Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Geliat Warga

Kisah Penantian 3 Tahun Pedagang Sunmor UGM: Kami Baru Lega Setelah Lapak Kembali Buka

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
18 Agustus 2023
A A
Penantian panjang pedagang Sunmor UGM. MOJOK.CO

Ilustrasi penantian panjang pedagang Sunmor UGM (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Para pedagang yang dulu berjualan di Sunmor UGM masih terus menanti kapan bisa berdagang lagi. Tiga tahun mereka terpaksa berhenti, awalnya karena pandemi, tapi kini karena proses yang tak kunjung pasti.

***

Tiga tahun terakhir ada yang berbeda dari kawasan Lembah UGM. Setiap saya melewati rute yang membentang dari Jalan Notonegoro hingga kawasan Fakultas Peternakan UGM rasanya begitu lengang. Bahkan pada hari Minggu pagi.

Dulu, sejak 2017 rute dengan panjang sekitar 1,5 kilometer yang dikenal sebagai sunday morning atau Sunmor UGM itu menjadi tempat berkumpulnya ribuan massa setiap Minggu pagi. Buat warga Jogja dan para mahasiswa, banyak kenangan yang tertuang di kawasan itu.

Meski harus berdesak-desakan, Sunmor UGM menjadi tempat rekreasi andalan bagi banyak kalangan di akhir pekan. Lokasinya strategis dan dekat dengan spot menarik untuk berolahraga pagi hari. Tak heran jika ketiadaan titik berkumpulnya lebih dari seribu pedagang selama tiga tahun terakhir ini banyak dirindukan.

Bagi saya pribadi, Sunmor UGM jadi salah satu alasan untuk bangun pagi di akhir pekan. Salah satu tempat yang cocok untuk mengisi aktivitas pagi hari bersama teman hingga gebetan. Joging santai dulu, lantas membeli jajan dan sarapan. 

Namun, buat para pedagang, Sunmor UGM lebih dari itu. Banyak orang yang sudah belasan bahkan puluhan tahun menjadikan kawasan ini sebagai pengharapan untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Tempat yang menjadi area berjualan pedagang Sunmor UGM (Hammam Izzuddin/Mojok.co)
Tempat yang menjadi area berjualan pedagang Sunmor UGM (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Selama tiga tahun terakhir, mereka terus menanti kabar izin dari pihak UGM dan Kalurahan Caturtunggal. Meski kepastian waktu bisa kembali membuka lapak tak kunjung datang, mereka tetap menaruh harapan besar.

Para pedagang memang hanya berjualan sehari dalam satu pekan. Namun, potensi pendapatan di lokasi itu terbilang menjanjikan. Setidaknya itulah yang Nanang (43) rasakan selama berjualan di sana sejak 2011 silam.

“Teman-teman membahasakannya, jualan hari Minggu bisa untuk satu pekan,” kata Nanang saat saya temui Kamis (17/08/2023).

Riwayat panjang para pedagang Sunmor UGM

Menurutnya, di luar aktivitas hari Minggu para pedagang masih tetap berjualan atau bekerja di tempat lain. Namun, Sunmor UGM tetap jadi salah satu tempat mencari tambahan yang diandalkan.

Nanang berdagang pakaian di kawasan tersebut di hari Minggu. Selain itu, ia berjualan barang serupa di rumahnya yang ada di Terban, Kota Yogyakarta. Ia memberikan gambaran, “Ini gambaran, kalau di hari biasa jualan di rumah paling dapat seribu di Sunmor bisa lima ribu.”

Masih lekat dalam ingatannya, pada 2011 ia mulai berjualan di sana saat Ramadan. Lapak kebetulan sedikit sepi karena pedagang makanan banyak yang libur. Ia pun bisa menempati salah satu area kosong di sana.

“Setelah Ramadan ternyata masih kosong juga tempat saya jualan,” kenangnya. Beberapa waktu berselang ia pun masuk ke daftar pedagang paguyuban.

Iklan

Saat itu, ia berjualan bersama istrinya saat anak pertama mereka masih berusia setahun. Usaha di Sunmor jadi salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarga kecil mereka.

Menilik ke belakang, Sunmor UGM sudah eksis sejak tahun 1990-an. Lokasi para pedagang sempat berpindah-pindah menyesuaikan kebijakan penataan dari pihak universitas. Pada 2011-2017, Nanang berjualan di Jalan Olahraga. Letaknya di dalam pagar kampus UGM.

