026 oleh

Tags: kakak laki-lakipekerja surabayapilihan redaksiself harmsuka duka punya kakak laki-lakiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
self reward.mojok.co
Ragam

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co
Ragam

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Umur 23 tahun belum mencapai apa-apa: dicap gagal dan tertinggal, tapi tertinggal ternyata bisa dinikmati dan tak buruk-buruk amat MOJOK.CO

Umur 23 Belum Mencapai Apa-apa: Dicap Gagal dan Tertinggal, Tapi Tertinggal Ternyata Bisa Dinikmati karena Tak Buruk-buruk Amat

2 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.