Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dilema Pelestarian Budaya dan Eksplorasi Wisata di Jogja hingga Salah Tafsir pada Pangeran Diponegoro

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Februari 2025
A A
Dilema Kraton Jogja di tengah pelestarian budaya, peningkatan wisata, dan pengembangan teknologi MOJOK.CO

Ilustrasi - Dilema Kraton Jogja di tengah pelestarian budaya, peningkatan wisata, dan pengembangan teknologi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ada dilema antara pelestarian budaya dan eksplorasi wisata saat berhadapan dengan teknologi. Termasuk dalam konteks Jogja sebagai kota budaya dan wisata. Hal itu disampaikan oleh putri Kraton Jogja, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dalam seminar bertajuk “Kolaborasi Budaya dan Teknologi dalam Tantangan Pengembangan Pariwisata” yang digelar Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kota Jogja di Hotel Crystal Lotus, Rabu (19/2/2025) pagi WIB.

Budaya berwisata-wisata berbasis budaya

Dalam pemetaan GKR Bendara, saat ini ada budaya berwisata dan wisata yang berbudaya. Keduanya, bagi putri Kraton Jogja tersebut, adalah dua hal berbeda.

“Milenial dan Gen Z sekarang membuat berwisata sebagai bagian dari budayanya. Tetapi kurang dalam berwisata berbasis budaya,” tutur GKR Bendara.

“Terjadi pula perdebatan hangat antara praktisi budaya dengan praktisi wisata. Praktisi budaya mengutamakan preservasi, sementara praktisi wisata fokus pada peningkatan ekonomi. Keduanya tidak ada yang salah. Tapi tidak 100% benar,” sambungnya. Sebab, bagaiman pun, keduanya sedikit banyak saling mempengaruhi.

GKR Bendara memberi contoh: Sebuah lukisan tidak akan ada nilainya kalau hanya didiamkan di rumah. Tapi jika dipajang dalam pameran, diringi dengan membuat kajian tentang narasi hingga sejarahnya, maka akan membuat orang lain bisa mengapresiasi.

Kemudian, seiring banyak orang yang bisa mengaksesnya, maka semakin tinggi value-nya. Jika sudah begitu, lantas semakin mahal pula tiket masuknya. Dari situ, akan semakin banyak lah cuan yang masuk dari orang-orang yang melihat lukisan tersebut.

Cuan tersebut pada akhirnya bisa digunakan untuk proses pelestarian. Ambil contoh lukisan Mona Lisa.

Daya tarik yang begitu besar dari lukisan karya Leonardo da Vinci itu berhasil mengundang kunjungan banyak orang. Cuan yang masuk dari kunjungan itu bisa digunakan untuk melakukan pelestarian benda-benda lain di Museum Louvre, Paris.

Tarian Bedhaya Semang Kraton Jogja dan garis abu-abu

Sementara dalam kasus lain, terjadi dampak yang fatal ketika sebuah produk budaya berhadapan dengan teknologi. Misalnya yang terjadi pada tarian Bedhaya Semang.

Bagi Kraton Jogja, tarian yang sudah ada sejak masa Sultan Agung tersebut merupakan tarian sakral. Saking sakralnya, tarian ini hampir punah karena tidak ada yang berani menarikan kecuali acara penting kraton.

“Maka kami (dari Kraton Jogja) berpikir, bagaimana cara agar orang tidak melupakannya? Salah satunya dengan membuat video, lalu di-upload di YouTube,” kata GKR Bendara.

“Tapi efeknya, tidak semua orang melihatnya sebagai sesuatu yang sakral. Setelah satu bulan di YouTube, ada sebuah SD di Jawa yang melakukan tarian Bedhaya Semang secara asal-asalan oleh siswa laki-laki dan perempuan,” imbuhnya.

Padahal, di Kraton Jogja, tarian tersebut hanya dilakukan oleh perempuan. Mendapati kefatalan tersebut, pihak Kraton Jogja pun, kata GKR Bendara, memutuskan untuk tidak lagi menampilkannya di YouTube.

“Budaya apa yang boleh atau tidak boleh dieksplorasi, garisnya memang abu-abu. Case by case. Yang bisa menentukan ya praktisi budayanya,” ucap GKR Bendara.

Iklan

Tawaran memfilmkan Kraton Jogja dengan potensi narasi tidak utuh

Saat ini, film memang menjadi medium yang sering digunakan untuk mengabadikan sebuah produk budaya atau sejarah. Hanya saja, sering kali sebuah rumah produksi film mengambil narasi tidak utuh.

GKR Bendara mencontohkan, pasca rilisnya film Sultan Agung: Harta, Tahta, dan Cinta, Kraton Jogja lantas mendapat tawaran untuk diangkat menjadi film dengan fokus pada awal mula lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta.

“Kami dirayu, bagaimana film Sultan Agung cukup sukses, cuan, dan mendekatkan generasi muda dengan sejarah. Tapi harus diketahui, sejarah sering kali ditulis oleh para pemenang. Kebanyakan tidak bisa menarasikan secara utuh,” beber GKR Bendara.

Sejarah lahirnya Kasultanan Ngayogyakarta tidak lepas dari berdirinya Kasunanan Surakarta. Karena keduanya adalah pecahan dari Mataram Islam.

Kedua kerajaan di Jawa tersebut punya versi berbeda atas sejarah lahir masing-masing dengan membawa sentimen satu sama lain. Maka, jika sutradara film hanya mengambil narasi dari salah satunya saja, gesekan mungkin saja terjadi.

Misinterpretasi Pangeran Diponegoro

GKR Bendara sebenarnya tidak menampik bahwa penggunaan teknologi, di satu sisi, bermanfaat sebagai media eksplorasi dan promosi wisata atau budaya.

Namun, masih menyambung dilema-dilema di atas, GKR Bendara mendapati bahwa teknologi tidak jarang membawa publik pada misinterpretasi.

“Misalnya kasus Pangeran Diponegoro. Berdasarkan sumber internet, digambarkan berjubah dan bersorban putih. Tapi kalau merujuk manuskrip Kraton Jogja, sebenarnya berikat (blangkon) warna putih. Pakaian atasnya itu semacam beskap berwarna putih. Sementara bagian bawahnya kain jarik,” papar GKR Bendara.

Titik temu antara wisata, budaya, dan teknologi

Di akhir makalahnya, GKR Bendara menyimpulkan, kata kuncinya adalah balancing: bagaimana mempertemukan antara wisata, budaya, dan teknologi agar tidak saling menggerus nilai satu sama lain. Harapan GKR Bendara kira-kira seperti ini:

  1. Sesuatu yang sakral harus dipreservasi oleh internal drive (dalam konteks Jogja, ya oleh praktisi budaya bahkan Kraton Jogja)
  2. Kearifan lokal berbentuk pertunjukan bisa dibungkus dan dipromosikan melalui teknologi
  3. Kreativitas individu harus disertai penegasan bahwa itu merupakan kreativitas individu, bukan bagian dari budaya agar tidak menimbulkan misint

“Tidak semua budaya adalah produk pariwisata, dan tidak semua pariwisata adalah produk budaya. Tapi harus dicatat, tanpa pariwisata, pelestarian budaya tidak bisa maksimal,” kata GKR Bendara.

“Maka, eksplor dan promote budaya-kearifan lokal harus berlangsung dengan hati-hati. Jaga nilai sakral dan adiluhung-nya,” pungkasnya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Cerita Rarasmudo Budoyo dan Batari, Sanggar Seni di Jogja yang Manfaatkan Jalanan untuk Berkesenian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2025 oleh

Tags: Jogjakraton jogjawisata jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.