Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Soto Kemangi Kemasan: Misteri Ada di Kuah dan Daun Kemanginya

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
29 Januari 2024
A A
Soto Kemangi Kemasan:  Misteri Ada di Kuah dan Daun Kemanginya MOJOK.CO

Ilustrasi Soto Kemangi Kemasan:  Misteri Ada di Kuah dan Daun Kemanginya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Soto ini lain dari soto kebanyakan, di kubangan kuahnya nggak ada daging, hanya irisan tahu dengan taburan daun kemangi. Yang istimewa dari Soto Kemasan atau Soto Kemangi Kemasan ini adalah rahasia kuahnya yang membuat penikmatnya  berkeringat 

***

Di spanduk depan warungnya, tertulis, Soto Tahu Mbah Wongso Kemasan, tapi orang lebih mengenalnya dengan sebutan Soto Kemasan atau Soto Kemangi Kemasan. Lokasinya di tepi Ring Road Selatan, tepatnya di Dusun Kemasan, Singosaren, Banguntapan Bantul. 

Saya datang tepat tengah hari saat Jogja tengah terik-teriknya. Datang siang adalah sebuah kesalahan, karena tak akan menemui menu yang komplit di warung ini. “Lauknya tinggal kepala ayam, Mas,” kata salah satu pegawai ketika saya datang, Minggu (28/1/2024).

Soto Kemangi, soto dengan toping daun kemangi

Sudah lama sekali saya tidak makan di warung soto ini. Sekarang tempatnya lebih luas. Dulu cuma ada beberapa bangku dan meja. 

Saya sengaja memesan soto tanpa nasi karena perannya menurut saya sudah terganti oleh potongan tahu bacem. Agar lebih ramai, saya masukan potongan kepala ayam goreng.

Sebelum menyantap soto bening ini, ritual yang pasti pengunjung lakukan adalah memetik satu persatu daun kemangi dari batangnya, kemudian menjadikannya sebagai toping.

Ada sensasi tersendiri yang tidak bisa saya gambarkan ketika mengunyah daun kemangi dalam kuah soto. Salah satu yang istimewa dari Soto Kemangi atau Soto Kemasan adalah efek dari kuahnya.

Soto Tahu Mbah Wongso Kemasan MOJOK.CO
Warung Soto Kemasan atau Soto Kemangi ini sudah ada sejak 1952. (Agung P/Mojok.co)

Soto ini selalu membuat saya berkeringat setiap makan di sini. Saya menduga ada jahe atau merica yang jadi bagian dari bahan pembuat kuah.

Kalau ingin tambah berkeringat sekaligus kepala kemepyar, coba tambahkan cabai rebus yang sudah tersedia di mangkuk. Di warung ini, sambal tergantikan dengan cabai rebus. Pengunjung bisa langsung ngulek cabe tersebut dengan sendok di mangkuk yang disediakan.

“Iya, Mas. Kuahnya memang ada jahe sama merica, jadi ya kata pelanggan itu yang membuat berkeringat, apalagi kalau makannya cuaca panas seperti ini,” kata Pak Marjudi (67) penerus Soto Kemangi Kemasan.

Pak Marjudi bercerita, ada beberapa orang penggemar Soto Kemasan yang kalau ngambil cabai itu banyak. “Ada yang satu orang itu ambil 15 cabai, ada yang 20 orang. Katanya nggak mantep kalau nggak banyak,” kata Pak Marjudi.

Soto Kemasan yang jadi langganan wong cilik pada zamannya

 Kebetulan pengunjung sudah mulai sepi sehingga saya agak lebih leluasa ngobrol dengannya. “Pendirinya Mbah Wongso tahun 1952, dari dulu isiannya tahu dan tempe bacem, terus ada kemanginya,” kata Marjudi.

Marjudi mengatakan, isian soto hanya tahu dan tempe bacem karena waktu itu warung soto melayani masyarakat kecil atau wong cilik. “Dulu, jalan ini jadi tempat lewat orang-orang dari Kotagede ke Imogiri. Biasanya mereka jalan kaki atau bawa kuda, nah mampir makan di sini,” kata Marjudi yang lahir di Kemasan.

Iklan

Usaha Mbah Wongo lantas diteruskan oleh putrinya yang kemudian menjadi istri Pak Marjudi. Soal kenapa memakai kemangi, sejujurnya Pak Mardjudi tidak tahu alasannya. Masih menjadi misteri yang tak terpecahkan.

