Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Tertekannya Anak Dokter Dituntut Orang Tua Harus Cari Calon Suami “Cowok Berseragam”, Terpaksa Tolak Cowok Biasa Meski Aslinya Cinta

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Maret 2024
A A
Anak Dokter Dituntut Cari Suami Cowok Berseragam MOJOK.CO

Ilustrasi anak dokter dituntut cari suami cowok berseragam. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang anak dokter mengaku sempat tertekan lantaran orang tuanya menuntut untuk mencari calon suami dari kalangan berseragam. Tuntutan yang membuatnya sempat menjomblo cukup lama karena tak menemukan calon suami sebagaimana standar tinggi dari orang tuanya itu.

***

Setelah sekian lama tak mengunggah WA story, Wardani (25) tiba-tiba muncul di urutan teratas WA story yang belum saya lihat. Setelah saya pantau, ternyata ia membagikan beberapa foto momen saat ia wisuda dari Fakultas Kedokteran di sebuah kampus swasta di Solo, Jawa Tengah.

“Late post,” demikian Wardani memberi keterangan pada beberapa foto yang ia unggah tersebut.

Dalam kegabutan, saya pun mengikuti setidaknya empat slide unggahan WA story dari Wardani. Di slide keempat itulah saya tidak bisa tidak berkomentar. Pasalnya, untuk pertama kali setelah terakhir pada 2019 silam, Wardani mengunggah foto dengan seorang laki-laki yang tidak lain adalah pacarnya.

Wardani dengan dresscode kabaya berpose duduk anggun. Sementara di sebelahnya berdiri lelaki gagah, berambut cepak, dan berseragam Akademi Militer (Akmil).

“Ada deeeh…,” jawab Wardani saat saya tanya siapa sosok lelaki yang akhirnya bisa menembus restu orang tuanya tersebut?

Standar tinggi calon suami anak dokter

Wardani bercerita, pada dasarnya ia sendiri tak memasang standar tinggi untuk siapa laki-laki yang bakal jadi calon suaminya kelak. Itulah kenapa pada 2018 silam, saat masih kuliah D3 Kebidanan di Semarang, Jawa Tengah, ia sempat berpacaran dengan “laki-laki biasa”.

Sampai kemudian, hubungan Wardani mulai tercium oleh ibunya yang memang merupakan seorang dokter di Rembang, Jawa Tengah. Wardani langsung kena sidang.

“Diomongin panjang lebar. Intinya gini, ibu itu dokter, bapak tentara. Maka, paling tidak pacar atau calon suamiku itu nanti ya setara lah. Kalau nggak dokter, ya tentara. Simpelnya gitu,” ungkap Wardani.

“Kalau nggak pun ya pokoknya harus dari kalangan menengah atas,” imbuhnya.

Wardani mengaku tertekan dengan tuntutan orang tuanya tersebut. Sebab, seolah-olah orang tuanya memandang seseorang hanya dari kelas sosialnya saja. Padahal, bagi Wardani, dari kalangan orang biasa pun tak masalah asal sayang keluarga dan tanggung jawab. Tapi lambat laun Wardani mengaku memaklumi tuntutan dari orang tuanya tersebut.

“Aku anak dokter dan tentara. Dari kecil sudah mereka upayakan hidup kecukupan. Nah, oleh karena itu ibu dan bapak nggak mau kalau ada laki-laki yang malah mau ngajak aku hidup susah,” tutur Wardani.

Menolak tembakan puluhan laki-laki

Alhasil, cara pandang Wardani kepada para laki-laki yang mencoba mendekatinya pun perlahan berubah. Setiap kali ada yang PDKT atau bahkan menembaknya, maka yang langsung ia pertimbangkan adalah apakah si laki-laki ini masuk kriteria orang tuanya atau tidak?

Iklan

Ya meskipun dalam beberapa kasus, ada lah laki-laki yang membuatnya berpikir, “Sebenarnya aku cocok banget sama orang ini. Satu frekuensi.”

