Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

KA Penataran, Saksi Kerasnya Hidup Penglaju Surabaya-Malang: Sumpek, Tapi Merasa Aman Karena Tak Ada Rivalitas Bonek-Aremania

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
27 Juni 2024
A A
KA Penataran, Saksi Kerasnya Hidup Penglaju Surabaya-Malang: Sumpek, Tapi Merasa Aman Karena Tak Ada Rivalitas Bonek-Aremania.MOJOK.CO

Ilustrasi KA Penataran, Saksi Kerasnya Hidup Penglaju Surabaya-Malang: Sumpek, Tapi Merasa Aman Karena Tak Ada Rivalitas Bonek-Aremania (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kereta Api (KA) Penataran menjadi andalan bagi mahasiswa dan pekerja yang laju dari Surabaya ke Malang, atau sebaliknya. Penumpangnya tak pernah sepi, bahkan terkesan selalu sesak. Meski demikian, ia tetap diandalkan lantaran lebih aman dan murah ketimbang moda transportasi lain.

Meski punya waktu tempuh dua jam dari Surabaya ke Malang, banyak orang tetap memilih menjadi penglaju ketimbang ngekos. Pertimbangannya macam-macam. Paling umum, sih, karena setelah dihitung ternyata opsi laju lebih hemat.

“Dua tahun aku kerja di Malang, nggak pernah ngekos. Laju, PP rumah ke kantor pakai KA Penataran,” kata Adil (24), bercerita kepada Mojok, Rabu (26/6/2024) malam.

“Kalau aku hitung, laju itu dalam sehari rata-rata habis 30-40 ribu. Lah kalau ngekos, belum uang kos, uang makan harian, bisa membengkak,” imbuh lelaki asal Surabaya tersebut.

Sebelum pandemi, pada 2017 hingga akhir 2019, Adil bekerja kantoran yang lokasinya tak jauh dari Gedung DPRD Kota Malang. Tiap hari, ia laju dari Stasiun Wonokromo menggunakan KA Penataran dan berhenti di Stasiun Malang.

“Jam limaan pagi berangkat, sampai Malang jam tujuh. Stasiun ke kantor jalan kaki 10 menitan. Kalau dipikir-pikir memang capek, tapi mau gimana lagi, aku dah komitmen mau begitu,” ujarnya.

KA Penataran Surabaya Malang.MOJOK.CO
Ilustrasi KA Penataran arah Surabaya yang tengah singgah di Stasiun Malang (Wikimedia Commons)

Selain merasa lebih hemat, Adil memilih jadi penglaju pakai KA Penataran karena alasan rivalitas Bonek-Aremania. Bukan membenci salah satu kelompoknya. Tapi, Adil menghindarinya karena pernah mengalami kejadian tak mengenakan akibat rivalitas tadi.

Korban rivalitas Bonek-Aremania, takut ngekos gara-gara sweeping

Pada 2017 lalu, Adil belum menjadi kaum pengjalu yang pulang-pergi menggunakan KA Penataran. Ia bercerita sempat ngekos di Malang selama hampir dua bulan. Sama seperti perantau lainnya, hanya di akhir pekan atau hari libur saja ia pulang ke Surabaya.

Sayangnya, situasi berubah 180 derajat tatkala lingkungan kosnya tiba-tiba mencekam. Awalnya, Adil mengira terjadi perseteruan antarlembaga kampus atau semacamnya. Sebab ia memang ngekos di lingkungan mahasiswa.

Namun ternyata, keramaian itu terjadi lantaran ada oknum suporter yang sedang sweeping nomor kendaraan di lingkungan kosnya.

“Jujur mencekam banget kalau diingat-ingat,” kenang Adil. “Banyak orang masuk ke gang-gang kos. Meriksa motor satu-satu. Ada yang bawa balok kayu, udah kayak siap perang.”

Penumpang setia KA Penataran ini mengaku kalau dirinya tak terlalu paham apa yang sebenarnya terjadi. Meski lahir di Surabaya, kota yang gila bola, ia sama sekali tak mengikuti perkembangan olahraga tersebut. Soal rivalitas kedua kelompok suporternya pun ia juga masa bodo.

Sial baginya. Nomor kendaraannya adalah L. Adil tak bisa mengelak kalau dia berasal dari Surabaya. Alias, dia menjadi salah satu sasaran sweeping para suporter.

“Malu ngakuinnya, tapi aku ya jujur-jujur aja saat itu nangis. Pasrah aja mau diapain,” jelasnya.

Iklan

Saat dalam kondisi pasrah, untungnya pemilik kos berdebat panjang dengan para suporter. Adil tak terbukti sebagai bonek, seperti yang mereka asumsikan tadi. Ia pun bisa bernapas lega.

“Sumpah trauma itu masih membekas. Tapi aku bingung juga, resign dari kerjaan nggak mungkin tapi kalau gini-gini terus bisa kena hajar di jalanan. Makanya aku putusin laju aja pakai KA Penataran. Biarpun capek tapi nyawa aman.”

Belajar banyak, di KA Penataran banyak orang lebih menderita daripada dirinya

Saat awal-awal berkomitmen buat pulang pergi Surabaya-Malang pakai KA Penataran, Adil mengaku merasa amat menderita. Bagaimana tidak, pukul 5 pagi dia sudah dituntut buat ada di Stasiun Wonokromo. Sebab, kalau ikut keberangkatan berikutnya pukul 7 pagi, ia bakal terlambat sampai kantor.

Jam kerjanya rampung pukul 4 sore, sedangkan keberangkatan KA Penataran dari Malang ke Surabaya pukul setengah 7 malam. Waktu tunggu hampir 3 jam ini yang kadang membuatnya stres.

“Lima hari dalam seminggu, waktuku habis di kereta. Berangkat subuh, terus sampai rumah lagi jam 9 malam. Itu udah nggak ada kehidupan lagi, langsung tidur biar besok nggak telat,” keluhnya.

Ia sempat mencoba beberapa opsi. Pakai bus, misalnya, yang ternyata lebih mahal dan jam keberangkatan tak tentu. Sementara kalau pakai motor, lebih tidak mungkin karena bakal menguras tenaga. Belum lagi kalau ada sweeping lagi, bakal repot.

Namun, rasa lelah itu ternyata tak seberapa kalau dibandingkan pekerja lain yang bernasib sama sepertinya.

“Di KA Penataran ini aku berangkatnya sering ketemu bapak-bapak. Kita naik bareng, stasiun tujuan aja yang beda. Bapak ini petugas kebersihan, kayak tukang kebon gitu di Malang. Gajinya kecil banget, masyaallah, mana katanya udah 20 tahun lebih kerja di sana.”

Bapak-bapak petugas kebersihan itu baru satu orang. Ketika jam 5 pagi, kata Adil, Stasiun Wonokromo sudah penuh “dengan orang-orang kayak zombie”. Wajah-wajah lelah yang mungkin baru tidur beberapa jam tersebut sudah harus berdesak-desakan dalam kereta menuju Malang.

“Gimana nggak merasa ditampar, aku masih muda udah ngeluh. Mereka-mereka ini sudah sepuh tapi masih semangat,” tutup lelaki yang sejak 2023 lalu telah bekerja di Jogja.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kerasnya Hidup Perantau di Wonocolo Surabaya, Banyak yang Sulit Makan di Kos Kumuh Tengah Gang Sempit

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 27 Juni 2024 oleh

Tags: ka penatarankereta api penatarankereta surabaya-malangMalangSurabaya
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.