Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Suka Main Game tapi Tetap Bisa Lulus IPK Tertinggi di ITB di saat Game Dapat Stereotip sebagai Pengganggu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
19 November 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski mengaku suka main game, tapi mahasiswa Teknik Informatika asal Jogja tetap mampu lulus dari kampus sekelas ITB. Bahkan bisa lulus dari dengan IPK sempurna (4,00).

Namanya Bryan Amirul Husna. Dia baru saja dikukuhkan sebagai sarjana oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam Wisuda Pertama Tahun Akademik 2024/2025, di Auditorium Sasana Budaya Ganesa (Sabuga).

Dalam acara yang berlangsung Sabtu (26/10/2024) itu, Bryan yang merupakan mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Informatika Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB dinobatkan sebagai mahasiswa dengan IPK tertinggi.

Bryan merampungkan kuliahnya dalam kurun waktu empat tahun alias tepat waktu. Dengan begitu, dia dianggap layak mendapat predikat cumlaude.

Ke ITB demi ikuti jejak B.J. Habibie

Sejak SMA di Jogja, Bryan sebenarnya sudah bercita-cita bisa kuliah di ITB sebagai salah satu kampus top Indonesia.

Di masa-masa SMA itu, Bryan mengaku sangat terinspirasi dengan sosok B.J. Habibie. Itu lah kenapa dia sempat punya cita-cita bisa kuliah Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD).

Seiring waktu, menjelang hari-hari pendaftaran SNBT, pilihan minat Bryan berubah. Atas saran dari guru dan temannya, dia akhirnya menjatuhkan pilihan di STEI ITB. Ternyata dia lolos.

Merantau lah dia dari Jogja ke Bandung. Satu mimpinya—kuliah di ITB—sudah terwujud. Tinggal mewujudkan mimpi-mimpi yang lain.

Main game hanya untuk menghilangkan jenuh

Sebagaimana anak-anak muda pada umumnya, Bryan juga suka main game. Namun, hal tersebut tidak lantas membuat Bryan melupakan prioritas-prioritas yang lain.

Ini yang perlu dicatat. Meski Bryan suka main game, tapi dia tidak lantas menghabiskan banyak waktu untuk memiringkan ponsel pintarnya. Bermain game hanya lah selingan saja di sela-sela kesibukannya belajar.

Bryan memang doyan belajar. Selama menempuh pendidikan di STEI ITB, dia kerap begadang hingga larut malam. Entah untuk mengerjakan tugas atau belajar materi-materi kuliah.

Baru saat sedang jenuh, dia memiringkan ponsel pintarnya: main game. Itu pun tak berlangsung lama. Sebab, ketika dia sudah merasa cukup, rasanya jenuhnya sudah hilang, dan energinya sudah kembali, maka dia akan lanjut belajar lagi.

Nggak akan lulus cumlaude ITB tanpa kesungguhan

Lantaran “doyan belajarnya” itu, setiap semester Bryan selalu konsisten mendapat nilai rata-rata (NR) 4,00. Untuk lulus cumlaude dari kampus sekompetitif ITB memang jelas butuh kesungguhan.

“Beberapa hal yang aku lakukan selama perkuliahan adalah mengusahakan masuk kelas untuk mendengarkan penjelasan dosen. Setelah itu, belajar kembali di rumah melalui buku-buku pegangan sebagai referensi,” ujar Bryan dalam keterangan tertulisnya di laman resmi ITB, Kamis (14/11/2024).

Iklan
Suka Main Game tapi Tetap Bisa Lulus Cumlaude STEI ITB MOJOK.CO
Bryan, mahasiswa Teknik Informatika STEI ITB peraih IPK tertinggi. (Dok. ITB)

Saat tugas-tugas bermunculan, kata Bryan, usahakan untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Jangan hanya “sekadarnya” saja. Jangan hanya “yang penting selesai”. Tapi harus maksimal.

“Intinya adalah ikhlas dan sabar dalam prosesnya. Karena belajar itu sama seperti memupuk ilmu yang hasilnya bukan jangka pendek tapi jangka panjang,” tuturnya.

