Tak mudah bagi Valencia Yolanda, mahasiswa BINUS dan Mama Yunne, guru relawan di Papua untuk meningkatkan literasi pada anak-anak. Meski begitu, mereka percaya literasi yang bagus dapat membuat masa depan anak-anak Papua lebih baik.
***
Mama Yunne masih semangat menjemput anak-anak ke Rumah Baca dengan perahunya tiap pukul 14.00 WIT. Tak jarang, ia harus menggunakan uang pribadinya untuk membeli bahan bakar perahu. Hal itu dilakukannya selama 12 tahun terakhir guna mendampingi anak-anak di perkampungan Kabupaten Jayapura, Papua agar terampil membaca dan menulis.
Sebagai salah satu pendamping Rumah Baca yang merupakan program kerjasama Yayasan Wahana Visi Indonesia (WVI) dengan masyarakat sekitar, Mama Yunne berharap anak-anak bisa bermain dan belajar materi berupa literasi dan numerasi.
“Mama mau lakukan ini karena sesuai dengan panggilan. Hati Mama sudah menyatu dengan anak-anak. Kalau bukan Mama, siapa lagi. Mama senang bisa ikuti susah-senang bersama anak-anak,” tuturnya dilansir dari laman resmi WVI dikutip Kamis (8/1/2026).
Rilis puluhan buku tiap tahun
Mama Yunne sadar tantangan literasi jadi salah satu persoalan serius di Papua. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2024 mencatat tingkat literasi Papua baru mencapai 47,57 persen. Angka itu menunjukkan kesenjangan yang perlu segera diatasi. Sebab Mama Yunne yakin, literasi bisa meningkatkan kualitas hidup anak-anak di Papua.

Guna meningkatkan literasi, WVI telah merilis “Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 1” di tahun 2024. Saat itu, mereka berhasil menghasilkan 10 buku kontekstual Papua. Di mana penulisnya adalah pengajar dan pendamping masyarakat Papua yang memahami konteks kehidupan anak secara langsung, sehingga cerita terasa relevan, kreatif, dan dekat.
Di tahun ini, WVI kembali meluncurkan “Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2” yang berisi 24 buku cerita anak bekerjasama dengan beberapa universitas termasuk BINUS. Sebanyak 1.080 eksemplar buku cerita akan hadir pada 45 rumah baca dampingan WVI di Papua untuk anak-anak, serta guru relawan setempat.
Resource Development & Communications Director WVI, Asteria Aritonang berharap “Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2” dapat merefleksikan budaya, nilai, dan kehidupan sehari-hari anak Papua. Ia percaya jika setiap anak berhak belajar dengan baik dan bermimpi.
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan akses buku bacaan bagi mereka. Bukan hanya bacaan yang menarik dan kreatif, namun juga relevan serta dekat dengan kehidupan anak-anak Papua,” ujar Asteria Aritonang.
Cerita yang kontekstual dan dekat dengan budaya Papua
Dalam rilis “Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2” tahun 2025, WVI juga bekerjasama dengan Teach for Indonesia BINUS University, Jakarta International University (JIU), dan Universitas Pelita Harapan (UPH). Mereka membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat sebagai student volunteer yang tergabung dalam komunitas Kind Circle (KinCcr). Lewat program tersebut mereka bisa berkontribusi sebagai penulis maupun ilustrator.
Salah satunya Valencia Yolanda. Mahasiswa BINUS itu berujar punya tantangan sendiri dalam menciptakan “Buku Baca Cerita untuk Anak Papua Jilid 2” terutama dalam menciptakan ilustrasi yang tepat.

“Ini jadi tantangan tersendiri buatku karena jarang melihat keseharian anak Papua secara langsung. Alhasil, aku harus memahami lebih dari sekadar teks, termasuk nilai dan budaya setempat,” kata Yolanda.
“Tapi aku bersyukur bisa menyelesaikan dua buku cerita. Aku berharap ilustrasi ini dapat mendekati gambaran dari budaya Papua, serta mampu meningkatkan minat baca anak-anak,” lanjutnya.
Deputy Head of New Media Program BINUS Liliek Adelina Suhardjono berujar kerjasama ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk berkarya. Ia berharap semakin banyak kaum muda yang terlibat dalam gerakan literasi.
“Tanpa program ini, mahasiswa kami tidak memiliki kesempatan untuk berkontribusi langsung sebagai student volunteer KinCcir WVI. Inilah ruang berharga bagi mereka untuk berkarya dan bekerja nyata bagi Papua,” kata Liliek.
Melalui inisiatif ini, WVI bersama dengan BINUS, UPH, dan JIU berharap dapat memperkuat budaya literasi dan mendukung anak-anak Papua tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, cakap, dan bangga akan budayanya.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kisah Alumnus Polinema Ajak Ibu-ibu Rumah Tangga “Menyulap” Tempe hingga Mencari Hibah Sampai ke Hongkong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














