Berbagai poster yang dibawa oleh massa aksi ‘Jogja Memanggil’–rangkaian dari aksi ‘Indonesia Gelap’ mencuri perhatian saya. Isinya singkat dan lugas, tapi tak sesederhana kalimatnya. Misalnya, poster bertuliskan “1 Presiden Berbagai Insiden.” Menggambarkan rentetan permasalahan di era pemerintahan Prabowo-Gibran bersama kabinet Merah Putih selama 100 hari menjabat.
Massa aksi menilai Presiden kebijakan di era pemerintahan Prabowo-Gibran tidak berpihak kepada rakyat, hingga ramai tagar Indonesia Gelap dan memicu aksi serentak di berbagai di daerah. Saya pun mencoba membedah permasalahan tersebut dari poster dan karya seni yang dibawa oleh massa aksi ‘Jogja Memanggil,’.
Aksi Jogja memanggil: ‘Makan gratis, pendidikan krisis’
Berdasarkan pantauan Mojok, aksi ‘Jogja Memanggil’ paling banyak menyoroti isu soal efisiensi anggaran yang berdampak di berbagai sektor, salah satunya pendidikan. Efisiensi tersebut memungkinkan perguruan tinggi negeri (PTN) menaikkan uang kuliah tunggal (UKT), serta berkurangnya bantuan untuk mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS).
“Kami menolak inpres mengenai efisiensi anggaran, prioritaskan pendidikan dan kesehatan,” kata koordinator lapangan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Mustofa saat ditemui di Parkiran Abu Bakar Ali, Jogja Kamis (20/2/2025).

Efisiensi ini terjadi, salah satunya karena program unggulan Prabowo-Gibran bahkan sebelum keduanya dilantik, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada masa kampanye presiden 2024 lalu, keduanya sudah ancang-ancang memangkas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 demi program tersebut.
Saat ini, program MBG telah mendapat anggaran Rp71 triliun, sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 201 Tahun 2024 tentang Rincian APBN 2025. Namun kenyataannya, anggaran ini makin membengkak hingga diperkirakan menghabiskan biaya Rp306,7 triliun.
“Apabila program MBG ini ditambah Rp 100 triliun, bukan naik ke Rp 100 triliun, maka akan menjadi Rp 171 triliun. Saya berharap ini akan menimbulkan efek multiplier yang luar biasa bagi usaha kecil menengah di seluruh Indonesia,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, dikutip dari Kompas.com, Jumat (21/2/2025).
Menurut Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Aidul Fitriciada Azhari, efisiensi anggaran bertentangan dengan konstitusi. Sebab, UUD jelas menyebutkan jika anggaran pendidikan minimal adalah 20 persen dari APBN atau APBD.
“Ketika pendidikan dan kesehatan tidak terjamin, ekonomi melemah, serta sistem politik masih korup, mereka (mahasiswa) merasa bahwa masa depan mereka tidak jelas. Ini adalah sinyal kuat bagi pemerintah untuk lebih bijak dalam menjalankan kebijakan efisiensi,” ujar Azhari dikutip dari laman berita UMS.
Aksi Jogja memanggil: ‘Oke gas, oke gas, neo orba kita gas’
Penggunaan kata gas acapkali terdengar seiring dengan viralnya lagu Oke Gas 2 yang digunakan Prabowo-Gibran saat kampanye. Lagu yang mulanya mempunyai lirik ‘ok gas-ok gas tambah dua torang gas’ berubah menjadi ‘oke gas, oke gas, neo orba kita gas’ oleh massa aksi ‘Jogja Memanggil’.

Istilah neo orba ramai mencuat menjelang pergantian pemerintahan Jokowi di tahun 2023. Neo orba menggambarkan kebijakan Jokowi yang mirip-mirip dengan era orde baru di mana kebijakannya dinilai lebih condong ke penguasa.
“Khususnya dalam bidang ekonomi, pertambangan, … proyek-proyek strategis nasional (PSN) itu hampir semua tempat punya masalah,” kata pengamat politik, Made Supriatma sebagaimana dikutip dalam program PutCast di YouTube Mojok yang tayang pada Senin (27/12/2023).
Dalam aksi ‘Jogja Memanggil’, massa menyinggung PSN sebagai salah satu faktor konflik agraria. Di Yogyakarta, isu penggusuran lahan kerap terjadi misalnya kasus di Bong Suwung dan PKL Malioboro.
Terlepas dari kiasan oke gas ala Prabowo, permasalahan gas elpiji justru terjadi secara nyata. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sempat membuat aturan yang kontroversi. Ia menarik peredaran gas elpiji 3 kilogram dari pengecer. Akibatnya, ketersediaan gas melon menjadi langka.
Tak hanya itu, seorang perempuan lanjut usia di Tangerang Selatan bahkan menjadi korban. Nyawanya tak tertolong akibat mengantre berjam-jam di pangkalan. Beberapa penjual makanan juga kesulitan hingga penghasilannya merosot.
Tak pelak, kebijakan itu menjadi sorotan. Publik ramai-ramai mengkritik Prabowo selaku pemimpin negara. Beberapa hari selanjutnya, Prabowo baru menegur Bahlil dan membatalkan kebijakan itu. Alih-alih dinilai heroik, Prabowo lagi-lagi kena kritik.
“Prabowo tiba-tiba datang bak penolong dengan membatalkan kebijakan Bahlil. Padahal, pasti setiap kebijakan menteri sudah melalui pendiskusian dengan presiden,” kata salah satu orator dalam aksi ‘Jogja Memanggil’.
Oke gas ndasmu!
Prabowo bukannya tak merasa jika kebijakannya banyak disorot. Bahkan sebelum aksi ‘Indonesia Gelap’ dimulai, Prabowo sudah menimpali kritikan tersebut. Dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-17 Gerindra, Prabowo menyindir pengkritik dengan kata ‘ndasmu’.

Kalimat itu berkali-kali ia sebutkan saat membahas kebijakan yang dikritik oleh publik, yakni makan bergizi gratis, kabinet gemuk, dan tudingan cawe-cawe Jokowi.
“Nanti saya dibilang dikendalikan Pak Jokowi, cawe-cawe… ndasmu,” bisik Prabowo di ujung kalimatnya yang disambut tawa oleh para menteri serta tamu undangan yang hadir, dikutip dari video Kompas.com, Senin (17/2/2025).
Prabowo boleh jadi kesal terhadap rakyat yang mengkritik kebijakannya, tapi rakyat juga tak kalah kesal sampai menggelar aksi serentak berhari-hari. Hingga berita ini tayang, gelombang aksi terus berlanjut di beberapa daerah.
Tak hanya menyinggung masalah-masalah di atas, tapi juga isu korupsi, UU Cipta kerja yang tidak berpihak pada pekerja, dwifungsi dan militerisasi, persoalan Hak Asasi Manusia, dan sebagainya.
“Maka dari itu, kami Jogja Memanggil menyerukan perlawanan: turunkan Prabowo-Gibran, bubarkan kabinet merah putih, bangun demokrasi kerakyatan!” seperti yang tertulis pada selebaran yang dibagikan oleh massa aksi–rangkaian gerakan dari ‘Indonesia Gelap’.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pesan untuk Massa Aksi ‘Jogja Memanggil’ dari Mereka yang Terlihat Tenang di Kejauhan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.