Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ngekos di Kecamatan Beji Bikin Membuka Mata dengan Sisi Gelap Mahasiswa Depok

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Mei 2025
A A
Ngekos di Kecamatan Beji Membuka Mata dengan Sisi Gelap Mahasiswa Depok.MOJOK.CO

Ngekos di Kecamatan Beji Membuka Mata dengan Sisi Gelap Mahasiswa Depok (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kecamatan Beji menjadi salah satu kawasan yang terkenal di Depok, Jawa Barat. Pasalnya, kecamatan ini menjadi rumah bagi banyak mahasiswa. Terutama dari kampus-kampus elite seperti Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gunadarma.

Di kecamatan ini pula, terdapat daerah-daerah yang terkenal sebagai “kampung kos-kosan”. Seperti Pondok Cina dan Kukusan. Kawasan kos ini juga terkenal “merakyat” karena menawarkan harga yang cukup miring bagi penghuninya.

Alhasil, tak salah kalau orang-orang menyebut Beji sebagai tempatnya “orang-orang terpelajar”, sebab penghuninya mayoritas mahasiswa. Namun, yang banyak orang tak tahu, kawasan ini juga merekam kisah-kisah kelam dari mahasiswa di Depok.

Salah satunya pada dua tahun lalu, kabar menghebohkan datang ketika salah seorang mahasiswa Sastra Rusia UI, MAZ (19) ditemukan tewas di kamar kosnya. Barang-barang berharganya juga hilang. Berdasarkan penelusuran polisi, MAZ dibunuh oleh salah seorang seniornya di kampus.

Ketika huru-hara itu muncul, Alim (24) kebetulan masih tinggal di kos kawasan Kukusan, Kecamatan Beji. Kosnya cuma berjarak beberapa bangunan dari tempat kejadian perkara (TKP). Kejadian itu jelas membuat shock.

Namun, di luar kejahatan tersebut, Alim mengakui kejadian tersebut tidak mengagetkan kalau mengetahui kultur kehidupan mahasiswa di sini. Selama tinggal di Beji, ia mengaku bertemu dengan mahasiswa dengan kelakuan “random bin ajaib” yang amat meresahkan.

“Sebenarnya kalau lihat kasus pembunuhan di Kukusan kemarin, itu puncak gunung es aja. Bahasa ilmiahnya ‘kulminasi’ dari apa yang mereka lakukan selama ini. Ya, kejadian-kejadian kayak begitu tinggal menunggu waktu,” ucap alumni UI, yang baru saja lulus, ketika dihubungi Mojok, Kamis (8/5/2025) sore.

Kumpul kebo jadi hal lumrah di kos Beji, Depok

Datang dari kultur masyarakat desa nan agamis (sesuai nama dia, sih), Alim mengaku kaget ketika pertama ngekos di Kecamatan Beji, Depok. Sebenarnya, alasannya memilih kawasan ini karena dua faktor.

Pertama, karena rekomendasi grup kuliahnya. Kawasan kos di Kukusan, Beji, dianggap paling terjangkau secara harga ketimbang kos di daerah lain. Sementara kedua karena lokasinya yang dekat dengan kampus. Hingga hampir lulus kuliah, Alim tak membawa motor sendiri, sehingga ia memilih kos yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari kampus.

Meski cukup ideal bagi mahasiswa sepertinya, sayangnya ia langsung dibikin ngelus dada hanya beberapa hari setelah menempati kosnya. Sebagai informasi, kos-kosan Alim cuma diperuntukkan buat mahasiswa laki-laki. Bahkan aturannya pun jelas: ada jam malam, jam bertamu, dan tamu lawan jenis dilarang menginap.

“Tapi, banyak penghuni yang nginepin pacarnya. Awalnya aku kira diem-diem, pemilik kos kupikir nggak tahu. Eh, tahunya itu udah biasa. Lanang-wedok (laki-laki dan perempuan) boleh sekamar di sini,” ungkapnya.

Ada sekitar 20 kamar di kosnya. Ia berani bilang lebih dari setengah penghuni tinggal bareng pacarnya di kosan Beji tersebut. Baginya, ia cuma satu dari sedikit yang masih “lurus-lurus saja”.

“Aku nggak mau ngomongin moral ya. Balikin ke masing-masing aja. Cuma kaget sih, soalnya di kultur perdesaan nggaka ada. Hahaha.”

Banyak mahasiswa terjerat pinjol, sampai kerap didatangi debt collector

Yang bikin Alim makin kaget, ternyata banyak mahasiswa yang tinggal di kos Kecamatan Beji terjerat pinjol. Ia tak mau bilang mereka mahasiswa mana dan terjerat pinjol untuk kebutuhan apa.

Iklan

Tapi yang jelas, tiap harinya nyaris ada debt collector (DC) yang datang mencari sang mahasiswa. Alim mau tak mau kudu menanggapi para DC. Karena kadang tak kenal dengan mahasiswa yang dicari, ia cuma kasih bisa penjelasan seadanya.

“Kadang ada DC yang marah. Bilang mau obrak-abrik kos. Malah aku yang kena ancam, padahal yang utang orang lain,” geramnya.

Yang membuatnya tak kalah terkejut, nominal utang pinjol mahasiswa ini besar-besar. Rata-rata puluhan juta. Alim menduga gaya hidup yang “terlalu mewah” ditambah kebiasaan judi online bisa jadi adalah penyebab utang yang menumpuk.

“Awalnya kaget. Tapi lama tinggal di sini dan paham gimana gaya hidup mereka, ya nggak heran juga kalau utang mereka banyak.”

Setelah lulus di UI Depok dan memutuskan melanjutkan S2 di Jogja, Alim mengaku masih kerap mendengar kabar miring soal Kecamatan Beji. Kalau ada info-info kriminalitas, kata dia, pasti langsung ramai di grup WA-nya.

Makanya, seperti yang dia bilang, kasus pembunuhan mahasiswa yang sempat ramai itu sebenarnya cuma fenomena gunung es. Mereka, yang paham bagaimana gaya hidup mahasiswa di sana, tak akan kaget mendengarnya.

“Nggak ada asap kalau nggak ada api,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Manggarai, Saksi Bisu Sarjana Pura-pura Sukses di Jakarta Selatan: Tinggal di Gang Sempit dan Bertahan Hidup Rp20 Ribu Sehari atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 9 Mei 2025 oleh

Tags: bejidepokkecamatan bejikecamatan beji depokkos di depokkota depok
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

10 Tanda Kamu Sudah Muak dengan Kota Depok dan Ingin Pindah MOJOK.CO
Esai

10 Tanda Kamu Sudah Muak dengan Kota Depok. Segera Pindah Sebelum Kamu Jadi Gila dan Menua di Jalanan

6 September 2024
bisnis online.MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Menyelamatkan Toko Puluhan Tahun Warisan Keluarga dengan Bisnis Online, Cuan Jadi Berlipat

9 Agustus 2024
Kos Kutek Depok, Saksi Rusaknya Mahasiswa UI di Perantauan, Bikin Susah Warga dan Orang Tua.MOJOK.CO
Ragam

Kos Kutek Depok, Saksi Rusaknya Mahasiswa UI di Perantauan, Bikin Susah Warga dan Orang Tua

30 Juni 2024
Dukuh Sanggrahan, Daerah Termaju di Condongcatur yang Jadi Saksi Muramnya Nasib Para Pekerja Jogja.MOJOK.CO
Ragam

Dukuh Sanggrahan, Daerah Termaju di Condongcatur yang Jadi Saksi Muramnya Nasib Para Pekerja Pakuwon Mall Jogja

19 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.