Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Coffee Shop Jogja Bikin Tekor karena Mahal-Mahal, Di Surabaya Nggak Sampai Rp20.000 Udah Ngopi Enak

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Juni 2024
A A
Ngopi di Surabaya Lebih Manusiawi ketimbang di Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Kenikmatan ngopi di Surabaya yang tidak ditemui di Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Surabaya bukannya tak memiliki banyak cafe atau coffee shop. Ada sangat banyak. Terutama tentu di pusat kota. Meski begitu, perantau Surabaya tetap saja kaget saat merasakan ngopi di cafe atau coffee shop Jogja.

***

“Ngopi! Warkop biasa.”

Kalau pesan tersebut masuk ke WhatsApp Febri (26), ia akan bergegas menuju warkop yang temannya maksud. Kalau sedang malas ribet bawa tas, ia biasanya akan cukup membawa uang Rp50 ribu di saku. Ia akan ambil Rp20 ribu untuk beli rokok, lalu buat jaga-jaga ngopinya Rp10 ribu. Kalau sudah punya rokok, maka tak jarang ia cuma mengantongi uang Rp10 ribu saja di saku celana.

“Rp10 ribu itu jagani kalau ngopinya kelewat lama dan harus pesen minum lagi. Kalau nggak ya Rp4 ribu sudah cukup buat pesen kopi atau es teh,” tutur Febri saat kami ngobrol-ngobrol Jumat, (31/5/2024).

Situasi tersebut adalah gambaran saat Febri masih kuliah S1 di Surabaya, sebelum akhirnya pindah ke Jogja untuk S2 pada 2022 lalu. Tak pelak jika kemudian Febri kaget bukan main (culture shock) saat mulai mengenal budaya ngopi ala Jogja.

Ngopi di Jogja menghabiskan uang

Jauh sebelum bersentuhan langsung secara intens dengan Jogja seperti saat ini, dalam benak Febri, seandainya ia tinggal di Jogja barangkali ia akan sering nongkrong dengan teman-temannya di angkringan. Mengingat, Jogja dan angkringan telah menjadi satu rangkaian yang seolah tak terpisah.

Namun, dalam beberapa tahun belakangan, angkringan seolah terpinggirkan dari Jogja sendiri. Dalam hal ngopi atau nongkrong-nongkrong, fenomena coffee shop perlahan-lahan merambah Jogja dan kini bahkan menjadi wajah baru bagi Jogja: Jogja adalah coffee shop.

“Angkringan nggak masuk opsi nongkrong. Kalau ada ajakan nongkrong sama temen-temen di Jogja, jelas ke coffee shop,” ujar Febri yang merupakan pemuda asal Pasuruan, Jawa Timur.

Beberapa kali coba nongkrong di angkringan, saat awal-awal di Jogja, yang Febri dapati hanyalah kelas-kelas pekerja: driver ojol, buruh pabrik, dan sejenisnya. Pokoknya bapak-bapak. Tidak ada anak muda di sana.

“Kalau setiap hari, agak kerasa memang buat ngopi di Jogja (karena coffee shop). Beda dulu di Surabaya. Ngopi tiap hari gas aja karena paling keluar Rp4 ribu. Itupun seringnya nggak pesen lagi dan bisa lhos ngopi berjam-jam,” sambung Febri sambil garuk-garuk kepala. “Ah, Jogja kejam betul”.

Sebab, sekali ngopi di Jogja, setidaknya Febri harus jaga-jaga uang Rp100 ribu. Mengingat, sependek ingatannya, sering kali ia ngopi di coffee shop Jogja menu paling murahnya ada di angka Rp25 ribuan. Belum lagi tuntutan untuk tampik mbois saat datang ke coffee shop Jogja. Sebab konsumennya rata-rata “adu outfit”.

Harga coffee shop Surabaya bersahabat

Hal senada juga Puji (24) ungkapkan, pemuda asal Aceh yang setelah lima tahun tinggal di Surabaya kemudian saat ini tinggal di Jogja. Ia bekerja sebagai juru masak di salah satu coffee shop di Nologaten, Jogja.

“Aku yakin temen-temen UIN-ku di Surabaya pasti bakal skip ngopi di tempatku,” ungkap Puji.

Iklan

Pasalnya, harga termurah di coffee shop tempat Puji bekerja malah di angka Rp30 ribuan. Sementara bagi teman-teman Puji, uang Rp30 ribu daripada cuma dapat segelas kopi mending ke warkop biasa saja udah dapat se-rokok-rokoknya sekalian.

