Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Politik Oligarki Menguat, Pembangunan Pariwisata Merenggut Hak Warga DIY

Yvesta Ayu oleh Yvesta Ayu
30 Mei 2022
A A
lbh diy mojok.co

Direktur LBH DIY, Julian Dwi Prasetyo. (Yvesta Ayu/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DIY mencatat agenda ekonomi politik oligarki selama beberapa tahun kedepan akan menguat. Kondisi ini tidak hanya terjadi di tingkat nasional namun juga di daerah seperti di DIY.

Agenda tersebut akan membuat pembangunan infrastruktur pariwisata masif dilakukan. Akibatnya banyak hak-hak warga DIY dan Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan yang akan dirugikan oleh negara.

“Pembangunan infrastruktur pariwisata memanfaatkan sistem feodal yang merenggut hak-hak masyarakat,” ujar Direktur LBH DIY, Julian Dwi Prasetyo dalam Catatan Akhir Tahun (Catahun) 2021 LBH DIY di Den Nany Resto Yogyakarta, Senin (29/05/2022).

Menurut Julian, dengan sistem feodal maka akan terjadi pelemahan supremasi hukum untuk bisa memperjuangkan hak-hak warga bila nantinya pembangunan infrastruktur terus dilakukan.

Padahal saat ini kerusakan lingkungan di DIY dan Jateng Selatan akibat pembangunan infrastruktur semakin besar. Bila dibiarkan maka dikhawatirkan akan meningkatkan dampak dari bencana iklim di wilayah ini.

“Akibatnya bisa mempengaruhi kualitas hidup rakyat,” ujarnya.

Contohnya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bener di Wadas, Purworejo yang banyak ditentang warga. Pembangunan infrastruktur tersebut merupakan proyek untuk menunjang pariwisata yang belakangan menjadi sektor yang diunggulkan pemerintah.

Proyek di kawasan tersebut akan merugikan hak-hak warga. Bahkan dampak lingkungan terjadi seperti rumah retak dan longsor yang menutupi perkebunan hingga menutupi akses sungai di kawasan tersebut.

“Pembangunan ini merupakan pelemahan supremasi karena dilakukan dengan sistem feodal dan meningkatkan intensitas bencana iklim,” tandasnya.

Selain kerusakan lingkungan, selama empat tahun terakhir politik berubah. Hal ini membuat terjadi penyempitan akses keadilan bagi kelompok miskin, rentan, dan marginal.

Kepemimpinan pemerintahan Joko Widodo-Maaruf Amin di periode kedua ini tidak membuat perubahan situasi politik menjadi lebih baik. Bahkan pemerintah justru mempersempit akses keadilan warganya.

“Partisipasi rakyat pun dalam demokrasi juga dipersempit. Indikatornya tentu ada banyak aturan dibuat tidak melibatkan rakyat,” ungkapnya.

Pembangunan kawasan DIY dan Jateng Selatan yang masif, lanjut Julian dilakukan pasca kedua wilayah ini ditetapkan sebagai destinasi prioritas pariwisata oleh pemerintah. Untuk mendukung kawasan strategis pariwisata nasional tersebut, pemerintah jor-joran membangun infrastruktur tanpa memperhatikan hak warganya.

“Masifnya pembangunan infrastruktur akan merebut ruang rung hidup masyarakat,” ujarnya.

Iklan

Pemerintah pun, lanjut Julian juga masif membuat regulasi yang merugikan warganya. Sebut saja Undang-undang Cipta Kerja Omnibus Law Nomor 11 Tahun 2020. Selain itu UU Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Nomor 19 Tahun 2020 serta UU Pertambangan Mineral Batubara Nomor 3 Tahun 2020.

Tidak adanya keterlibatan masyarakat terjadi tidak hanya di tingkat pusat. Pemda DIY pun juga membatasi akses keadilan masyarakat melalui Peraturan Gubernur (pergub)  DIY nomor 1 Tahun 2021.

“Larangan demo dalam pergub itu menjadi salah satu indikator bagaimana rakyat tidak dilibatkan dalam proses demokrasi,” ujarnya.

Berbagai permasalahan tersebut menjadi catatan LBH DIY untuk terus memberikan bantuan hukum bagi keadilan warga. Kedepan LBH akan mengawal mereka melalui jaringan masyarakat sipil.

“Kami akan melakukan optimalisasi tata kelola organisasi untuk mendukung bantuan hukum struktural untuk melawan isu-isu strategis,” ujarnya.

Reporter: Yvesta Ayu
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Jokowi: Buya Syafii Maarif Sosok yang Menyuarakan Toleransi dan kabar terbaru lainnya di KILAS.

 

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2022 oleh

Tags: lbh diyoligarkipariwisata diy
Yvesta Ayu

Yvesta Ayu

Jurnalis lepas, tinggal di Jogja.

Artikel Terkait

Oka Karyanto: Menanam untuk Tumbuh, Menyepi, dan Melawan Oligarki
Video

Oka Karyanto: Menanam untuk Tumbuh, Menyepi, dan Melawan Oligarki

18 April 2022
Timnas Indonesia Memang Kalahan, tapi Lawan Rakyat Sih Negara Ini Menangan
Esai

Timnas Indonesia Memang Kalahan, tapi Lawan Rakyat Sih Negara Ini Menangan

3 Januari 2022
Orang-orangan Sawah di Senayan yang Sudah di Luar Kendali
Esai

Orang-orangan Sawah di Senayan yang Sudah di Luar Kendali

8 Oktober 2020
Yang Tak Disadari dari Satire ‘Besanan Kaum Miskin’ ala Muhadjir Effendy
Pojokan

Yang Tak Disadari dari Satire ‘Besanan Kaum Miskin’ ala Muhadjir Effendy

7 Agustus 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.