Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Surabaya Sudah Mantap DO tapi Langsung Ngebut Skripsian Gara-gara Surat Wasiat Ibu Sebelum Meninggal

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Maret 2024
A A
Mahasiswa Surabaya Ngebut Skripsi karena Teror Arwah Ibu MOJOK.CO

Ilustrasi mahasiswa batal DO dan ngebut skripsi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Awalnya mantap untuk drop out (DO), seorang mahasiswa Surabaya akhirnya bertekad ngebut skripsi di semester 12. Pasalnya, ia mengaku arwah sang ibu terus menerornya, mendesaknya agar segera lulus kuliah.

***

Jumat, (1/3/2024) dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB, Pandu (26) mengirim WhatsApp (WA) ke saya yang pada intinya adalah membicarakan soal skripsi.

Pesan itu baru saya baca pagi harinya, saat saya bangun tak lama setelah azan Subuh. Pesan yang membuat saya sontak membatin, “Hah?”. Tak percaya.

Bagaimana tidak. Dalam pertemuan kami terakhir kali pada November 2023 lalu di sebuah warung kopi di Wonocolo, Surabaya, Pandu dengan santai menyebut bahwa besar kemungkinan ia akan memilih DO.

“Sudah sejak lama aku merasa kuliah begitu-begitu saja, nggak ada urgensinya. Punya ijazah pun cari kerja tetap sulit kan?,” ujarnya waktu itu.

Pandu sendiri sejak semester 4 sudah bekerja di sebuah konter HP yang cukup besar di Surabaya. Gajinya lumayan. Ia daftar kerja itu pun dengan ijazah SMA.

Mungkin itu yang membuatnya sudah malas untuk kuliah. Atau bisa jadi juga karena urusan idealisme. Saya waktu itu tak bisa menangkap alasan persis Pandu rela-rela saja jika DO.

Namun, yang jelas, pesan WA yang ia kirim dini hari itu membuat saya jelas agak kaget. Mengingat, sekarang sudah semester 12. Dua semester lagi kalau tak kunjung mengerjakan skripsi, maka ia sudah otomatis DO.

Dan memang itulah yang awalnya ia niatkan, DO secara otomatis di semester 14. Tapi kok tiba-tiba malah tampak gopoh-gapah ingin mengerjakan skripsi?

Teror arwah ibu pada mahasiswa Surabaya

“Ada desakan dari dosen wali, ta, kok tiba-tiba mau ngerjain skripsi?,” tanya saya menggojlok. “Atau kesurupan apa?”

Pandu lantas terkekeh. Ia mengaku sudah berulang kali mendapat desakan dari dosen walinya. Namun, ia tak menggubris.

Dari yang semula sering mengirim pesan tiap dua kali dalam sebulan, si dosen wali akhirnya lepas tangan. Tak mencoba mendesak Pandu lagi.

Teman-teman tongkrongan, seperti saya pun sudah berulang kali mengingatkan agar Pandu lekas merampungkan skripsinya.

Iklan

Bahkan, sepanjang masih di Surabaya, saya sendiri sudah dengan senang hati meminjaminya laptop karena ia tak punya.

Toh beberapa kawan yang tak punya laptop selama ini kalau skripsian juga saya pinjami. Akan tetapi, Pandu tak ada pergerakan. Ia malah sibuk mengisi waktu luang dengan aktif di forum-forum diskusi di Surabaya.

“Belakangan ibuku sering datang ke mimpi cok!” kata mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA) tersebut.

“Semalam kayak agak marah, ‘Ayo lhang dikerjakan skrispnya.’ Ibu bilang gitu,” sambungnya.

Pandu lantas mengaku, sebenarnya itu bukan kali pertama ia seperti didatangi oleh arwah sang ibu untuk menanyakan progres skripsi dari anak sulungnya tersebut.

Namun, biasanya sang ibu datang dengan nada lembut. Beda dengan yang baru-baru ini terjadi, sang ibu seperti marah dengan Pandu.

Surat wasiat saat Surabaya jadi zona merah

Untuk diketahui, ibu Pandu meninggal menjelang penghujung 2021 silam, saat Surabaya menjadi zona merah persebaran Covid-19.

