Privilese para Feodal yang Melahirkan Budaya Patronasi – Terminal Mojok

Privilese para Feodal yang Melahirkan Budaya Patronasi

Artikel

Beberapa waktu terakhir, pembahasan tentang privilese banyak menjadi perbincangan para netizen di berbagai media sosial. Secara harfiah, privilese disadur dari kosakata bahasa Inggris privilege yang artinya hak istimewa. Definisi hak istimewa bisa diartikan secara luas berupa kedudukan, sumber daya materi, dan keturunan.

Dalam konteks Indonesia, privilese bukanlah barang baru dan mungkin sudah dipraktikkan sejak ratusan hingga ribuan tahun lalu sehingga sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.

Cikal bakal masyarakat Indonesia kini pada dasarnya bersifat hierarkis khas feodalisme kerajaan. Pada masyarakat feodal, pemilahan antara penguasa dan rakyat menjadi tegas. Para penguasa hingga keturunannya dianggap sebagai orang besar yang diistimewakan oleh masyarakat. Barang siapa berani menghalangi kepentingan penguasa serta lingkaran di sekelilingnya maka akan menanggung akibat yang buruk.

Begitu pun sebaliknya, bagi masyarakat yang patuh, setia, dan melancarkan kepentingan penguasa maka akan mendapat keberkahan berupa hak keistimewaan tertentu. Praktik tersebut dilakukan dari Zaman kerajaan hingga zaman kolonial Belanda.

Sebenarnya praktik mengistimewakan penguasa tidak masalah apabila penguasanya memang seorang yang arif, adil, dan bijaksana. Sayangnya, tidak semua penguasa mempunyai sifat-sifat tersebut, bahkan malah menjadi kebalikan dari sifat-sifat tadi.

Masalah lain juga terdapat ketika seorang penguasa yang adil dihormati beserta orang-orang disekelilingnya (keturunan, asisten, dan sebagainya), namun orang-orang di sekeliling penguasa justru memiliki sifat berbanding terbalik dari sang penguasa. Banyak masyarakat zaman kerajaan kecelik karena keturunan penguasa yang baik tidak sebaik bapak dan simbahnya.

Feodalisme zaman dahulu ternyata dibawa hingga saat ini sehingga menimbulkan budaya yang disebut sebagai patronasi. Budaya ini muncul sebagai akibat dari besarnya kekuasaan sang penguasa karena memperoleh privilese dari masyarakat. Pola hubungan antara penguasa beserta orang di sekelilingnya dengan masyarakat menjadi interaksi antara si Patron dan Client.

Patron memiliki privilese berupa kekuasaan, kedudukan, perlindungan dari hukum, dan sumber daya materi (harta kekayaan, tanah garapan, dan uang). Sementara Client memiliki tenaga, sumber daya materi terbatas, dukungan, dan loyalitas. Pola hubungan ini menghasilkan proses tawar-menawar sehingga untuk memperoleh sedikit privilese maka si Client perlu mendekati sang Patron alias penguasa dengan menunjukkan dukungan, loyalitas, dan sedikit imbalan materi.

Pola interaksi antara si Patron dan si Client bisa lebih rumit lagi ketika orang-orang di sekeliling Patron menjadi perantara atau sebagai Broker di tengah-tengah hubungan keduanya. Banyak sekali Broker menjadi perantara masyarakat yang menginginkan sedikit privilese tertentu dari penguasa. Pola Interaksi tersebut mengakar kuat di Indonesia hingga ke tingkat paling bawah.

Contoh kecilnya ketika kamu seorang anak birokrat golongan atas maka tetanggamu (si Client) yang tidak memiliki jaringan dengan profesi birokrat otomatis akan mendekatimu supaya bisa dijadikan birokrat golongan bawah. Lantas, si anak tadi mau menjadi Broker dengan syarat si Client akan setia kepada bapaknya dan memberi sedikit uang sebagai tanda jadi untuk mempermudah proses memasukkannya sebagai birokrat. Dalam konteks kasus tersebut, si Client memang tidak otomatis menjadi birokrat, tapi ia sudah dipermudah jalannya untuk menjadi birokrat.

Dampak dari privilese memang tidak serta merta otomatis membawa kamu mencapai tujuan. Meski begitu, privilese mempermudah jalanmu untuk mencapai tujuan. Simpelnya begini , ada 10 level yang harus dilewati untuk mencapai tujuan tertentu dan privilese memang tidak otomatis membawamu melewati level 10, tapi ia bisa mempermudah jalanmu untuk memulai dari level 5 atau bahkan 9, padahal idealnya kamu harus mulai dari level 0 (Yujiem, 2020). Dari sini dapat diketahui bahwa privilese memang menjadikan kompetisi memperoleh tujuan tidak murni lagi karena ibarat balapan Valentino Rossi dilawankan Doni Tata.

Dampak lain dari pemberian privilese melalui budaya patronasi adalah perihal gap antara si kaya dan si miskin. Si kaya akan semakin kaya karena memiliki Patron dan tak jarang dia sendiri yang menjadi Patronnya. Si Broker yang biasanya juga berasal dari golongan menengah ikut diuntungkan dengan adanya privilese. Si miskin menjadi korban dari semua pola interaksi kotor tersebut karena tak memiliki akses untuk mendapat privilese sehingga hanya si miskin beruntung dan pekerja keras yang bisa berhasil mencapai tujuan tanpa keuntungan tertentu.

Buktinya bisa kita temukan di banyak media di Indonesia, banyak media heboh ketika seorang anak tukang becak menjadi tentara. Secara tidak langsung, media memperlihatkan bahwa tentara kebanyak diisi oleh anak tentara, pengusaha besar, politisi kelas kakap, dan kalangan menengah ke atas lainnya.

Terakhir, akibat dari adanya pemberian privilese melalui budaya patronasi mengakibatkan persaingan di depan layar hanyalah sebatas formalitas belaka. Semua sudah diatur dengan permainan di belakang layar. Kualitas para peserta seleksi menurun karena orang yang diterima bukan yang kompeten, namun orang dekat Patron atau memiliki akses kepada Patron. Sesuai dengan perkataan rasul, dampak terbesarnya jika urusan diisi oleh orang yang ahli di bidangnya maka hancurlah urusan itu. Lantas, jika sudah hancur bagaimana mau melangkah, orang berdiri saja susah kok.

Budaya patronasi adalah penyebab munculnya privilese tertentu terasa tidak adil bagi mereka yang tidak memiliki akses untuk memperoleh privilese. Hal ini membahagiakan bagi orang-orang yang sudah mendapat privilese tersebut sehingga pola interaksi ini terasa perlu dilanggengkan secara turun temurun. Tak ada solusi selain kalangan yang diuntungkan oleh privilese melalui budaya patronasi untuk meninggalkan privilese miliknya dan bersaing secara fair.

BACA JUGA Sejarah Musik EDM dan Kultur Pesta di Yogyakarta dan tulisan Rofi’i Zuhdi Kurniawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.