Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Yang Tak Disadari dari Satire ‘Besanan Kaum Miskin’ ala Muhadjir Effendy

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
7 Agustus 2020
A A
Yang Tak Disadari dari Satire ‘Besanan Kaum Miskin’ ala Muhadjir Effendy

Yang Tak Disadari dari Satire ‘Besanan Kaum Miskin’ ala Muhadjir Effendy

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebelum kamu ngamuk-ngamuk sama Muhadjir Effendy, saya akan beri sedikit poin penjelasan kenapa pernyataan “besanan kaum miskin” ini sangat menarik.

Kemiskinan struktural.

Iklan

Itu adalah target kritik yang sejatinya ingin disasar Muhadjri Effendy dengan kesadaran penuh lewat pernyataan; “Sesama keluarga miskin besanan kemudian lahirlah keluarga miskin baru.”

Menurut Muhadjir, mata rantai kemiskinan akan terus bertambah selama keluarga miskin saling besanan dengan sesama keluarga miskin. Lingkaran kemiskinan itu akan berputar di sana dan sulit untuk keluar.

Sebuah ungkapan yang sangat mengejutkan bagi saya karena begitu dalam makna filosofisnya. Bahkan, saya pun sampai gemetaran menulis ulang pernyataan Pak Muhadjir tadi. Kayak mau nulis “enter” aja berat gitu. Sumpah, ini serius.

Sayangnya, pernyataan penuh arti Pak Muhadjir Effendy tersebut tak diterima publik dengan baik. Alih-alih dimasak dengan proper, pernyataan itu ditelan mentah-mentah. Ketimbang dianggap sebagai sebuah kelakar yang filosofis, pernyataan ini dianggap menghina—terutama bagi kaum miskin. Muhadjir pun lantas jadi target serangan kritik.

Kalau kamu masih ingat, Pak Menko sebenarnya sudah memulai perkara beginian sejak Februari 2020 silam. Kala itu dengan berkelakar (pula) Muhadjir mengusulkan fatwa orang kaya menikahi orang miskin. Sebuah usulan out of the box dari pejabat generasi boomer tapi punya cita rasa FTV.

Uniknya, sejak saat itu pula saya masih belum mengerti kenapa banyak orang yang tak terima dengan pernyataan ajaib dari Pak Menko Bidang Pembangunan Manusia ini. Sebab dari segi mana pun, pernyataan Muhadjir ini menunjukkan realitas secara gamblang bahwa kemiskinan yang terjadi selama ini memang bukan “terbentuk” melainkan “dibentuk”.

Oke, oke, sebelum kamu semuwa ngamuk-ngamuk karena saya belain Muhadjir Effendy, saya akan beri sedikit poin penjelasan kenapa pernyataan Muhadjir ini sangat menarik dan perlu telaah secara serius.

Hal yang pertama harus disadari, selama ini, stigma negatif dari kaum miskin itu sering muncul karena anggapan “akibat dari malas”.

Entah itu karena malas sekolah, malas belajar, malas cari kerja, atau malas ketika bekerja.

Karena stigma kemalasan itu pula akhirnya keberadaan kaum miskin seringkali dianggap wajar. Sebuah sunnatullah. Mereka adalah kelompok yang gagal dalam kompetisi ekonomi.

“Ya wajar kalau mereka miskin, pasti waktu sekolah mereka bodoh. Makanya kehidupan mereka tidak berubah. Nggak pinter cari duit sih.”

Kira-kira begitu stigma negatifnya.

Makanya itu, kemiskinan sering jadi momok yang mujarab untuk memberitahu generasi anak muda agar rajin bersekolah, rajin baca buku, atau jadi anak baik-baik. Sekaligus, dari sisi sebaliknya, stigma ini pun berkolerasi secara terbalik terhadap orang-orang kaya.

“Ah, wajar kalau mereka kaya. Pasti waktu muda mereka sangat rajin belajar, jadi pintar, makanya mereka pinter cari duit.”

Begitu kira-kira.

Padahal aslinya?

Iklan

Ya nggak begitu juga, Marwoto. Nggak sesimpel itu.

Kemiskinan tidak berkorelasi dengan kebodohan, berikut juga dengan kekayaan yang tidak berkorelasi dengan kepintaran. Satu-satunya hubungan sebab-akibat kenapa bisa lahir jurang antara kaum kaya dengan kaum miskin adalah ini: AKSES.

Baik akses soal pendidikan, akses lingkungan, akses ekonomi, akses politik, sampai dengan akses dalam mencari besan. Dan akses ini merupakan perkara krusial yang menjadi masalah kenapa orang miskin berpeluang besar tetap selalu miskin.