Akan tetapi, karena si laki-laki tak masuk kriteria anak dokter, maka ia pun harus menyingkrikan perasaannya tersebut Alhasil, menjomblo lah ia dalam rentang yang cukup lama.

Ada lebih dari 10 laki-laki, kata Wardani, yang mencoba mendekati atau bahkan sampai menembaknya. Mengingat, Wardani sendiri tipikal orang yang mudah bergaul, sehingga lingkaran pertemanan dan perkenalannya pun cukup besar.

Tapi ya begitulah. Setiap ada yang menyatakan cinta, tak satupun yang si anak dokter itu terima.

“Temen-temen kuliah sampai heran, aku ini jadi rebutan cowok, tapi pasti tertolak semua. Sampai dikira mati rasa karena mantan di masa lalu,” kata Wardani. Teman-teman D3-nya saat itu belum ada yang tahu kalau sebagai anak dokter, ia mendapat tuntutan dalam mencari pasangan yang sedemikian dari orang tuanya.

Yang membuat Wardani sangat terheran-heran saat itu adalah, kenapa yang mendekatinya kok pasti laki-laki yang tidak masuk kriteria orang tuanya. Tidak ada yang dari kalangan orang berseragam atau sesama dokter gitu loh.

Nemu pacar calon dokter, tapi mesum

Bagian yang lucu adalah pada 2019, jauh sebelum pandemi Covid-19. Karena merasa ia tak cukup laku di mata cowok-cowok berseragam idaman orang tuanya, maka Wardani pun sempat iseng mencari pasangan lewat aplikasi kencan.

“Nemu satu calon dokter. Wah seneng banget aku. Akhirnya ketemulah di sebuah tempat di Semarang,” ungkap Wardani.

Kesan pertama saat melihat si calon dokter itu, Wardani langsung berpikir “Wah kalau look-nya seperti ini sih, cocok”. Namun, setelah menjalin hubungan beberapa hari, Wardani mulai menyadari ada yang tidak beres dengan calon dokter itu.

“Awalnya sering minta pap wajah. Normal dong. Terus sering chat-chat seksis. Aku risih, tapi masih biasa. Yang aku mulai muntab adalah saat ia minta pap, mohon maaf, telanjang,” gerutu Wardani.

Sontak saja Wardani marah besar pada si calon dokter itu. Akan tetapi, Wardani tetap melanjut hubungan karena si calon dokter itu menegaskan akan berubah. Tapi pada kenyataannya tidak demikian.

“Baru satu bulan pacaran, sudah ngajak nginep hotel. Aku minta putus, terus aku blokir,” tegas Wardani.

Lelah mencari, pasangan malah datang sendiri

Sejak saat itu, Wardani sempat berada di titik jenuh, lelah mencari-cari pacar apalagi calon suami. Ia memilih nothing to lose dan sementara fokus pada pendidikannya.

Karena setelah dari D3 Kebidanan di Semarang tersebut, anak dokter itu kemudian lanjut kuliah S1 di Fakultas Kedokteran di Solo. Namun, dalam masa jenuh dan berhenti mencari pasangan, seorang laki-laki justru datang padanya.

Laki-laki dari Akmil tersebut mengenal Wardani dari temannya yang sekaligus merupakan teman dari Wardani di Fakultas Kedokteran.

“Sebelum wisuda sudah kukenalkan ke orang tua, mereka suka banget. Apalagi “Si Mas” (panggilan Wardani untuk pacar Akmil-nya) ternyata agamanya bagus juga. Relijius,” tutur Wardani.

“Berarti akan segera menuju halal?” tanya saya.

Wardani hanya membalas dengan emoticon menutup mulut dengan satu jari, isyarat “sssttt”.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

 BACA JUGA: Gaji di Surabaya Tak Sebesar Bayanganmu, Malah Masih Besar Gaji di Jogja!

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 21 Maret 2024 oleh

Tags: akademi militerAkmilanak doktercalon doktercowok berseragamdokterfakultas kedokterankampus kedokteran di solopilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.