Jalan masuk menuju Jalan Olahraga yang dulu jadi tempat berjualan (Hammam Izzuddin/Mojok.co)
Jalan masuk menuju Jalan Olahraga yang dulu jadi tempat berjualan (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

“Saat itu sudah ada yang jualan di Jalan Notonegoro. Tapi belum banyak,” ujarnya.

Baru pada 2017 terdapat kebijakan relokasi secara menyeluruh. Semua pedagang di Jalan Olahraga akhirnya pindah di sepanjang Jalan Notonegoro hingga mendekati Jalan Agro di sisi timur Fakultas Peternakan.

Pascarelokasi jumlah pedagang yang sempat berkurang kemudian bertambah lagi. Bisa mencapai 1.000 lapak yang ada di kawasan itu. Termasuk mahasiswa yang turut berjualan. Ada yang ikut membuka lapak dan ada yang berkeliling. Kawasan ini memang jadi andalan bagi mahasiswa Jogja, terkhusus UGM yang sedang mengumpulkan dana untuk menghelat acara.

Hancur dihantam pandemi

Semua berjalan lancar sampai pandemi melanda pada Maret 2020 silam. Kawasan Sunmor UGM disterilkan dari aktivitas massa dan pedagang harus menutup usahanya.

Nanang ingat saat itu kawasan ini memang jadi perhatian. Di Jogja ada beberapa pasar di hari Minggu pagi, tetapi tidak ada yang seramai Sunmor UGM.

“Sunmor jadi perhatian karena pengumpulan massa luar biasa. Kalau saya jalan keluar area, kadang ambil barang atau apa, jalan di luar sepi padahal di dalam ramenya pol,” paparnya.

Sebagai pedagang purnawaktu, Nanang harus mengalami masa-masa sulit. Sekitar enam bulan sejak penutupan ia mengaku mengandalkan uang tabungan untuk bertahan. Mau membuka usaha lain situasi pun belum mendukung.

Ia sempat berjualan jahe dan camilan secara daring. Pernah juga mencoba peruntungan berjualan bracket untuk televisi. Apa pun yang sekiranya laku ia coba jual.

“Sesama pedagang di Sunmor juga banyak yang berkeluh kesah saat itu,” terangnya. Nanang yang juga sempat mengurus paguyuban mengaku mendapati banyak pedagang yang merupakan perantau akhirnya pulang ke kampung halaman lantaran kesulitan finansial.

Nanang, eks dedagang Sunmor UGM (Hammam Izzuddin/Mojok.co)
Nanang, eks dedagang Sunmor UGM (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Belum lega sampai Sunmor UGM kembali buka

Pada 2021 harapan mulai muncul bagi pedagang. Melansir keterangan resmi dari paguyuban pedagang, Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara payuban pedagang dengan UGM berakhir pada Januari tahun itu. Dua bulan kemudian atau Maret 2021, terjadi terjadi perubahan pengelolaan Sunmor dari UGM ke Kalurahan Caturtunggal. Nama Sunmor UGM pun wacananya berubah menjadi Car Free Day Caturtunggal.

“Sejak 2021 kami sudah mulai aktif bergerak, tapi kan pedagang ini hanya bisa membantu, keputusannya ada di UGM dan Kelurahan Caturtunggal,” kata Nanang.

Para pedagang terus menanti kepastian yang sampai Juli 2023 lalu tak kunjung datang. Pedagang sempat melakukan audiensi dengan Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Rabu (26/7/2023).

Berlanjut, pada Kamis (10/8/2023) lalu, puluhan eks pedagang Sunmor UGM berkumpul di Pujale UGM untuk mengawal pengiriman surat permohonan audiensi yang kedua kepada Rektor UGM. Langkah itu mereka ambil untuk menagih janji UGM tentang penandatanganan Perjanjian Kerjasama (PKS) antara pihak UGM dengan Kalurahan Caturtunggal.

Baca halaman selanjutnya…

Janji UGM kepada pedagang

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2023 oleh

Tags: sunday morning ugmsunmor ugmUGM
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten
Edumojok

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO
Edumojok

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” MOJOK.CO

Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan”

10 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.