Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Angkringan Pakde Sunyoto yang Beri Pendidikan Terbaik untuk Tiga Anak Perempuannya 

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
19 Februari 2024
A A
Angkringan Pakde Sunyoto yang Beri Pendidikan Terbaik untuk Tiga Anak Perempuannya MOJOK.CO

Ilustrasi Angkringan Pakde Sunyoto yang Beri Pendidikan Terbaik untuk Tiga Anak Perempuannya. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi Sunyoto (66) atau akrab dengan panggilan Pakde, pendidikan anak adalah segala-galanya. Dari angkringan yang ia kelola, ia ingin anaknya mendapatkan pedidikan terbaik.

***

Saya mampir ke angkringan yang terletak di Jalan Pakuningratan awalnya hanya untuk membeli segelas es tawar, sebagai penolak dahaga saat Jogja begitu panasnya. Namun, obrolan ringan dengan bapak penjual membuat saya menuliskan sedikit kisah hidupnya.

Seorang bapak yang begitu mencintai tiga anak perempuannya. Doa dan usaha ia lakukan agar ketiganya meraih cita-cita yang mereka impikan.

Namanya Pak Sunyoto, 66 tahun, tapi hanya sedikit orang-orang di kawasan Jalan Pakuningratan yang tahu nama aslinya. Ia lebih dikenal sebagai Pakde. Panggilan untuk orang yang dituakan. Nama itu juga yang kemudian melekat di kain terpal angkringannya, “Angkringan Pakde”.

Dari obrolan ringan, akhirnya saya memesan nasi kucing menu daging ayam. Di dalamnya potongan kecil daging ayam dan sambal bawang. “Ini masak sendiri, Pak?” tanya saya. 

“Nggak, Mas, titipan orang,” katanya, Senin (19/2/2024). 

Angkringan yang jadi usaha untuk sekolahkan anak 

Obrolan akhirnya menjadi kemana-mana ketika Pakde cerita mengapa ia buka warung agak siangan. Biasanya ia buka warung lebih pagi karena sekalian mengantar anak perempuannya berangkat sekolah di SMAN 6 Yogyakarta. Salah satu SMA favorit di Kota Jogja yang punya julukan “The Research School of Jogja”. Hal ini karena sekolah tersebut merupakan sekolah yang berbasis riset atau penelitian yang pertama di Yogyakarta dan di Indonesia.

Pakde, di angkringannya Jalan Pakuningratan. Dari jualan angkringan itu ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya, termasuk kuliah anak0-anaknya. (Agung P/Mojok.co)

Pakde bercerita, rumahnya bukan di Pakuningratan tapi di Celeban, Umbulharjo. Sekitar 6 kilometer dari tempatnya jualan saat ini. Sebelum ke angkringan, ia biasa mengantar anak bungsunya, Ayu (17) yang sekolah di SMAN 6 Yogyakarta. 

Pakde mulai jualan angkringan di Jalan Pakuningratan usai gempa melanda Jogja di tahun 2006. Ia awalnya menjadi penjaga malam sebuah tempat di kawasan tersebut. Di sela-selanya, ia diperbolehkan untuk jualan angkringan. Sebelum itu, laki-laki kelahiran Blora ini melanglang buana kemana-mana. 

“Pernah ke Jakarta, Jawa Timur, kerja serabutan, Mas. Sampai kemudian menikah dengan orang Jogja,” katanya. 

Penjual angkringan yang punya anak-anak yang berprestasi

Pakde merasa gagal dalam pendidikannya. Ia tidak mau detail menjelaskan pendidikan terakhirnya. Hanya ia ingin anak-anaknya tidak mengikuti jejak dirinya. Ia ingin anaknya mendapatkan pendidikan terbaik.

“Soal biaya, saya percaya setiap anak punya rezekinya masing-masing. Kami sebagai orang tua hanya bisa berdoa dan berusaha,” katanya yang jualan angkringan dari jam 9 pagi hingga jam 8 malam.

Anak sulungnya, Avi (24) baru lulus Pendidikan Profesi Guru (PPG) setelah sebelumnya menyelesaikan Pendidikan Guru SD di Universitas Sarjanawiyata Taman Siswa. Anak sulungnya itu ingin menjadi guru seperti ibunya. “Kemarin sudah ada mapping, keterima di Kalimantan Barat, tapi belum diambil,” kata Pakde.

