ADVERTISEMENT

Grab Hemat bikin Penumpang Bahagia, Tapi Driver Makin Menderita karena Harus Bayar Lagi kalau Tak Mau Orderan Sepi

Akases Hemat biar dapat orderan Grab Hemat bikin driver makin tersiksa MOJOK.CO

Akses Hemat paksa driver pakai Grab Hemat

“Itu memang tidak diwajibkan. Tapi kenyataannya, para mitra seolah dipaksa buat mengikutinya,” sementara begitu keluhan dari Utomo (27), salah seorang mitra GrabBike asal Jogja kepada saya, Senin (5/5/2025) malam WIB.

Bagaimana tidak. Jika tidak mengikuti, maka orderan bisa terancam sepi. Karena kenyataannya memang banyak penumpang memilih Grab Hemat.

Sebab, dengan lokasi antar-jemput yang sama, jarak yang sama, dan waktu tempuh yang sama, penumpang akan mendapat harga di bawah reguler. Sedangkan bagi driver, pada jarak tempuh yang jauh, selisihnya tentu akan sangat terasa. Dan itu memberatkan sekali.

“Sedangkan kalau ikut program, maka pendapatan terancam makin berkurang,” tutur Utomo.

Ilusi pendapatan naik

Adapun skema pembayaran Akses Hemat itu, kata Utomo, adalah memotong pendapatan driver di akhir hari (memotong total pendapatan dalam sehari).

“Per order bisa Rp2 ribu kalau sehari ambil satu orderan. Sampai maksimal di Rp13 ribu untuk tujuh orderan atau lebih. Akan lebih ringan pembayarannya jika mendapat orderan lebih dari tujuh,” beber Utomo.

Bagi Utomo, hanya ada satu solusi agar para mitra driver tidak menderita. Yakni hapus saja program Akses Hemat dan layanan Grab Hemat. Sebab, alih-alih meningkatkan pendapatan, program itu—setidaknya yang Utomo dan teman-temannya sesama mitra rasakan—justru membuat pendapatan makin berkurang.

Jeritan yang diabaikan

Pada penghujung April 2025 lalu sempat terjadi aksi demonstrasi oleh para mitra driver di berbagai daerah, dari Bali, Balikpapan, Medan, Jogja, hingga Jakarta. Para mitra driver menuntut penghapusan program dan layanan “Hemat” tersebut.

Akan tetapi, hingga saat ini, jeritan itu seperti diabaikan begitu saja. Tidak ada tanda-tanda kabar baik yang akan datang.

Kenapa tidak keluar saja dari pekerjaan itu jika makin ke sini makin memberatkan?

Di Indonesia saat ini nyaris tidak ada posisi yang lebih baik. Pilihannya hanyalah buruk dan lebih buruk. Berhenti jadi driver barangkali membuat seseorang keluar dari posisi buruk. Tapi akan mengantarkan ke posisi yang lebih buruk: menganggur. Cari pekerjaan makin susah. PHK di mana-mana tak terbendung.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Coba-coba Order Zendo (Ojol Muhammadiyah) di Jogja, Berujung Tak Tega sama Driver-nya atau liputan Muchamad Aly Reza lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2025 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.