Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Mendalam

Idul Adha: Refleksi untuk Kita yang Rela Mengorbankan Data Pribadi Dijual Secara Bebas Tanpa Tahu Kefatalannya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
28 Mei 2026
A A
Pentingnya keamanan siber di dunia digital. MOJOK.CO

ilustrasi - kejahatan di ruang digital makin marak, pengamat imbau warga sadar soal keamanan siber. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Momen Idul Adha 1447 H mengingatkan Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha pada kondisi keamanan siber termasuk penipuan di ruang digital akhir-akhir ini. Mengingat, Idul Adha kental dengan satu nilai fundamental yang universal, yakni pengorbanan yang dilakukan secara sadar dan ikhlas. 

“Jika seekor hewan kurban disembelih bukan karena paksaan, melainkan karena keyakinan dan keikhlasan hati. Lalu, apakah ketika data pribadi kita bocor, rekening kita dikuras lewat social engineering, atau ketika identitas digital kita dipakai untuk judi online tanpa sepengetahuan kita, apakah itu pengorbanan yang sadar? Atau kita sedang menjadi korban?” tanyanya dikutip dari keterangan resmi, Rabu (27/5/2026).

Jenis penipuan di dunia digital terus berevolusi

CISSReC mencatat sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, Indonesia terus diguncang berbagai insiden kebocoran data. Sebanyak 240 juta data penduduk Indonesia kabarnya diperjualbelikan di dark web. 

Berbagai platform e-commerce, lembaga keuangan, dan layanan publik mengalami insiden kebocoran yang merugikan masyarakat. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat terdapat 5,2 miliar anomali trafik hingga akhir 2025, di mana sektor keuangan menjadi yang paling rentan. 

Di sisi lain, jelas Pratama, modus penipuan digital terus berevolusi. Mulai dari phishing klasik hingga deepfake berbasis kecerdasan buatan yang hampir tidak bisa dibedakan dari komunikasi asli.

“Dalam konteks inilah semangat Idul Adha menjadi relevan. Masyarakat perlu diajak membedakan antara menjadi korban dan berkurban. Menjadi korban berarti kehilangan data atau uang tanpa sadar dan tanpa izin,” kata Pratama.

Warga Indonesia kurang sadar soal keamanan siber

Ia menjelaskan seseorang yang data pribadinya bocor karena kelalaian penyedia layanan adalah korban. Sementara itu, berkurban dalam konteks keamanan siber berarti secara sadar mengorbankan sedikit kenyamanan demi keamanan yang lebih besar. 

Oleh karena itu, Pratama menyarankan agar pengguna teknologi memasang autentikasi dua faktor, mengganti password secara berkala, memverifikasi setiap pesan WhatsApp yang mengatasnamakan bank atau lembaga.

Sebabnya, ia menilai kesadaran digital di Indonesia masih sangat lemah. Banyak masyarakat yang masih tergiur dengan tawaran hadiah palsu, tautan yang sebetulnya mencurigakan, atau aplikasi yang meminta izin akses berlebihan.

“Pola ini mirip dengan hewan yang digiring ke tempat pemotongan tanpa sadar akan apa yang terjadi. Bedanya, dalam Idul Adha hewan kurban dipilih secara sadar oleh yang berkurban,” tegas Pratama.

Ia tak menampik jika upaya itu merepotkan dan tidak praktis, tapi menurutnya lebih baik melakukan pengorbanan kecil agar aset digital terjaga. 

Gencarkan literasi keamanan siber dengan bahasa sederhana

Pratama menegaskan bahwa kesadaran digital di Indonesia perlu diubah. Namun, hal ini tidaklah mudah. Sebab, kata dia, rakyat sering menjadi pihak yang tidak pernah diajak berunding. Apalagi, ketika data mereka diperdagangkan atau identitas mereka dipalsukan. 