Iklan

Anak pertamanya ini dari SD hingga SMA ia sekolahkan di Yayasan Muhammadiyah. Tujuannya, agar nantinya si sulung paham soal agama dan bisa jadi panutan bagi adik-adiknya.

Anaknya nomor dua Devi (21) tengah menempuh kuliah di Fakultas Pertanian UGM semester empat. Dua anaknya masuk kuliah lewat jalur prestasi. 

Sedangkan, Ayu anak bungsunya saat ini kelas XII sudah mengincar Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) sebagai tempat belajar berikutnya. “Ayu sebenarnya sudah daftar UGM lewat jalur prestasi, nilainya bagus, tapi mundur, karena dia ingin sekolah kedinasan. Takutnya kalau jalur prestasi di UGM keterima, dia tidak bisa cabut,” kata Pakde.

Bangga dengan anak-anaknya mementingkan pendidikan

Pakde paham bahwa biaya tiga anaknya yang bercita-cita menempuh pendidikan terbaik bukan perkara mudah. “Tapi urusan biaya itu urusan orang tua, saya mau mereka itu sekolah setinggi-tingginya, orang tua hanya modal doa dan usaha saja,” kata Pakde. 

Bagi Pakde, hal utama yang ia perjuangan adalah anak-anaknya memperoleh pendidikan tinggi. Masalah biaya biar jadi urusan orang tua MOJOK.CO
Bagi Pakde, hal utama yang ia perjuangan adalah anak-anaknya memperoleh pendidikan tinggi. Masalah biaya biar jadi urusan orang tua. (Agung P/Mojok.co)

Menurut Pakde, selain menggantungkan pendapatan dari jualan angkringan, juga dari gaji istrinya yang jadi guru TK. “Selain biaya pendidikan, kan harus ada juga biaya kebutuhan sehari-hari, uang jajan anak, dan lainnya,” kata Pakde. 

Di sela-sela kami ngobrol, anak sulungnya, Avi datang membawa beberapa plastik nasi kucing dan gorengan. Ia baru saja mengambilnya di rumah penyedia.

Pakde mengatakan, anak-anaknya sudah siap jika harus merantau. Sebagai orang tua, ia dan istrinya merestui. “Avi ini ingin daftar di Kalimantan Timur, yang dekat dengan IKN,” kata Pakde tersenyum. 

Avi mengiyakan omongan bapaknya. Menurutnya, peluang menjadi guru lebih besar di luar Jawa. Baginya tidak masalah jauh dari orang tua, karena yang ia lakukan juga bagian dari membanggakan kedua orang tuanya.

“Anak kedua yang kuliah di Jurusan Pertanian juga sudah  bilang kalau setelah lulus, ingin kerja di luar Jawa. Kami orang tua mendukung saja. Tanggung jawab kami sampai pada pendidikan mereka, soal kerja itu sudah jadi urusan mereka sendiri,” kata Pakde. 

Menurut Pakde, ia tidak khawatir nantinya melepas ketiga anak perempuannya merantau. Sejak kecil sudah ia tempat mental mereka untuk mandiri. “Anak-anak dari kecil sudah bantu orang tuanya di angkringan. Mentalnya sudah tertempa,” katanya.

Avi sendiri yang sadar sebagai anak sulung, membantu orang tuanya semampunya. Ia selama ini nyambi menjadi guru privat untuk anak-anak sekolah, terutama SD. Hasilnya bisa ia gunakan untuk menambah pendapatan keluarga maupun untuk biaya kedua adiknya. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Angkringan Lik Man Jogja, Pelopor Kopi Joss yang Jadi Minuman Terlarang di Malaysia

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2024 oleh

Tags: angkringankuliahKuliner Jogja
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co
Pojokan

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co
Pojokan

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Cerita perintis bukan bocil pewaris yang lulus SMK langsung bayar utang keluarga, pecel lele di jogja, omzet pecel lele. MOJOK.CO
Urban

Dihina Tetangga dan Teman karena Cuma Kerja Kasar dan Menempati “Kosan Bedeng” di Jogja, padahal Penghasilan Rp30 Juta Sebulan hingga Mampu Kuliahkan Adik

15 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.