Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Rp9,9 Triliun “Dana Kreatif” UGM: Antara Ambisi Korporasi dan Jaring Pengaman Mahasiswa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Desember 2025
A A
UGM.MOJOK.CO

Ilustrasi - Universitas Gadjah Mada (UGM (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Zaki baru saja diterima sebagai mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada (UGM), salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Namun, alih-alih merasakan euforia, benak pemuda asal Banjarnegara ini justru diselimuti kecemasan. 

Ayahnya, berpulang saat pandemi Covid-19 melanda. Ia meninggalkan ibunya yang kini harus berjuang sendirian sebagai tulang punggung keluarga sembari melawan kanker payudara stadium lanjut.

Di tengah himpitan biaya pengobatan dan kebutuhan sekolah adiknya, mimpi Zaki untuk duduk di bangku kuliah nyaris pupus. 

“Zaki frustrasi, bagaimana ia bisa memulai kuliah ini,” ungkap Prof. Adi Utarini, saat menceritakan kembali kisah tersebut dalam pidato ilmiah Dies Natalis ke-76 UGM, Jumat (19/12/2025).

Kisah Zaki, yang namanya telah disamarkan, adalah potret nyata dari ribuan wajah anak muda Indonesia yang berdiri di persimpangan jalan. Ia hidup di antara harapan mobilitas sosial melalui pendidikan, atau terus terjerembap ke dalam jurang kemiskinan struktural. 

Ironisnya, kegelisahan Zaki ini menyeruak di tengah pengumuman capaian finansial fantastis institusi tempatnya menimba ilmu. Dalam Laporan Rektor tahun 2025, UGM mencatatkan perolehan “Dana Kreatif” dalam negeri sebesar Rp9,91 triliun.

Angka hampir Rp10 triliun itu bukan sekadar statistik di atas kertas. Bagi sebuah Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), kemampuan menghimpun dana mandiri sebesar itu adalah prestasi monumental. 

Namun, angka fantastis ini memantik pertanyaan mendasar. Di tengah transformasi kampus menjadi “korporasi” pendidikan yang mandiri, seberapa kuat dana tersebut bekerja sebagai jaring pengaman bagi mahasiswa rentan seperti Zaki?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Universitas Gadjah Mada (@ugm.yogyakarta)

Membedah “anatomi” Rp9,9 triliun

Istilah “Dana Kreatif” sering kali memunculkan imajinasi tentang pendapatan murni dari bisnis atau komersialisasi aset yang lepas dari kucuran dana negara. Namun, jika membedah anatomi keuangan dalam Laporan Rektor 2025, kita akan menemukan realitas yang menarik.

Dari total Rp9,91 triliun dana kreatif dalam negeri, porsi terbesar (mencapai Rp9,17 triliun) ternyata bersumber dari mitra pemerintah. Hal ini mengindikasikan bahwa “kreativitas” UGM sebenarnya masih sangat bertumpu pada kemampuan institusi memenangkan hibah, proyek strategis, dan kerja sama program dengan kementerian atau lembaga negara. 

Iklan

Sementara itu, kontribusi murni dari sektor industri dan swasta tercatat sebesar Rp653 miliar, dan BUMN/BUMD menyumbang Rp85 miliar.

Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyadari betul posisi dilematis ini. Dalam laporannya, ia menyebut situasi ini sebagai “paradoks tuntutan kemandirian”. 

Di satu sisi, sebagai universitas nasional, UGM memegang mandat sosial untuk menyediakan pendidikan terjangkau. Di sisi lain, alokasi anggaran rutin pemerintah untuk PTNBH terus menurun.

“Pada situasi ini, UGM harus memilih strategi dan menentukan letak titik keseimbangan,” tegas Ova, Jumat (19/12/2025) lalu.

Strategi ini tidak hanya berhenti pada pengumpulan dana proyek. UGM kini bertransformasi menjadi mesin inovasi yang agresif. Laporan tahun ini mencatat 96 inovasi siap komersialisasi dan 32 paten terlisensi. 

Produk hilirisasi seperti alat kesehatan Ina-Shunt untuk pasien hidrosefalus, Gamacha (regenerasi tulang), hingga benih padi Gamagora yang telah diproduksi 28,6 ton. Menurut Ova, ini menjadi bukti bahwa riset tidak lagi sekadar tumpukan kertas di perpustakaan, melainkan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi.

Jaring pengaman di tengah bencana

Lantas, ke mana mengalirnya profitabilitas dan dana besar tersebut? Apakah kembali ke mahasiswa?

Manajemen UGM menegaskan komitmennya pada inklusivitas. Pada tahun 2025, alokasi beasiswa mencatatkan kenaikan menjadi Rp499 miliar dengan menjangkau 18.617 mahasiswa. Sebanyak 10,43 persen mahasiswa baru juga tercatat berasal dari daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) serta penerima KIP-Kuliah.

Komitmen kemanusiaan kampus ini juga diuji secara nyata ketika bencana banjir bandang dan longsor menerjang wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh baru-baru ini. Data rektorat mencatat ada 217 mahasiswa UGM yang terdampak langsung bencana tersebut.

Merespons krisis ini, “kreativitas” pendanaan UGM diterjemahkan ke dalam aksi solidaritas konkret. Melalui Emergency Response Unit, UGM tidak hanya mengirimkan tim medis dan logistik, tetapi juga memberikan jaring pengaman finansial bagi mahasiswanya. 

Bantuan yang diberikan mencakup keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT), bantuan biaya hidup harian, hingga pendampingan psikososial bagi mereka yang kehilangan tempat tinggal atau keluarga.