Hal yang barangkali terselip secara tersirat dalam pernyataan ajaib Pak Muhadjir tadi. Bahwa yang blio sasar sebenarnya bukan pada poin “orang miskin”-nya, melainkan soal minimnya akses bagi kaum miskin untuk mengubah kehidupannya. Sampai-sampai untuk cari besan pun bisanya dapat yang sesama orang miskin.

Sebaliknya, akses ini juga sering dijaga rapat-rapat oleh orang-orang kaya agar previlege itu bisa terus memenuhi kerakusan kebutuhan secara berkelanjutan di lingkungan orang kaya sendiri. Kerabat sendiri, keluarga sendiri, atau besanan-besanan sendiri.

Dalam perspektif lebih luas, akses ini juga dijaga lewat cara-cara yang lebih legal. Seperti, orang-orang kaya coba masuk ke sistem pemerintahan (sudah terjadi sebenarnya), bikin aturan-aturan yang mengutungkan mereka melalui undang-undang resmi.

Yaaah, semata-mata demi dua hal: 1) Agar jumlah kompetitor yang makin banyak dari kaum miskin tidak punya peluang untuk bertambah; 2) Kekayaan mereka bisa terus langgeng sampai tujuh turunan.

Atau kalau mau pakai bahasa keren yang lebih kekinian kita mengenal istilah ini: OLIGARKI.

Oke, oke, saya tahu kamu gatel ingin komentar kalau ada kok orang yang lahir dari keluarga miskin lalu karena kerja keras akhirnya bisa mengubah nasibnya jadi orang kaya. Dari kisah si anak singkong atau penulis novel dari Belitung Timur, misalnya.

Sekarang saya coba tanya balik, ada berapa orang yang beruntung bisa seperti itu? Ada berapa banyak orang miskin bekerja keras pada masa mudanya lalu memetik hasilnya sebagai orang kaya? Hm, tidak banyak, Bung.

Ibarat perbandingan antara pengusaha MLM yang dapat mobil Jaguar dengan pengusaha MLM yang bongko sampai stres karena rugi. Jauh lebih banyak yang gagal, Bung. Lebih banyak kisah orang miskin rajin, pintar, dan berpestasi ketika sekolah tapi tetap tidak bisa keluar dari lingkaran kemiskinan. Lagi-lagi, karena kalah perkara akses.

Ranking 1 di sekolah, juara lomba cerdas cermat sekecamatan, tapi karena tidak punya duit untuk kuliah dan nggak ngerti caranya dapat beasiswa akhirnya berakhir jadi penjual mie ayam. Atau, sudah ngerti caranya dapat beasiswa, tapi kejegal karena saingannya lebih punya akses ke penyalur beasiswa. Tutup buku deh mimpinya.

Oleh sebab itu, ketimbang mengejek atau nyinyirin pernyataan Muhadjir Effendy, saya malah ingin kasih standing applause ke blio. Pernyataan “besanan keluarga miskin” itu lebih mirip ironi yang disampaikan dengan nada satire dan penuh aroma dark komedi.

Dari sisi sebaliknya, pernyataan Muhadjir itu bisa dipahami sebagai tamparan, bahwa betapa banyak pejabat kita yang menjaga lingkaran kekuasaan dan kekayaan sehingga bikin orang miskin semakin minim punya peluang. Menutup akses itu semua hanya demi keuntungan keluarga sendiri atau anak sendiri.

Nggak percaya? Coba deh tanyakan hal itu sama Gibran.

BACA JUGA Apa Usulan Muhadjir Effendy Soal Pernikahan Lintas Kelas Ekonomi Terinspirasi dari FTV? atau tulisan soal KEMISKINAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2020 oleh

Tags: gibrankemiskinanmenkomiskinmuhadjir effendyoligarki
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Solusi agar lansia di Indonesia tidak rentan miskin tanpa dana pensiun untuk putus siksaaan finansial sandwich generation MOJOK.CO

Lansia Indonesia Rentan Miskin Tanpa Dana Pensiun bikin Anak Muda Tersiksa Finansial Jadi Sandwich Generation, Harus Diputus

11 Juni 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
GVD Resmi Rilis Single Perdana "VII", Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah.MOJOK.CO

GVD Resmi Rilis Single Perdana “VII”, Bawa Konsep Post-Black Berbalut Visual Kei Cerah

23 Agustus 2026
Shifana, pemain Timnas U-16 Indonesia dibayangi pemain Yordania, Alma Odai di pertandingan semifinal Srikandi Merdeka Cup 2026. Indonesia menang dengan skor 3-0 di laga semifinal, Jumat (21/8).

Timnas Putri U-16 Indonesia Bungkam Yordania 3-0, Thailand Menanti di Final Srikandi Merdeka Cup

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.