Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sisi Suram Kota Malang yang Membuatnya Red Flag Disinggahi untuk Healing, apalagi Tinggal

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
31 Juli 2025
A A
Kota Malang tak cocok untuk slow living. MOJOK.CO

ilustrasi - Sisi suram Kota Malang yang tak bisa lagi dinikmati. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Selain terkenal sebagai Kota Pendidikan, Malang juga populer sebagai Kota Bunga dan Kota Wisata. Sayangnya, julukan tersebut perlahan-lahan memudar mengingat aktivitas warga Malang yang bikin resah wisatawan maupun perantau. Ia dianggap tak cocok sebagai tempat slow living.

Keindahan alam Kota Malang tak perlu dipertanyakan. Salah satu kota di Jawa Timur ini punya pemandangan alam lengkap, seperti pegunungan, perbukitan, laut, pantai, serta air terjun.

Objek wisata tersebut telah banyak didatangi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Namun akhir-akhir ini, wisatawan, perantau, bahkan akamsi alias anak kampung sini mengaku tak bisa menikmati kota itu lagi.

#1 Kota Malang darurat sampah

Sejak tahun 2019 lalu, Malang masuk sebagai salah satu kota darurat sampah. Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan sampah yang sudah dipilah dan masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) Supiturang dalam satu hari bisa mencapai 600 ton, di antaranya adalah sampah domestik maupun industri.

Sutiaji mengatakan masih kesulitan untuk mencari lahan baru guna mengatasi masalah tersebut, sebab beberapa di daerah Kota Malang menolak dijadikan TPA. Hal itu pun diakui oleh Novandya (30), seorang warga Malang yang memilih menjadi peternak maggot karena di daerah rumahnya warga kesulitan membuang sampah. 

Kebanyakan dari mereka memilih membakar sampah yang menyebabkan polusi. Sementara menurut Novandya, budidaya maggot juga bisa menjadi solusi karena maggot dikenal sebagai dekomposer atau mengurai sampah organik.

“Salah satu motto hidupku adalah meninggalkan legasi baik untuk sekitarku dan masih bermanfaat di masa depan. Jadi semisal aku mati nih, aku terkenalnya bakal seperti apa? Aku ingin memberikan kontribusi terbaikku selama hidup.” Kata Novandya.

#2 Jalanan yang macet parah

Sejak merantau ke Kota Malang, Ines (24) menyadari kemacetannya tak terlalu berbeda dengan Surabaya, kota asalnya. Ines mewajari hal tersebut karena Kota Malang memiliki banyak universitas, sekolah, maupun lembaga bimbingan belajar yang membuatnya terkenal sebagai Kota Pendidikan.

“Otomatis, saat pagi hari terutama di antara jam 6.00 WIB hingga 07.00 WIB, volume kendaraan jadi naik karena aktivitas rutin orang berangkat ke sekolah dan kerja. Utamanya jalan menuju kampus,” ucap Ines.

Banyaknya mahasiswa yang merantau dan tinggal di Kota Malang seperti Ines, menghidupkan bisnis coffe shop di sana. Bahkan, kata Ines, tempat tersebut tak hanya dijadikan nongki sebab juga menyediakan ruang rapat atau ruang belajar.

#3 Tercemar karena sound horeg

Baru-baru ini, sejumlah pembisnis sound horeg mendeklarasikan perubahan nama menjadi sound karnaval Indonesia. Disinyalir, sound yang menghasilkan suara sangat keras ini berasal dari Jawa Timur, khususnya Malang.

Ines mengaku, fenomena sound horeg ini kebanyakan terjadi di Kabupaten Malang. Walaupun tidak terjadi di daerah kota, Ines mengaku masih terkena imbasnya. Mulai dari macet parah dan citra Kota Malang yang kian memudar.

“Dimana lagi aku harus mencari ketenangan?” ucap Ines yang memang berniat menetap di Kota Malang, karena dulu merasa tempatnya cocok untuk slow living. 

Namun, kini ia hanya bisa menggerutu karena fenomena sound horeg itu. Begitu pula Danar, laki-laki asal Banyuwangi yang kini tinggal di Kota Malang itu hanya bisa pasrah. 

“Aku sudah mulai menerima keadaan. Mau protes ya nggak guna,” ucapnya.

Baca Halaman Selanjutnya

Mahasiswa kumpul kebo

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2025 oleh

Tags: healingkota bungaKota MalangKota Pendidikankumpul keboslow livingsound horeg
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026
Cinta yang Tak Berbalas Bikin Perempuan Crush Recession hingga Belum Menikah. MOJOK.CO

Crush Recession: Jatuh Cinta Terasa Melelahkan, bikin Perempuan Malas Pacaran

4 Agustus 2026
Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman meluncurkan aplikasi Gandheng ATS untuk atasi masalah anak putus sekolah MOJOK.CO

Sleman Punya Aplikasi Pencegahan Dini Anak Tidak Sekolah

5 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.