“Kesadaran ini harus dibangun dari hulu. Pemerintah melalui Komdigi dan BSSN perlu terus menggencarkan literasi keamanan siber yang membumi, bukan sekadar seminar dan buku saku yang tidak pernah dibaca,” ucapnya.

Pratama berharap masyarakat diedukasi langsung dengan bahasa yang sederhana dan relevan, termasuk melalui momen-momen budaya seperti Idul Adha.

Iklan

“Analogi kurban bisa menjadi pintu masuk yang efektif untuk menjelaskan, setiap pengorbanan kecil dalam menjaga keamanan digital adalah ibadah dalam konteks melindungi diri dan keluarga dari kejahatan siber,” jelasnya.

Di sisi lain, negara juga harus menunjukkan pengorbanan yang nyata. Menurutnya, negara harus segera merealisasikan Pembentukan Badan Pelindungan Data Pribadi yang diamanatkan UU PDP.

“Peraturan Pemerintah sebagai turunan UU PDP harus segera diterbitkan. RUU Keamanan dan Ketahanan Siber yang sudah masuk Prolegnas harus dipercepat pembahasannya. Tanpa pengorbanan struktural dan anggaran dari negara, masyarakat hanya akan terus menjadi korban, bukan pihak yang berkurban secara sadar,” tegasnya.

Sadar pentingnya keamanan siber di momen Idul Adha

Di momen Idul Adha kali ini, Pratama mengingatkan bahwa pengorbanan yang paling bernilai adalah yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan keikhlasan hati. Di era digital, pengorbanan itu bisa dimulai dari hal sederhana. 

Misalnya, mulai memikirkan ulang sebelum mengklik tautan, meluangkan waktu untuk memverifikasi informasi, dan menyadari bahwa data pribadi adalah amanah yang harus dijaga. 

“Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk berubah dari sekadar korban menjadi pihak yang berkurban secara sadar demi keamanan siber Indonesia yang lebih baik,” ucapnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Berhenti Meyakini Semua Pekerja Judol di Kamboja Itu Korban. Toh, Sebagian Memang Menikmati Jadi Pelaku atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Mei 2026 oleh

Tags: data pribadidunia digitalganti passwordkeamanan siberpenipuan digitalpishing
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Tidak seluruh pekerja judol di Kamboja adalah korban. MOJOK.CO
Mendalam

Berhenti Meyakini Semua Pekerja Judol di Kamboja Itu Korban. Toh, Sebagian Memang Menikmati Jadi Pelaku

28 Januari 2026
social spy whatsapp mojok.co
Kilas

Hati-hati Social Spy WhatsApp, Aplikasi Penipuan Berkedok Sadap!

9 Februari 2023
RUU PDP Sudah Disahkan, Data Pribadi akan Lebih Aman Mojok.co
Hukum

RUU PDP Sudah Disahkan, Data Pribadi akan Lebih Aman?

20 September 2022
Mencari Identitas Bjorka Ternyata Tidak Perlu-Perlu Amat Mojok.co
Hukum

Mencari Identitas Bjorka Ternyata Tidak Perlu-perlu Amat

15 September 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gedebage, Bandung.MOJOK.CO

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan MOJOK.CO

Horor Pendidikan di Jogja: Balita Dianiaya, Mahasiswa Dilecehkan

25 Mei 2026
Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Muhammad Tonny Harjono melakukan peletakan batu pertama untuk mempercantik Lanud dan Bandara Adi Soemarno MOJOK.CO

Gerbang Masuk Jawa Tengah Melalui Udara di Lanud Adi Soemarno Dipercantik, Jadi Wajah Keramahtamahan dan Kemajuan

21 Mei 2026
Frugal Living, healing, MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Healing: Anak Muda Terjebak Keborosan, padahal “Penyembuhan Sejati” Itu Gratis dan Sering Kali Tak Estetik

26 Mei 2026

Video Terbaru

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

Antara Stabilitas Kerja dan Jalan Berkarya, Cerita Perunggu Menjadi Musisi Penuh Waktu

14 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.