Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Januari 2024
A A
Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi MOJOK.CO

Ilustrasi Mendengar Kepiluan Pak Tua Tanpa Rumah yang Terkatung-Katung di Sepanjang Sumbu Filosofi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Laki-laki renta ini harus kucing-kucingan dengan petugas demi bisa merebahkan badannya di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Bukan hanya kesulitan mencari tempat untuk tidur, rasa lapar adalah temannya sehari-hari.

***

Seorang laki-laki tua, yang saya taksir berusia lebih dari 60 tahun, baru saja menata tempat tidurnya di pinggiran Jalan Margo Utomo (dulu Jalan Pangeran Mangkubumi), Kota Jogja, Rabu (10/01/2024) dini hari. 

Kalian jangan berharap ada bantal, guling, selimut hangat atau bahkan kasur dari yang saya sebut “tempat tidurnya” tadi. Kardus bekas jadi alas tidurnya, dan sarung tua berwarna biru jadi satu-satunya penghalau dingin malam buat dia.

Pintu ruko jadi satu-satunya tempat bersandarnya malam itu. Gerobak berisi plastik-plastik bekas itu juga menjadi barang berharga semata wayang mungkin ia punya. Tak ada teman, tak ada lawan bicara, ia hanya sendiri.

Malam itu sudah amat larut. Waktu telah memasuki pukul 1 dini hari. Saya pun menjadi ragu untuk mendatangi dan mengajaknya berbincang. Dalam kepala saya, ada kekhawatiran kalau itu hanya akan mengganggu waktu istirahat dari harinya yang begitu berat.

Saya pun hanya duduk sendirian di samping Halte Trans Jogja di dekat kantor surat kabar Kedaulatan Rakyat. Cukup lama saya menyaksikan lelaki tua itu. Sebatang kretek dan lantunan lagu “Air Mata Api” Iwan Fals yang mengalun dari earphone yang saya pakai, menambah haru pemandangan malam itu.

Saya tidak tahu apakah lagu ini cukup menggambarkan laki-laki tua yang terkulai di pinggir jalan itu. Sebab, belum habis lirik-liriknya saya hayati, kaki ini memutuskan untuk berjalan menghampirinya.

Koran lawas jadi satu-satunya hiburannya di Sumbu Filosofi

Saya merasa lega karena saat menghampirinya, ternyata lelaki lanjut usia itu belum tidur. Ia hanya duduk bersandar di pintu ruko sambil membaca sebuah koran. 

Saya sempat memperhatikan, ternyata surat kabar yang ia baca adalah edisi lama. Terlihat dari tanggalnya, 30 Desember 2023. Entah mengapa dia masih membaca koran lama itu. Mungkin, itu satu-satunya hiburan yang ia punyai.

“Pak, maaf mengganggu. Mohon diterima, ada sedikit rezeki buat Bapak,” kata saya, kulonuwun sambil memberinya beberapa roti dan minuman. 

Saya tahu itu tak seberapa. Tapi secercah senyum membinar dari wajahnya. Ia berkali-kali mengucap terima kasih. Lelaki ini juga mengatakan bahwa sudah sejak kemarin ia belum makan apa-apa.

Kami sempat berkenalan dan saya tahu bahwa namanya Wardi. Sayangnya, ia tak mengingat betul berapa usianya. Tahun lahir pun juga lupa. Satu hal yang ia ingat adalah saat terakhir kali ia makan.

“Kemarin [terakhir kal] makan. Ada ibu-ibu yang membagikan nasi bungkus,” katanya malam itu. 

Iklan
Ngatiyo, tukang becak di Jalan Margo Utomo saat diambil gambarnya, Jumat (11/8/2023). Sudah biasa ia berhari-hari ia tidak mendapatkan penumpang MOJOK.CO
Ngatiyo, tukang becak di Jalan Margo Utomo saat diambil gambarnya, Jumat (11/8/2023). Sudah biasa ia berhari-hari ia tidak mendapatkan penumpang. (Foto Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Saya juga sempat mengguyoninya, mengapa ia membaca koran edisi 2023, padahal ini sudah tahun 2024.

“Enggak ada apa-apa yang bisa menghibur diri, Mas. Adanya ini gratis,” katanya dengan tawa kecil, sambil beberapa kali suara kecapan roti yang ia kunyah terdengar dari mulutnya.

Kata Wardi, ia mendapatkan koran-koran itu secara gratis. Kadang dari beberapa tukang becak yang ia temui, kadang ada penjual koran eceran yang sengaja memberinya secara percuma, dan tentu yang paling banyak adalah nemu aja di pinggir jalan.

Sumbu Filosofi Jogja bukan tempatnya para homeless

Tempat saya dan Wardi berbincang, terletak di pinggiran Jalan Margo Utomo, secara teknis memasuki kawasan Sumbu Filosofi Jogja.

Melansir laman Kemendikbud, kawasan ini merupakan sebuah garis imajiner yang ditarik lurus dari Panggung Krapyak, Kraton Jogja dan Tugu Pal Putih. Sumbu ini merupakan simbol dari keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablum minallah), manusia dengan manusia (Hablum minannas), dan manusia dengan alam.

Pada September 2023 lalu, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) menetapkan Sumbu Filosofi Jogja sebagai salah satu warisan dunia dari Indonesia pada Sidang ke-45 Komite Warisan Dunia atau World Heritage Committee (WHC) di Riyadh Arab Saudi. 

Salah satu komitmen Pemda DIY soal Sumbu Filosofi adalah menjamin “tak adanya orang miskin” di kawasan ini. Banyak upaya yang sudah Pemda lakukan. Salah satu upayanya, dan sempat ramai dikritik, adalah patroli para homeless atau apa yang mereka sebut sebagai gelandangan. Sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia, banyak operasi telah dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk menertibkan para homeless dari kawasan ini, khususnya di wilayah-wilayah sekitar keraton dan Malioboro.

Baca halaman selanjutnya…

Sudah sering diminta pergi dari Sumbu Filosofi Jogja

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2024 oleh

Tags: gelandanganJogjapilihan redaksisumbu filosofi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang Doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek Mojok.co

Motor Matic Sering Dibilang Ringkih dan Modal Tampang doang, tapi Saya Tetap Memilihnya daripada Motor Bebek

28 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.