Puji sendiri selama di Surabaya tak jarang pula nongkrong di beberapa coffe shop. Sehingga, ia bisa menyimpulkan kalau coffee shop di Surabaya lebih bersahabat.

Ngopi di Surabaya Lebih Manusiawi ketimbang di Jogja MOJOK.CO
Ngopi di salah satu cafe di Surabaya yang harganya lebih murah dari Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Sama-sama coffee shop, katakanlah di Jogja harga termurah Rp20 ribu sampai Rp30 ribu. Di Surabaya ada loh yang masih di angka belasan ribu. Dengan konsep yang sama-sama estetik dan modern,” jelas Puji.

Kata Puji, saat ini gambaran ngopi murah di Jogja adalah di Kafe Basabasi, Bjongopi, Bento, atau Kobessah. Namun, Itu saja harga termurahnya Rp8 ribuan.

Di Surabaya, ada warkop dengan model sepert kafe-kafe murah Jogja tersebut. Akan tetapi harga paling rendahnya di angka Rp5 ribuan.

“Fenomena di Jogja, mau sekadar nongkrong atau nugas itu di coffee shop. Coffee shop termasuk bagian dari kebutuhan hidup di sini,” sambung Puji.

Sementara kalau di Surabaya, masih kata Puji, coffee shop hanya berhenti pada persoalan eksistensi. Untuk urusan di luar itu: nongkrong santai atau nugas kuliah, ya di warkop-warkop kecil Rp4 ribuan.

Surabaya lebih akrab dengan warung kopi

Saya sempat gelagapan saat Ipang, kru Mojok, bertanya rekomendasi coffee shop di Surabaya untuk lokasi Putcast edisi Surabaya pada penghujung 2023 lalu. Saya kosong soal coffee shop di Surabaya, meski hampir tujuh tahun tinggal di sana.

“Yang jelas kamu pasti punya warkop langganan di Surabaya,” ujar Puthut EA. Saya mengangguk mantap.

“Ya karena budaya Surabaya dan sekitarnya (Gresik dan Sidoarjo) yang kuat itu warkopnya,” sambungnya.

Di tempat saya sendiri, di Wonocolo, ada enam warkop yang saya jadikan langganan. Lalu di Ketintang ada satu warkop andalan. Kemudian di Wage, Sidoarjoa, ada dua warkop yang saya jadikan jujugan bersama teman-teman guru di sebuah yayasan tempat saya “main”.

Warkop-warkop tersebut selalu ramai dari pagi sampai menjelang subuh. Tak hanya dari kalangan mahasiwa, yang tampak di di warkop-warkop tersebut pun juga dari beragam kalangan.

Ngopi di Surabaya Lebih Manusiawi ketimbang di Jogja MOJOK.CO
Suasana di salah satu warkop di Surabaya. (Aly Reza/Mojok.co)

Hal ini senada dengan riset Listiyono Santoso dalam Etnografi Warung Kopi: Politik Identitas Cangkrukan di Kota Surabaya dan Sidoarjo yang terbit di Mozaik Humaniora Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya.

“Warung kopi menjadi jujugan warga kota (Surabaya dan Sidoarjo). Selain buka setiap saat, juga harganya relatif terjangkau oleh semua lapisan sosial,” tulis Listiyono.

Sebab, lanjut Listiyono, warkop pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat cangkrukan. Melainkan sebagai ruang-ruang sosial tempat setiap warga saling bersosialisasi, berinteraksi, sekaligus melampiskan segenap kejengkelan-kejengkelan terhadap kerasnya kontestasi kehidupan di kota besar.

Di level yang agak serius, Listiyono menyebut kalau budaya ngopi di warkop Surabaya (yang kerap disebut cangkrukan) bisa juga dipandang sebagai counter culture (budaya tanding) terhadap kemapanan kelas sosial tertentu.

“Tidak hanya itu saja, warkop justru menjadi lapangan pekerjaan baru yang menjanjikan bagi masyarakat urban yang tidak punya akses pada sektor formal,” kata Listiyono.

Karena melalui warkop, geliat ekonomi masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah tertolong. Sekaligus masyarakat mendapatkan ruang “pertemuan” murah meriah di tengah himpitan mal-mal dan kafe-kafe di Surabaya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Warteg Jogja Buyarkan Ekspektasi Perantau Surabaya, Rasa Masakan Tak Bisa Dibandingkan dengan Warteg Surabaya

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

 

 

Terakhir diperbarui pada 24 November 2025 oleh

Tags: angkringanbudaya ngopi jogjabudaya ngopi surabayaCoffee shop Jogjacoffee shop surabayaJogjaKuliner Jogjapilihan redaksiSurabayawarkop surabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.