Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Kisah di Balik Sate Pak Dakir yang Menghidupi 13 Anak dengan Satu Kambing, Anak Jadi Guru Besar di ITS

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
17 Februari 2024
A A
Kisah di Balik Sate Pak Dakir yang Menghidupi 13 Anak dengan Satu Kambing, Anak Jadi Guru Besar di ITS MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah di Balik Sate Pak Dakir yang Menghidupi 13 Anak dengan Satu Kambing, Anak Jadi Guru Besar di ITS. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sate Pak Dakir di Jogja punya cerita di baliknya. Sejak buka di tahun 1966, warung sate ini setiap hari hanya menghabiskan satu ekor kambing. Salah satu berkahnya membawa satu anak menjadi guru besar

***

Datang ke Warung Sate Pak Dakir di Jalan HOS Cokroaminoto No 75 Pakuncen Yogyakarta, siap-siap saja disambut dengan sapaan akrab dari Bu Shofiyah (59). Dia adalah anak keempat Pak Dakir yang bertugas di balik meja. Menawarkan menu, menata hidangan, menerima pembayaran dan yang paling utama menyapa pengunjung.

Bu Shofiyah mengingatkan pada sosok ibu saya saat menawari makan. Segala menu ia tawarkan. Bu Shofiyah grapyak untuk menawari pengunjungnya dengan rupa-rupa menu yang menggoda.

“Ini kepala, mau lidahnya, atau mau balungan, opo sego pliket,” tanyanya ketika saya melongok beberapa baskom yang ada di meja. Kalimat sapaan-nya yang akrab, seolah-olah ia sedang ngobrol dengan anaknya sendiri.

Nama Butet Kartaredjasa dan Bondan Winarno di menu legendaris Sate Pak Dakir

Saya memesan gulai lidah dan sate klatak di kuliner legendaris ini. Ibu Shofiyah masih sempat-sempatnya bercanda dengan memastikan saya memang memesan kepala kambing yang tinggal tulangnya.

Di daftar menu, saya penasaran dengan gule goreng. Saya kemudian bertanya, seperti apa masakannya. Bu Shofiyah kemudian menunjukkan sepiring jeroan berwarna coklat. Saya memesan menu tersebut.
“Tanpa nasi ya, Bu,” kata saya.
“Nggak nyoba nasi goreng pliket?” tanyanya.
“Sudah pernah,” jawab saya.

Saya lantas bertanya, mengapa nasi goreng pliket punya nama lain nasi goreng butet. Jangan-jangan yang ngasih nama budayawan Butet Kartaredjasa.

“Butet itu sama Jaduk sudah langganan sejak mereka SMP. Langganannya yang nasi goreng yang dicampur sama sumsum,” kata Shofiyah. Karena menu itu sudah melekat dengan budayawan tersebut, maka orang menyebutnya dengan nasi goreng butet.

Masih menu yang sama, ternyata nasi goreng pliket yang memberi nama adalah Bondan Winarno, presenter kuliner yang terkenal dengan Mak Nyus..nya. Aslinya nasi goreng butet atau nasi goreng pliket ini adalah nasi goreng kambing yang menyertakan sumsum kambing. Jadi selain cita rasa gurih karena sumsumnya juga nasi gorengnya lengket.

Shofiyah menawari menu gulai lidah dan balungan kepada pelanggan Sate Pak Dakir MOJOK.CO
Shofiyah menawaran menu gulai lidah dan balungankepada pelanggan

Jadi langganan orang-orang Tionghoa

Suasana warung saat saya datang sebenarnya dalam kondisi ramai. Baru beberapa hari setelah perayaan imlek. Di warung, juga tampak satu keluarga besar Tionghoa tengah makan di tempat itu.

“Ini tumben pas imlek mereka makan di sini. Mereka memang langganan, sejak bapaknya malah mereka hobi makan di sini,” kata Shofiyah, Minggu (11/2/2024).

Saya lantas berkenalan dengan salah satunya. Dia Namanya Cik Eli, usianya sekitar 50-an. Sejak kecil ia sudah makan di tempat Pak Dakir. Itu karena orang tuanya yang mengajak. “Eh keterusan sampai sekarang. Suami saya anak saya juga suka makan di sini. Kesukaannya beda-beda. Saya suka nasi pliket, suami sate, anak-anak saya ada yang suka tongseng, tengkleng,” kata Cik Eli.

Shofiyah lantas bercerita bagaimana Sate Pak Dakir berdiri. Tahun itu 1966, Pak Dakir yang seorang veteran mulai berjualan sate. “Usia saya masih 11 tahun, tapi sudah ikut jualan. Buat sate, nongseng, saya bisa,” kata Shofiyah bangga.

Iklan

Dukung adik sekolah hingga jadi guru besar di ITS

Karena sejak kecil sudah membantu orang tuanya di dapur, Shofiyah jadi yang paling terampil untuk urusan dapur di Warung Sate Pak Dakir. Apalagi ia dan saudara-saudaranya agak jauh jarak kelahirannya. Dari tiga belas bersaudara, hanya ada dua anak perempuan. Dirinya dan adiknya nomor 12, Dewi Hidayati.

Shofiyah bercerita, karena sibuk membantu usaha orang tuanya, sekolahnya nggak begitu tinggi. Hanya sampai madrasah aliyah. Selain karena sibuk, orang tuanya masih berpikiran bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi.

Maka ia sangat mendukung ketika adiknya Amien Widodo dan Dewi Hidayati rajin belajar. Ia selalu paling depan membela kedua adiknya, terutama adiknya nomor 12, Dewi Hidayati agar rajin belajar.

Dua adiknya tersebut pada akhirnya bukan hanya lulus sarjana, tapi juga jadi dosen di perguruan tinggi yang sama, Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS).

“Adik saya, Dewi itu sekarang jadi profesor bidang Biologi di ITS. Sedang adik saya yang lain, Amien Widodo juga doktor ahli Geologi di ITS,” katanya bangga.

Baca halaman selanjutnya

Berkah dari Sate Pak Dakir, selain jadi dosen di ITS semua anak punya rumah dari jualan sate

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2024 oleh

Tags: ITSKuliner Jogjaliputan pilihanpilihan redaksisate legendarissate pak dakir
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO
Urban

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring.MOJOK.CO

Yamaha Gear Ultima, Motor Underrated tapi Tangguh: Andalan Para Ibu Rumah Tangga bahkan Cocok Bagi Bikers Pecinta Touring

12 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.