Halal food dan halal living menjadi bagian penting syiar Islam Sunan Ampel sejak masuk ke jantung Majapahit hingga mendirikan Pesantren Ampeldenta (di Surabaya)—sebagai pusat pendidikan Islam pertama di Jawa. Sebab, pola makan dan gaya hidup halal menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter generasi Islam berkualitas.
***
Pesantren Ampeldenta menggeliat di tengah hiruk-pikuk arus perdagangan pelabuhan Surabaya dan jalur maritim Sungai Brantas pada abad ke-15 Masehi.
Ketika bintang kejora masih tampak menggantung dengan kilau sempurna, sosok berkulit cerah nan berwibawa itu sudah mulai menyisir satu persatu gotakan (tempat tidur) para santri. Lalu membangunkan satu persatu santri untuk mendirikan salat sunnah di sepertiga malam.
Tidak ada gestur malas. Sentuhan tangan Sunan Ampel saat membangunkan adalah pertanda agar para santri lekas beranjak dari tidur, lantas melawan dingin dini hari untuk mengambil air wudu.
Sosok yang membangunkan para santri itu adalah sang pengasuh Pesantren Ampeldenta: Ali Rahmatullah yang kemudian dikenal bergelar Sunan Ampel. Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo mencatat, Sunan Ampel sebenarnya berasal dari Champa (pesisir Vietnam Selatan).
Ia datang ke Jawa menyusul orang-orang terdekatnya yang sudah lebih dulu menetap: sang ayah, brahim Samarqandi (Asmorokondi dalam ejaan orang Jawa) yang dimakamkan di Tuban, dan bibinya (yang kemudian dikenal dengan nama Dwarawati) yang menjadi istri Prabu Brawijaya V.
Merintis Pesantren Ampeldenta sebagai lembaga pendidikan Islam
Dalam perjalanannya di Jawa, setelah singgah di Tuban dan jantung Majapahit di Trowulan, Sunan Ampel lantas menuju daerah pelabuhan dan jalur utama Sungai Brantas. Ia mendapat hadiah tanah kosong dari Prabu Brawijaya V (sekarang Surabaya).
Di tanah tersebut, atas izin Prabu Brawijaya V, Sunan Ampel lantas mendirikan pesantren (Ampeldenta). Kira-kira pada periode 1440/1450-an Masehi. Ia berpikir untuk membuat lembaga pendidikan Islam agar umat Islam punya legitimasi sebagai “orang terpelajar” dengan kapasitas intelektual yang patut diperhitungkan.
Merujuk catatan Imam Ghazali Said dalam Sejarah Sunan Ampel (Buku 1), Pesantren Ampeldenta pada akhirnya memang tidak sekadar menjadi pusat pendidikan Islam pertama di Jawa. Tapi juga melahirkan generasi Islam yang memegang peran-peran kunci—khususnya dalam konteks Islamisasi di Jawa.
Di antaranya Sunan Bonang, Sunan Giri, dan Sunan Drajat. Mereka kemudian dikenal sebagai para pendakwah kreatif dengan strategi-strategi cerdas. Sunan Giri bahkan akhirnya membangun pusat pemerintahan Islam di Jawa (Giri Kedaton).
Ada juga nama Raden Patah yang di kemudian masa memimpin Kesultanan Demak (sejak awal berdiri pada 1478 Masehi).
Halal food dan halal living: metode Sunan Ampel membentuk karakter lewat asupan jasad dan ruhani
Dalam keyakinan Islam, gaya hidup (termasuk makan) punya peran krusial dalam pembentukan karakter seseorang. Itulah yang kemudian diupayakan Sunan Ampel selama mengasuh Pesantren Ampeldenta, selain penggemblengan di sisi intelektual.
Banyak sumber—salah satunya Abdul Halim dkk dalam Mazhab Dakwah Wasathiyah Sunan Ampel—menjabarkan, salah satu ajaran Sunan Ampel yang amat populer adalah tentang kesadaran moh limo (menolak/tidak melakukan lima perkara yang dilarang Allah Swt dan Rasulullah Saw), yakni:
- Moh main (tidak berjudi)
- Moh ngombe (tidak mabuk minuman keras)
- Moh maling (tidak mencuri)
- Moh madon (tidak berzina/main perempuan)
- Moh madat (tidak mengonsumsi candu (kalau sekarang ya narkotka)).
Ajaran tersebut tidak lain untuk merespons kerusakan moral yang terjadi di tengah masyarakat pada masa itu. Melalui moh limo, sangat terang Sunan Ampel menekankan agar gaya hidup (pola makan-minum dan perilaku sehari-hari) berpegang pada “kehalalan”. Maka Sunan Ampel memerhatikan betul perkara asupan jasad (makan-minum) dan ruhani (aspek spiritualitas) pada para santrinya.
