Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Mahasiswa Jakarta Terpaksa Belajar Bahasa Jawa biar Nggak Diketawain Orang Surabaya, Malah Geli Sendiri Pakai “Aku-Kamu”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 Agustus 2025
A A
Shock culture mahasiswa asal Jakarta merantau ke Surabaya. MOJOK.CO

ilustrasi - Mahasiswa Jakarta risih dengan orang Surabaya yang pakai 'aku-kamu'. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang Jakarta kagok pakai kata ganti ‘aku-kamu’

Komunikasi intens Rofi bersama teman sebayanya terjadi saat orientasi mahasiswa (ospek) jurusan. Sebagai mahasiswa di Jurusan Teknik, Rofi harus berkenalan dengan mahasiswa yang kebanyakan adalah laki-laki. Ketika sesi istirahat, seorang temannya sengaja duduk di samping Rofi dan menyapanya.

“Rof,” sapa temannya.

“Iya, kenapa?” jawab Rofi.

“Kamu sudah makan belum? Kalau belum ayo makan bareng aku,” ajak temannya.

Seketika Rofi langsung kagok, bukan karena ajakan temannya tadi, tapi lebih ke bahasa yang ia gunakan. Sebagai orang Jakarta yang terbiasa menggunakan kata ganti ‘loe-gue’, Rofi mengaku canggung dengan temannya yang orang Surabaya menggunakan panggilan ‘aku-kamu’. Terlebih keduanya adalah laki-laki. 

Saat itu, Rofi masih terdoktrin dengan budaya orang Jakarta yang menggunakan ‘aku-kamu’ untuk PDKT atau orang yang sedang pacaran, sehingga terkesan bikin baper. Sedangkan ‘loe-gue’ lebih digunakan untuk bahasa gaul sehari-hari. 

“Aku dalam hati langsung bilang ‘bentar-bentar, kok agak gimana gitu ya pakai aku-kamu ke sesama cowok. Sangat aneh dan nggak nyaman wkwkwk’” tutur Rofi.

Mau tidak mau belajar bahasa Jawa

Kejadian itu Rofi membuat sadar kalau kata ganti ‘aku-kamu’ sering dipakai mahasiswa rantau di Surabaya, karena lebih terdengar sopan dan tidak terlalu formal. Tak hanya itu, Rofi juga jadi merasa perlu belajar bahasa Jawa sedikit demi sedikit. 

Tekadnya bermula sejak ia sering membeli makan di warung penyetan pinggir Jalan Keputih, Surabaya. Setelah makan dan hendak membayar, si pedagang bertanya kepada Rofi dengan menggunakan bahasa Jawa. 

“Nggih, tadi ikane pake apa Mas?” tanya pedagang tersebut.

“Maaf Bu, saya nggak pakai ikan. Saya pakai telur dadar,” jawab Rofi.

“Oh, ikan itu maksudnya lauk Mas. Baru ya di sini?” 

Rofi hanya bisa garuk-garuk kepala menahan malu, apalagi para pelanggan yang ada di sana juga melirik ke arahnya. Kejadian itu pun memotivasinya untuk belajar Bahasa Jawa tak hanya secara teks tapi juga kontekstual.

Iklan

Lambat laun, Rofi pun jadi mahir Bahasa Jawa meski tidak semua. Tapi setidaknya, ia sudah paham beberapa kata. 

“Tapi kalau Jawa-nya yang Jawa banget, sulit juga. Jadi kadang ketika beli sesuatu terus penjualnya ngomong bahasa Jawa, saya akan bilang ‘mohon maaf, apakah bisa diulang?’” kata Rofi.

Kuliner di Surabaya yang nggak cocok di lidah orang Jakarta

Penyetan sendiri menjadi kuliner andalan Rofi di perantauan karena ada di setiap tempat baik di Jakarta maupun Surabaya. Terlebih lidahnya masih belum beradaptasi dengan makanan di Surabaya. Tapi, lama-kelamaan ia pun bosan dengan lauk penyetan yang itu-itu saja. 

Alhasil, ia ingin mencicipi makanan lain. Dan pilihannya jatuh kepada nasi goreng. Mulanya, ia tidak terlalu khawatir dengan rasanya nanti. Yang namanya nasi goreng, rasanya pasti sama saja. Tapi, Rofi jadi ragu setelah melihat nasi goreng itu jadi.

“Kebetulan aku kan nggak lihat proses pembuatannya ya, terus waktu aku buka bungkusnya di kosan aku kaget. ‘Loh kok warna nasinya merah?’. Rasanya benar-benar nggak bisa dijelaskan. Di luar ekspektasi saat itu. Sampai sekarang pun masih belum bisa menerima nasi goreng warna merah,” tutur Rofi.

Tak hanya nasi goreng, kadang-kadang Rofi juga tak setuju dengan rasa bubur dan nasi uduk di Surabaya. Termasuk kwetiau yang dijual oleh abang-abang nasi goreng. 

“Aku memang termasuk pilih-pilih. Ada beberapa hal yang tipe makanannya memang nggak cocok. Jadi kalau di sini ya cari makanan yang umum atau masak sendiri di rumah,” ujar pemuda asal Jakarta itu.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Jakarta di Jogja: Dianggap Eksklusif karena “Lu-Gua”, Mencoba Berbaur Dianggap Sok Asyik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2025 oleh

Tags: aku kamujakartakuliah di Surabayamahasiswa jakartamerantauSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Mekanisme beasiswa LPDP untuk kuliah di luar negeri masih silang sengkarut, awardee cemas jadi "WNI" MOJOK.CO

Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi

23 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.