Soto kemasan dan soto kemangi mbah wongso
Daun kemangi sebagai topping soto. Masih jadi misteri, tujuannya untuk apa. (Agung P/Mojok.co)

“Kalau kenapa tahu dan tempe Mbah Wongso bilang karena pasarnya memang masyarakat biasa, rakyat kecil. Nah, kalau kenapa pakai daun kemangi, Mbah Wongso nggak bilang ke saya atau istri,” katanya.

Tempat istirahat warga dari ke Kotagede ke Cino Mati

Pak Marjudi lantas bercerita, dulunya jalan di depan warung jadi salah satu jalan utama dari Kotagede menuju Pleret, Segoroyoso. “Ring Road ini baru ada tahun 1992. Dulunya ini jalan yang sering dilewati orang-orang menuju Segoroyoso, ke Cino Mati,” kata Marjudi.

Jalan tersebut dulunya digunakan masyarakat untuk membawa material membangun rumah serta hasil bumi. “Dulu ada istilah jaran gendengan, itu untuk menyebut kuda yang membawa genteng, ada juga yang membawa kayu,” kata Marjudi.

Tahun 1970, estafet usaha soto beralih ke anak Mbah Wongso yang kemudian jadi istri Pak Marjudi. Namun, tahun 1980-an, Pak Marjudi memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja di sebuah pabrik, sedang Istri dan anak-anaknya tetap di Jogja. 

Pak Marjudi lantas memutuskan pulang ke Jogja di tahun 2006. Ia lantas fokus membantu istrinya mengembangkan Soto Kemangi Kemasan. “Saya mulai mengembangkan dengan menyediakan lauk seperti iso, babat, ayam kampung goreng, sate, dan lainnya,” kata Marjudi.

Ternyata inovasinya disukai konsumen. Mereka suka dengan lauk yang kian beragam. “Ibaratnya mereka minta sotonya jangan berubah, cukup tahu dan tempe, tapi lauknya nambah,” kata Marjudi.

Soto Kemangi yang pernah krisis kemangi tiga bulan

Soal kemangi, Pak Marjudi merasa tidak kesulitan untuk mendapatkannya. Namun, ia mengakui pernah ada masa ia tidak bisa menyediakan kemangi di warung sotonya. “Saya lupa tahun berapa, pokoknya pas ada erupsi Merapi. Biasanya kami dapatnya dari petani di lereng Merapi, di Magelang, Klaten, Boyolali, tapi tidak ada yang menanam karena lahannya kena abu,” katanya.

Suasana warung soto yang sepi di siang hari. Biasanya soto habis sekitar pukul 13.00 WIB. (Agung P/Mojok.co)

Dalam perkembangannya, Warung Soto Kemangi atau Warung Soto Kemasan makin dikenal. Warung soto yang semula kecil, lama kelamaan mulai membesar. Semula hanya tiga meja yang bisa menampung pembeli. “Sekarang sudah ada sekitar 19 meja,” kata Pak Marjudi.

Tahun 2017, istrinya tercinta meninggal dunia. Ia sebenarnya sudah menawarkan dua putrinya untuk meneruskan usaha soto tersebut, tapi kedua anaknya merasa belum waktunya. Itu yang menyebabkan ia masih mengurus warung soto. “Anak-anak juga bantu di warung kok, cuma ini sekarang lagi istirahat,” katanya.

Anna (32) warga Kota Yogyakarta datang bersama suaminya. Ia sudah jadi pelanggan soto ini sejak lama. Menurutnya, ia cocok dengan kuah sotonya. “Enak lagi pas ayam gorengnya dimasukan soto, terus sambelnya mas,” katanya.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Semangkuk Soto Sampah untuk Mengusir Dinginnya Malam di Jogja

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2024 oleh

Tags: goyang lidahKulinersoto kemangisoto kemasan
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis di Mojok.co, suka bercocok tanam.

Artikel Terkait

5 Kuliner Dekat Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta, Mojok.co
Pojokan

5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan

25 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
Kuliner Jawa terbaik yang penemunya patut diberi ucapan terima kasih. Dari pecel hingga penyetan MOJOK.CO
Kuliner

3 Kuliner Jawa yang Penemunya Harus Diucapin “Terima Kasih”: Simpel tapi Solutif, Jadi Alasan Orang Tak Mati Dulu

16 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.