Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Puluhan Tahun Tinggal di Jagakarsa, Berdamai dengan Hal-hal Menyebalkan di Balik Label “Daerah Ternyaman” Se-Jakarta Selatan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
17 Mei 2025
A A
23 tahun tinggal di Jagakarsa, daerah terluas dan paling nyaman di Jakarta Selatan (Jaksel) MOJOK.CO

Ilustrasi - 23 tahun tinggal di Jagakarsa, daerah terluas dan paling nyaman di Jakarta Selatan (Jaksel). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Daerah resapan air, tapi masih kena banjir?

Dalam Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Bagian Wilayah Kota (RBWK) Tahun 1985-2005, diperkuat juga dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta 2030, Jagakarsa memang ditetapkan sebagai daerah resapan air di Jakarta Selatan.

“Mungkin juga minus tinggal di sini konturnya nggak rata. Jadi ada tempat-tempat yang kalau ujan deres bisa banjir sebetis, tapi sampingnya tuh bisa nggak banjir sama sekali karena konturnya beda,” jelas Fatih.

Beberapa daerah yang rawan terendam banjir jika hujan dengan intensitas tinggi, misalnya Jalan Mohammad Kahfi II dan Cipedak. Fatih sendiri merasa beruntung karena rumahnya di Srengseng Sawah tidak termasuk dalam daerah yang rawan banjir. Itu menjadi nilai lain yang membuatnya betah tinggal di daerah terluas kedua di Jaksel ini.

Jagakarsa Jakarta Selatan (Jaksel) tak luput dari macet parah

Tapi bagaimanapun, Jagakarsa adalah bagian dari Jakarta. Mungkin udara sejuk dan kerindangannya menjadi pembeda. Tapi ada satu hal yang rasa-rasanya sama saja di belahan Jakarta manapun: macet.

Fatih mengakui, terutama di jam-jam berangkat kerja dan pulang kerja, ada beberapa ruas jalan yang macetnya minta ampun. Terutama di Jalan Mohammad Kahfi I dan II.

“Sebenernya Jagakarsa tuh punya banyak jalan alternatif alias jalan tikus,” ucap Fatih. Tapi melewati jalan tikus di Jagakarsa bagi Fatih yang bahkan sudah 23 tahun tinggal di sana masih terasa sangat merepotkan. Karena jalannya meliuk-liuk dan terlalu banyak percabangan.

Kesal karena sering dikira Depok

Secara geografis, Jagakarsa adalah daerah paling ujung selatan di Jakarta Selatan. Berbatasan langsung dengan Kota Depok. Inilah sisi menyebalkannya bagi Fatih.

“Orang sering nganggep Jagakarsa bagian dari Depok,” kata Fatih.

Bahkan di media sosial X ada ceng-cengan: Orang Jagakarsa selalu ngaku-ngaku Jaksel tiap ditanya “Dari mana?” Apa susahnya mengakui kalau Jagakrsa itu Depok.

Loh, kan memang Jagakarsa itu bukan Depok, tapi masih Jakarta Selatan.

Salah paham tersebut sebenarnya bukan persoalan serius. Hanya saja, menjadi sangat menyebalkan jika ada berita-berita miring tentang Depok lantaran ulah warganya.

Bisa menikmati kuliner Betawi, tapi heran sama pengamen ondel-ondel

Apa yang digambarkan Fatih—sebagai warga asli—tentang Jagakarsa juga diamini oleh Dito (27), seorang pendatang dari Ciamis, Jawa Barat yang bekerja di TB Simatupang.

Dito menyebutnya sebagai anomali kawasan urban. Sebab, umumnya kawasan urban—apalagi di Jakarta—identik dengan panas, semrawut, kumuh, dan sederet ketidaknyamanan lainnya. Tapi dia merasa nyaman di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Habis melihat hiruk-pikuk Jaksel, terus bisa santai dengan suasana asri. Karena kontrakanku di sebuah perkampungan asri,” ujarnya. Sementara banyak perantau di Jakarta mengaku, kerap kali harus menetap di kawasan kumuh.

Iklan

“Jagakarsa juga kayak jadi pusat budaya Betawi. Terutama di Srengseng Sawah, karena ada cagar budaya Betawi (Setu Babakan),” sambungnya. Amat mudah pula bagi Dito menemukan kuliner-kuliner khas Betawi di Jagakarsa.

Tapi ada satu hal yang bagi Dito agak mengganggu, yakni keberadaan pengamen ondel-ondel. Sebab, kendati sudah ada larangan dari Pemprov DKI Jakarta, tapi masih ada pengamen ondel-ondel kerap muncul di jalanan.

Bahkan saat malam hari pun ada juga yang keliling masuk-masuk perkampungan. Suaranya terasa agak mengganggu.

Jangan gunakan ondel-ondel untuk mengamen

Sejak 2021 lalu, Pemprov DKI Jakarta mulai menaruh perhatian pada penertiban pengamen ondel-ondel. Terutama jika mengganggu ketertiban umum seperti di jalanan atau di kawasan permukiman padat.

Pihak Pemprov DKI saat itu menilai ondel-ondel seharusnya tidak “direndahkan” nilainya dengan menjadikannya atribut ngamen. Jika hendak dilestarikan, haruslah dalam wadah yang layak.

Namun, hingga saat ini, upaya penertiban itu masih membentur situasi dilema. Pengamen ondel-ondel terbentur persoalan ekonomi. Sementara di sisi lain, ada warisan budaya yang seharusnya ditempatkan secara semestinya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cilandak Jakarta Selatan Daerah Elite tapi Tak Aman Gaji di Bawah UMR buat Kredit Motor Langsung Hilang sebelum Sebulan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 Mei 2025 oleh

Tags: jagakarsajakarta selatanJakselpengamen ondel-ondel
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel MOJOK.CO
Ragam

Kemang, Saksi Bisu Kepura-puraan Perantau Jawa: Rela Ngomong “Lu-Gue” hingga Paksa Selera Musik demi Bisa Bergaul di Jaksel

6 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”, Karena Simpel dan Solutif

16 Februari 2026
Nguping obrolan penjaga toko kelontong/warung Madura hingga kuat teleponan berjam-jam MOJOK.CO

“Nguping” dan Mengulik Topik Obrolan Penjaga Warung Madura hingga Kuat Teleponan Berjam-jam, Tidak Ada Habisnya

11 Februari 2026
Geliat open bo di MiChat saat malam Valentine: pelampiasan lewat layanan "rasa pacar" MOJOK.CO

Geliat Layanan Open BO “Rasa Pacar” di MiChat, Pelampiasan dan Upaya “Laki-laki Gagal” Mencari Validasi

14 Februari 2026
Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat MOJOK.CO

Dilema Genteng Tanah Liat: Sejuk di Jogja, tapi Jadi Horor di Sumatera Barat

11 Februari 2026
Gabung LPM/Persma demi jadi wartawan/jurnalis karena tampak keren. Kini menyesal setelah kerja di media online daerah dengan gaji rendah MOJOK.CO

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026
Imlek 2026 di Candi Prambanan dan Candi Borobudur. MOJOK.CO

Tahun Kuda Api Imlek 2026: Mencari Hoki Lewat Kartu Tarot di Antara Kemegahan Prambanan dan Borobudur

15 Februari 2026

Video Terbaru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026
Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.