Kalau diuraikan, bagian-bagian tersebut termaktub dalam ayat-ayat Allah Swt:
Q.S. al-Baqarah: 168:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًاۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Artinya: Wahai manusia, makanlah sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia (setan) bagimu merupakan musuh yang nyata.
Q.S. al-Isra: 32:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةًۗ وَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Artinya: Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk.
Q.S. al-Maidah: 90:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِالشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.
Q.S. al-Furqan: 68:
وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّابِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًاۙ
Artinya: Dan, orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa.
Faedah krusial halal food dan halal living Sunan Ampel, tak heran lahir sosok seperti Sunan Bonang-Raden Patah
Dari ayat-ayat tersebut, bisa ditangkap betapa hidup yang jauh dari kehalalan bisa merusak diri seseorang. Sementara orang yang hidup dalam payung kehalalan disebut akan beruntung.
Ada banyak faedah ketika seseorang memberi asupan halal ke dalam jasadnya, di antaranya:
Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengatakan, memberi asupan halal pada diri akan membuat diri selalu tergerak dalam ketataan dan mendapat pertolongan dari Allah Swt untuk berbuat kebaikan.
Dalam konteks lebih luas, jika seseorang memiliki visi-misi kebaikan, maka akan sangat ringan baginya untuk mengerjakannya. Jika menjalankan kewajiban, tidak akan ditunda-tunda. Sederhananya, makanan-minuman halal yang masuk tubuh, bisa membangun karakter disiplin pada kebaikan yang sangat besar.
Sementara dalam H.R. Abu Nuaim, Rasulullah Saw bersabda: Barangsiapa yang memakan makanan halal selama 40 hari, maka Allah Swt akan menerangkan hatinya dan akan mengalirkan sumber-sumber ilmu hikmah dari hatinya pada lisannya. Itu 40 hari, bagaimana jika berlangsung sepanjang hayat?
Sehingga tidak heran jika Pesantren Ampeldenta asuhan Sunan Ampel melahirkan sosok-sosok seperti Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, hingga Raden Patah. Orang-orang dengan kedalaman ilmu, kematangan emosional (kebijaksanaan), kejernihan pikiran dan hati, serta dikenal sebagai sosok-sosok yang melalui lisannya mengalir syiar-syiar Islam yang mudah diterima masyarakat. Sunan Ampel sendiri, masih dalam catatan Abdul Halim dkk, dikenal sebagai sosok yang ramah dan santun.
Khazanah rasa Timur Tengah dan kuliner sederhana Jawa di kawasan Pesantren Ampeldenta
Hingga saat ini, kawasan Pesantren Ampeldenta (sekarang area Wisata Religi Makam Sunan Ampel) memang dikenal sebagai salah satu pusat kuliner berbasis halal food di Surabaya.
Bagi peziarah, amat mudah menemukan kuliner-kuliner khas Timur Tengah di kawasan Ampel Surabaya, seperti nasi kebuli dan roti maryam/canai. Selebihnya adalah kuliner-kuliner lokal seperti nasi babat hingga sate kerak (terbuat dari usus, lemak, atau daging sapi dengan cita rasa gurih-pedas).
Sayangnya, tidak ada catatan sejarah yang secara spesifik menunjukkan jenis kuliner apa yang eksis di masa Sunan Ampel mengasuh Pesantren Ampeldenta. Namun, secara umum, rempah menjadi komponen yang tidak luput dalam olahan di kawasan tersebut.
Ini sejalan dengan temuan Anthony Reid dalam Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680: bahwa rempah memang menjadi salah satu komoditas perdagangan di pelabuhan-pelabuhan utara Jawa.
Sementara masuknya pengaruh makanan Timur Tengah secara spesifik disinyalir baru masuk ke kawasan Ampel pada abad 18/19 Masehi, seiring dengan gelombang kedatangan orang-orang Hadrami (Yaman).
Kemudian, yang bisa dipastikan, nasi dan olahan laut disinyalir sudah menjadi asupan utama sehari-hari masyarakat Jawa pesisir (termasuk kawasan Pesantren Ampeldenta) masa itu. Sebab, jika merujuk Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya (Jilid 2), daerah pusat perdagangan seperti Ampel, Surabaya menjadi titik pertemuan antara komoditas khas pesisir (hasil tangkapan laut) dan komoditas khas pedalaman (seperti padi (beras) dan tetumbuhan).
Terlepas dari sulitnya melacak kuliner spesifik yang khas di era Sunan Ampel, tapi Sunan Ampel telah membuktikan, betapa gaya hidup halal food dan halal living sangat efektif dalam membentuk karakter thoyyiban (baik/bersih) dalam diri seseorang, sehingga melahirkan orang-orang berkualitas.
Rasa Sanga merupakan konten khusus Liputan Mojok untuk Ramadan 2026/1447 H. Menarik benang merah khazanah kuliner Jawa dari riwayat Wali Sanga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














