Tukang parkir sudah jadi ketakutan bersama. Masalahnya, dia hampir ada di mana-mana. Khususnya, coffe shop di Jogja yang jadi tempat paling nyaman buat nongkrong.
Alhasil, bagi mereka yang pergi ke coffe shop lebih memilih untuk bertahan sampai pagi hari alih-alih langsung pulang di malam hari. Alasannya jelas untuk menghindar.
***
Jogja bukan cuma kota pelajar. Karena ada pelajar, ada coffe shop yang makin hari makin menjamur. Sebab, coffe shop di Jogja akan selalu ramai, terutama pada waktu mahasiswa harus mengerjakan ujiannya.
Peluang keuntungan yang membuat coffe shop di Jogja barangkali hanya akan tutup dan merugi saat kiamat inilah yang membuat tukang parkir tidak ketinggalan mengambil keuntungan.
Ngeri-ngeri sedap disambut tukang parkir
Saat kamu datang ke coffe shop di Jogja, kamu tidak hanya disambut oleh kasir yang sudah sedia menerima pesanan dari balik meja. Kamu malah akan lebih dulu menjumpai tukang parkir.
“Ya, taruh aja di situ,” biasanya begitu katanya.
Mereka akan membiarkan kita meletakkan motor dalam posisi tidak, hampir, atau benar-benar terparkir sesuai keimanan. Nantinya, motor akan diparkirkan berjejer dalam jarak semepet-mepetnya seperti ikan asin yang perlu dijemur di bawah matahari.
Alasannya boleh jadi untuk memaksimalkan keuntungan dari kesediaan lahan yang terbatas.
Alasan lain juga bisa jadi agar mengandalkan tukang parkir saat mengeluarkan motornya. Jadi, ini semacam siasat agar tidak ada yang kabur tanpa membayar.
Padahal punya persoalan yang harus diselesaikan di coffe shop
Bayangan tukang parkir dan strategi tidak kehilangan uang senilai Rp2 ribu untuk motor dan Rp5 ribu untuk mobil ini bisa hilang sejenak setelah memasuki coffe shop.
Ada dua hal yang biasanya harus diselesaikan di coffe shop, yaitu tugas atau pekerjaan, serta obrolan bersama tongkrongan. Keduanya bisa ditamatkan dalam satu waktu.
Eka (22) biasa melakukan keduanya sekaligus. Ia sering menghabiskan 6 sampai 8 jam di coffe shop sampai jam 3 pagi untuk menuntaskan persoalan ini.
“Biasanya bisa 6 sampai 8 jam di coffe shop, tergantung kapan mulainya. Paling malam sih pulang jam 3,” kata Eka kepada saya, Senin (16/2/206) sore di sebuah coffe shop di kawasan Kranggan.
Sambil mengambil jeda dari tugas di laptopnya, Eka bercerita bahwa coffe shop adalah tempat paling nyaman untuk menyelesaikan tugas maupun nongkrong bersama teman. “Karena emang comfortable, ada AC segala macam kan. Soalnya, kalau di kos, bakal jadi males-malesan,” katanya.
“Kalau main di kos, gue merasa kos adalah tempat istirahat,” tambahnya.
Pengalaman yang sama dirasakan Hanung (22) yang sering singgah dan menetap di coffe shop untuk waktu yang lama. Bahkan, Hanung bisa menghabiskan waktunya sampai pagi di sana, sekalipun telah melakukan banyak aktivitas sebelumnya. Kursi dan ketenangan coffe shop terasa lebih mendukungnya dalam menunaikan kewajiban.
View this post on Instagram
Sudah keluar beli kopi, bayar parkir lagi itu merugi
Menurut Hanung, mengeluarkan biaya parkir adalah rugi. Ia merasa biaya retribusi ini menggerogoti dompetnya, khususnya dengan layanan yang seadanya—hampir bisa disebut tidak ada juga.
“Rp2 ribu terlalu berharga untuk layanan nir-value,” katanya, Minggu (15/2/2026).