“Semoga keluarga terdampak senantiasa diberikan kesabaran, ketabahan, pemulihan yang cepat, serta nantinya lebih kuat,” ujar Rektor Ova. 

Ancaman scarring effect dan kualitas manusia

Namun, tantangan UGM ke depan bukan sekadar membiayai kuliah Zaki atau membantu korban bencana. Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Adi Utarini mengingatkan adanya bahaya jangka panjang yang mengintai generasi muda, yakni fenomena NEET (Not in Employment, Education, or Training).

Statistik BPS 2023 menunjukkan sekitar 9,9 juta penduduk muda (usia 15-24 tahun) di Indonesia masuk dalam kategori NEET, dengan persentase mencapai 22,25 persen. 

Tingginya angka ini berisiko menciptakan scarring effect atau “efek luka” ekonomi jangka panjang. Generasi muda yang kehilangan masa produktif emasnya berpotensi menjadi beban demografi, alih-alih bonus demografi.

“Tanpa perbaikan yang menyeluruh dan memperhatikan variasi antarwilayah, bonus demografi berisiko berubah menjadi beban jangka panjang, bahkan menjadi kutukan keberlimpahan (resource curse),” tegas Prof. Adi.

Di sinilah relevansi dana triliunan rupiah UGM diuji. Pembangunan fisik yang masif, seperti Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) tahap 2 dan pengembangan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara (IKN) melalui Wanagama Nusantara, harus mampu dikonversi menjadi outcome kualitas manusia.

Prof. Adi menyoroti ketimpangan akses pendidikan yang masih lebar. Remaja dari rumah tangga termiskin memiliki kemungkinan lima kali lebih besar untuk putus sekolah dibandingkan mereka dari keluarga kaya. Jika UGM dengan dana melimpahnya hanya fokus mencetak lulusan elite tanpa memperhatikan aksesibilitas bagi kelompok rentan, maka kesenjangan ini akan semakin lebar.

Kesehatan mental, “investasi” yang tak terlihat

Selain akses ekonomi, isu krusial yang diangkat dalam Dies Natalis tahun ini adalah kesehatan mental. Tema “Kampus Sehat” bukan sekadar jargon. Data menunjukkan gangguan jiwa kini menjadi penyebab kedua hilangnya tahun produktif akibat disabilitas pada seluruh kelompok usia.

Prof. Adi Utarini menyoroti fenomena phubbing orang tua–pengabaian anak demi ponsel–dan lingkungan siber yang toksik sebagai faktor risiko utama depresi pada remaja. 

“Tidak ada lagi pelukan hangat sebagai simbol kelekatan hubungan orang tua dan anak. Simbol tersebut berubah menjadi ancaman serius,” ujarnya.

Merespons hal ini, UGM mengalokasikan sumber daya untuk layanan psikologis seperti “Ruang Cerita” dan melakukan skrining kesehatan mental bagi seluruh mahasiswa baru. Langkah preventif ini penting untuk memastikan bahwa mahasiswa tidak hanya lulus dengan IPK tinggi, tetapi juga dengan jiwa yang utuh dan tangguh.

Pada akhirnya, bagi Prof. Adi, besarnya dana Rp9,9 triliun yang dikelola UGM adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah bukti keberhasilan transformasi PTNBH yang mampu mandiri, inovatif, dan tidak cengeng menghadapi penurunan subsidi negara. Kemampuan mencetak miliaran rupiah dari hilirisasi riset patut diapresiasi sebagai model kemandirian bangsa.

Namun, di sisi lain, angka tersebut adalah beban moral yang berat. Publik, dan mahasiswa seperti Zaki, menanti pembuktian bahwa profitabilitas “korporasi” kampus ini benar-benar dikembalikan untuk memuliakan manusia di dalamnya.

Dana triliunan itu harus dipastikan mampu menutup celah ketimpangan, mencegah mahasiswa drop out (DO) karena biaya, dan menyediakan layanan kesehatan mental yang memadai. Jika UGM mampu menyeimbangkan ambisi globalnya dengan keberpihakan pada mereka yang rentan, maka visi “Indonesia Emas” bukan sekadar mimpi di siang bolong, dan kisah Zaki akan berakhir dengan toga wisuda, bukan surat pengunduran diri.

Semangat inilah yang digarisbawahi oleh Prof. Utarini di penghujung pidatonya.

“Kita tidak berada di sini untuk berdiam diri. Bersama, kita dapat membentuk generasi muda yang sehat dan sejahtera untuk menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ketika Rumah Tak Lagi Ramah dan Orang Tua Hilang “Ditelan Layar”, Lahir Generasi Cemas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2025 oleh

Tags: dana kreatifdana kreatif ugmpilihan redaksiptnbhUGMugm jogjaUniversitas Gadjah Mada
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)
Catatan

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Edumojok

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Meme yang Viral Itu Mojok.co

Saya Nonmuslim dan Gemar War Takjil seperti Banyak Meme yang Viral Itu

23 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
mie ayam Surabaya. MOJOK.CO

Mie Ayam Surabaya Buatan Pak Man, Tempat Saya “Berobat” setelah Lelah di Perantauan meski Pedagangnya Pendiam

20 Februari 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
pertamina bikin mudik lewat jalan tol semakin mudah.MOJOK.CO

Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access

20 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Sarjana Cumlaude PTN Jogja Adu Nasib ke Jakarta: Telanjur Syukuran Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Bulan Pertama Belum Turun

26 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.