Sibuk di UKM untuk benar-benar kembangkan diri

Bryan memang sangat konsekuen. Dia suka main game, tapi belajar tetap jadi prioritas utama. Di tengah tidak sedikit mahasiswa di luar sana yang lantaran hanyut dalam game bisa lupa dengan belajar dan prioritasnya.

Selama menjadi mahasiswa Teknik Informatika STEI ITB, Bryan pun tidak hanya kuliah pulang-kuliah pulang (hanya fokus akademik). Melainkan juga mengikuti beberapa kegiatan seperti asisten mata kuliah dan unit Aksantara, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di ITB yang menyediakan wadah pengembangan diri dalam bidang Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan pendukungnya.

Nah, ini sisi konsekuen Bryan yang lain. Selama ini, sampai ada stereotip bahwa mahasiswa yang gabung UKM atau organisasi kampus lainnya sering kali kuliahnya tidak terurus. Mereka menggunakan alasan “kesibukan organisasi” sebagai tameng.

Padahal, UKM sebenarnya malah bisa menjadi variabel penunjang capaian akademik mahasiswa. Misalnya yang Bryan terapkan. Melalui UKM UAV STEI ITB, dia sempat mengikuti lomba hingga menyabet juara 4 di ajang Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI).

Suka Main Game tapi Tetap Bisa Lulus Cumlaude STEI ITB MOJOK.CO
Bryan, mahasiswa jurusan Teknik Informatika STEI ITB peraih IPK tertinggi. (Dok. ITB)

Bryan akhirnya lulus dengan tugas akhir  berjudul “Rekonstruksi 3D Lalu Lintas untuk Kendaraan Otonom dengan Gaussian Process Latent Variable Model (GPLVM)”.

Bryan sebenarnya masih punya angan-angan untuk lanjut studi lagi. Akan tetapi, untuk saat ini, dia mempertimbangkan untuk kerja terlebih dulu.

“Biar mendapatkan pengalaman kerja yang relevan untuk memperdalam pemahaman praktiknya, sehingga ketika melanjutkan studi sudah memiliki dasar yang kuat dan wawasan lapangan yang lebih baik,” tutupnya ramah.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kuliah S2 Astronomi hingga ke Jerman, Tetap Ingin Pulang demi Majukan Indonesia

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 19 November 2024 oleh

Tags: ITBjurusan tekni informatikakampus di bandungstei itbteknik informatika itb
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
Nekat resign dari BUMN karena nggak betah kerja di Jakarta. MOJOK.CO
Liputan

Nekat Resign dari BUMN karena Lelah Mental di Jakarta, Pilih “Pungut Sampah” di Kampung agar Hidup Lebih Bermakna

10 Desember 2025
Jurusan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta lebih unggul dari ITB. MOJOK.CO
Kampus

Dari Dulu Nggak Percaya ITB Kampus Terbaik, Masuk Jurusan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta adalah Keputusan Tepat

27 September 2025
Ferry Irwandi dan Pisau Ekonomi yang Menguliti Akal Sehat MOJOK.CO
Esai

Pisau Ekonomi Ferry Irwandi: Kuliah Publik SBM ITB yang Ngena sampai ke Urat Nadi Kebijakan

27 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
Dari keterangan Polresta Yogyakarta: Kantor scammer berbasis love scam di Gito Gati, Sleman, raup omzet puluhan miliar perbulan MOJOK.CO

Kantor Scammer Gito Gati Sleman: Punya 200 Karyawan, Korbannya Lintas Negara, dan Raup Rp30 Miliar Lebih Perbulan dari Konten Porno

7 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Kenangan lepas perjaka di kawasan prostitusi Stasiun Rambipuji, Jember MOJOK.CO

Kenangan Lepas Perjaka di Stasiun Rambipuji Jember, Mencari Kepuasan di Rel Remang dan Semak Berbatu dengan Modal Rp30 Ribu

5 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang MOJOK.CO

Budaya “Jatah Ciu” kepada Pemuda Desa Dianggap Manifestasi Srawung, tapi Tak Cocok Untuk Semua Orang

6 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.