Ibu pandu termasuk pasien yang terjangkit virus tersebut hingga harus menjalani masa isolasi dan perawatan di sebuah rumah sakit di Surabaya.

“Di detik-detik terakhir sebelum ibu nggak sadarkan diri (kritis), ibu sempat minta aku ambilin pulpen dan kertas,” tutur Pandu.

Ibu Pandu lalu tampak menuliskan sebuah kelimat di secarik kertas tersebut, yang kemudian ia serahkan pada Pandu. Belum juga kertas itu Pandu baca, ibunya telah mengembuskan napas terakhir.

“Ibu nggak minta apa-apa, ibu cuma minta aku ngerjain skripsi, nyelesaiin kuliah,” ujar Pandu menjelaskan apa isi dari secarik kertas itu, yang ternyata adalah surat wasiat agar Pandu menuntaskan kuliahnya.

Hidup tak karuan tanpa ibu

Membaca surat wasiat dari ibunya itu, Pandu sebenarnya memiliki tekad untuk segera menuntaskan kuliah.

Berkali-kali ia mencoba mencari topik dan sumber untuk skripsi yang akan ia tulis.

Namun, setiap kali hendak mengeksekusinya, ia merasa pikirannya mampet. Selain itu, ia juga merasa moodnya untuk mengerjakan skripsi sering kali hilang tiba-tiba tiap kali ia sadar kalau sang ibu sudah tiada.

“Nggak cuma buat skripsian, buat kerja dan aktivitas sehari-hari aja aku sudah males. Hampa. Rasanya pengin segera nyusul ibu saja,” ujarnya.

“Anak laki-laki kalau sudah nggak punya ibu, dunianya hancur. Ya kayak anak perempuan kalau ayahnya meninggal,” sambungnya.

Alhasil, karena berlarut-larut dalam luka dan kesedihan (karena ibu meninggal), Pandu kemudian lepas tangan pada skripsinya. Pasrah saja kalau nanti DO.

“Aku setiap semester bayar UKT. Buat jaga-jaga kalau aku sudah punya energi buat skripsian. Tapi nyatanya ya aku merasa selalu nggak punya energi. Hampa,” imbuhnya.

Terlebih, selain kehilangan sosok ibu, saat itu Pandu juga tengah hancur-hancurnya soal asmara. Maka, semakin komplet lah alasan-alasan yang membuatnya kehilangan gairah untuk mengerjakan skripsi.

Semester 14 harus lulus

Usai mendapat mimpi ‘teror’ dari arwah ibu, Pandu pun menziarahi makam ibunya di sebuah komplek pemakaman di Pacar Keling, Surabaya. Tak sekadar berdoa, tapi ia juga mencurahkan alasannya tak kunjung mengerjakan skirpsi.

Mahasiswa Surabaya Ngebut Skripsi karena Diteror Arwah Ibu MOJOK.CO
Ilustrasi mahasiswa ngebut skripsi. (Unsplash)

Bukan karena malas dan menyepelekan wasiat sang ibu, tapi justru karena Pandu merasa tak kuasa menjalani hari-hari tanpa kehadiran sosok ibu. Terlampau berat.

“Seandainya ibu masih hidup, pasti nggak seberat ini. Pasti skripsi jadi perkara remeh bagiku,” ucap Pandu di hadapan pusara sang ibunda.

Pandu pun tak luput meminta doa pada ibunya agar tekadnya untuk menuntaskan skripsinya berjalan mudah.

“Sekarang ibu ada di sisi Tuhan. Jadi kalau dulu ia melindungi anak-anknya lewat doa, sekarang ibu langsung bisa ngomong ke Tuhan,” tuturnya.

Kepada saya, ia bertekad semester 14 bisa tuntas. Itu target yang realistis baginya. Ia membatalkan niat untuk DO yang sebelumnya sudah bulat.

Sementara saya memastikan bisa membantunya kalau ada kesulitan-kesuitan yang kiranya bisa diselesaikan lewat WA.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Sudah Nggak Zamannya Aktivis Lulus Molor, Harus Membuktikan Diri Lulus Cepat IPK Tinggi Meski Sibuk-sibuknya di Organisasi

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2024 oleh

Tags: DOMahasiswapilihan redaksiskripsiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.