Meski boleh disebut kecil, hanya Rp2 ribu, biaya ini sebenarnya bernilai lebih. Tidak bisa dikeluarkan secara cuma-cuma. Perhitungan ini didasari pengeluaran dalam satu malam di coffe shop yang paling sedikit akan merogoh kocek Rp20 ribu kalau hanya untuk kopi, kemungkinan bertambah menjadi setidaknya Rp50 ribu untuk makan atau jajan. Karena itu, penilaian layak tidak membayar tukang parkir, kata Hanung, harus sesuai dengan tupoksi.
“Service lengkapnya jukir (juru parkir) kan menempatkan motor dan merapikannya saat kita datang, lalu merapikannya kalau kita mau pulang. Kebanyakan jukir coffe shop tidak memberikan layanan yang lengkap, kayak cuma malak duit doang,” jelasnya.
Yang dimaksudnya adalah kendaraan yang telah terparkir, khususnya sempurna, sering harus dikeluarkan sendiri. Alhasil, tukang parkir tidak benar-benar mempunyai fungsi, tetapi tetap menagih bayaran atas ilusi jasanya.
Parkir di Jogja sendiri telah diatur dalam Perda Kota Jogja Nomor 2 Tahun 2019. Tukang parkir berhak mendapat bagi hasil, tetapi mereka juga tidak boleh bekerja tanpa surat tugas resmi yang dapat ditunjukkan melalui karcis resmi.
Permasalahannya, kendaraan aja boro-boro diparkirin. Uang parkir belum tentu dikembalikan, dapat karcis jelas hanya hayalan.
Lebih baik pulang pagi karena nggak rela bayar parkir
Keenggakrelaan Hanung mengeluarkan uang parkir tidak sendiri. Ada Dhea (26) juga merasa tidak rela untuk membayar tukang parkir yang sering hanya menerima uang, lalu meninggalkan kendaraan dan pengemudinya tanpa diarahkan.
“Agak nggak rela kalau cuma nerima uang terus ditinggal,” kata Dhea, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, ia masih akan merasa ikhlas apabila kendaraannya diparkir mepet dan dalam kondisi ramai. Lalu, mereka membantunya untuk benar-benar mengeluarkan kendaraan dari parkiran.
Apalagi, untuk tukang parkir, yang akan membantu merapikan dan mengeluarkan motor dengan inisiatif, bahkan mengelap kendaraan apabila kehujanan. Dhea merasa membayar parkir adalah sebuah keharusan. Biayanya digunakan seperti seharusnya.
Namun, kondisi yang sering terjadi adalah sebaliknya. “Di tempat yang parkir dan keluarnya emang gampang banget dan jalan depan cafe nggak rame sama sekali rasanya nggak usah bayar parkir aja,” ungkapnya.
Kondisi inilah yang mendorong sebagian orang bersiasat untuk menghindar, membalas strategi tukang parkir dalam menghindari pengunjung tidak membayar. Karena mereka hanya akan bertahan sampai malam hari, pulang di pagi hari adalah keputusan paling tepat ketimbang mengeluarkan Rp2 ribu dengan cuma-cuma.
Setidaknya dua kali saya menyaksikan secara langsung beberapa teman yang sudah menyisihkan uang parkir di dalam coffe shop akan tersenyum lebar saat mengetahui tidak ada tukang parkir begitu keluar ruangan.
Meski kecil kemungkinan mereka benar-benar tidak tahu, ekspresi riangnya seakan-akan berhasil lolos dari jebakan mematikan.
“Nah, kalau pulang pagi kan, nggak ada tukang parkir,” kata salah satu teman saya saat kami pulang pagi pertama kali dari coffe shop di Jogja.
Begitu saya menanyai Eka yang juga pernah mengalami ini, dirinya bilang perasaan ini tanpa alasan khusus. Tapi, ia juga membenarkan perasaan senang ini. “Ya, happy, karena nggak perlu kena pungli yang ibaratnya cuma kayak ‘sini, sini’,” tutupnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Eksperimen Menghitung Penghasilan Tukang Parkir Kafe Estetik di Jogja: 2 Kali Gaji Karyawan Kafe Itu Sendiri dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














