Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pamulang, Kecamatan Terpadat di Tangerang Selatan yang Tak Ramah Pekerja, Gaji Perantau Habis buat Hidupi Preman

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 Mei 2025
A A
Kecamatan Pamulang Tangerang Selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pamulang, Kecamatan Terpadat di Tangerang Selatan yang Tak Ramah Pekerja, Gaji Perantau Habis buat Hidupi Preman (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dua tahun kerja gaji habis buat menghidupi preman

Kisah lain yang barangkali lebih tragis dialami Tio, bukan nama sebenarnya. Di media sosial X (Twitter), ia pernah curhat mengenai pengalamannya “hidup bersama preman” di Pamulang, Tangerang Selatan. Ia bahkan menyebut, premanisme di Pamulang lebih parah ketimbang kecamatan tetangga yang dianggap sebagai “markas preman/ormas”, yakni Ciledug.

Mojok sendiri pernah menulis artikel mengenai Ciledug, yang mana kawasan ini nyaman buat ditinggali, kecuali bagi kalian yang fobia ormas. Tulisannya bisa kalian baca di sini.

Iklan

Kepada Mojok, Tio bercerita, selama dua tahun kerja di Pamulang, ia hidup di kompleks kos-kosan yang sebagian besar penghuninya adalah preman. Literally preman, dengan segala label penampilan yang melekat pada mereka.

Sebenarnya, selama kerja di Pamulang pada 2014-2016, Tio bisa hidup enak. Gajinya besar, lingkungan kerja juga mumpuni. Sayangnya, gajinya kerap habis untuk menghidupi para preman di sana.

“Aku sendiri lupa gimana caranya aku bisa sampai tinggal di kos tersebut. Yang jelas, kayak kejebak aja rasanya, nggak bisa keluar sebisa kamu mencoba,” kata dia, Kamis (22/5/2025).

Tio ingat, dulu sempat ada “setoran rutin”. Tiap hari, ia memberi jatah sekali makan dan sebungkus rokok ke preman. Alasannya, uang keamanan buat menjaga lingkungan kos tersebut. Ia tak bisa menolak, karena di lingkungan itu nyaris semua penghuni melakukan hal yang sama.

“Sampai di titik, aku pernah sebulan gaji benar-benar habis tak tersisa. Transfer ke orang tua pun tidak, karena ya memang habis buat ngasih makan mereka.”

Sampai trauma kembali lagi ke Pamulang, Tangerang Selatan

Beberapa kawan dia mengatakan kepadanya, satu-satunya jalan keluar Tio untuk lepas dari “jerat” preman adalah keluar dari Pamulang. Takutnya, seandainya ia pindah kos ke kawasan lain yang tak jauh, tetap dicari-cari.

“Soalnya dari banyak kasus memang begitu,” ungkapnya.

Alhasil, setelah dua tahun bekerja di Pamulang, ia memutuskan untuk resign dan meninggalkan kota itu. Tio pergi jauh-jauh karena merasa trauma dengan perlakuan preman.

“Pas tadi lihat ramai-ramai di berita soal preman di Pamulang, itu sih membuka luka lama aja.”

Tio tak bercerita kini ia bekerja di kota mana. Yang jelas, sejak 2017 ketika pertama ia meninggalkan tempat kerjanya, dirinya tak pernah datang lagi ke Pamulang. Meskipun itu cuma lewat.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

Iklan

BACA JUGA: Kecamatan Gedebage Bandung Rusak karena Salah Urus Pemerintahnya, Warga Menderita oleh Banjir dan Bau Busuk Sampah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2025 oleh

Tags: kecamatan pamulangkecamatan pamulang tangerang selatanpamulangpilihan redaksipremanismetangerang selatan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.