Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Menolak Berbagai Beasiswa PTS demi Kuliah di UB Malang: Dulu Menyesal, Kini Bersyukur Dapat Banyak “Berkah”

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
22 September 2025
A A
Beasiswa, UB Malang.MOJOK.CO

Ilustrasi - Mahasiswa UB Malang (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nino (26) pernah menolak sejumlah tawaran beasiswa di perguruan tinggi swasta (PTS) demi bisa kuliah di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Keputusan itu sempat membuatnya menyesal. Namun, kini ia mulai menerima kenyataan dan justru menemukan banyak “berkah” dari pilihan yang dulu terasa pahit.

***

Sebagai anak yang lahir dari keluarga pas-pasan, kuliah tanpa dipungut biaya jelas menjadi harapan Nino (begitu namanya minta ditulis). Namun, situasi ini malah menghadapkannya dalam sebuah dilema.

Di satu sisi, ia ingin kuliah gratis. Tentunya melalui beasiswa. Namun, di sisi lain, kampus yang menawarkan beasiswa itu semuanya adalah perguruan tinggi swasta (PTS).

“Padahal sejak awal aku maunya kuliah di PTN,” kata Nino, saat diwawancara Mojok Juli 2025 lalu. 

“Dan di SBMPTN (sekarang SNBP) aku udah diterima di UB Malang, meski tanpa beasiswa,” tegasnya.

Ngebet kuliah di UB Malang, tapi dapat beasiswanya di kampus lain

Sebagai orang yang lahir dan besar di Malang, Jawa Timur, cita-cita Nino bisa kuliah di kampus terbesar kota tersebut. Ya, dalam hal ini UB Malang.

Di kepalanya, pencapaian terbesar adalah dengan kuliah di sini. Apalagi kalau melihat rekam jejak alumni sekolahnya yang kuliah di Brawijaya, sebagian besar dari mereka kini sudah sukses.

“Makanya waktu SBMPTN 2019 lalu, pilihan pertama dan kedua aku di UB semua. Dan alhamdulillahnya diterima di pilihan pertama,” jelas dia.

Masalahnya, sebelum pengumuman SBMPTN keluar, pengajuan beasiswa Nino di dua PTS sudah diterima. Yang pertama di salah satu PTS Malang, ia berkesempatan kuliah dengan UKT gratis selama delapan semester–tanpa uang saku.

Sementara di salah satu PTS Jogja, ia juga berkesempatan mendapat gratis UKT full selama delapan semester hanya dengan syarat IPK di atas 3,2.

“Itu pilihan sulit banget. Aku harus segera memilih dan daftar ulang di salah satu kampus itu. Tapi di sisi lain aku juga nunggu pengumuman SBMPTN,” kata dia.

“Setelah berunding sama orang tua, aku putuskan berjudi. Aku nolak daftar ulang di PTS, sambil berharap lolos ke UB Malang. Eh, alhamdulillah memang lolos. Kalau itu gagal, mungkin bakal jadi kesalahan terbesar dalam hidup.”

Berlarut-larut dalam penyesalan

Sejak resmi menjadi mahasiswa UB Malang angkatan 2019, Nino kuliah dengan sebagaimana mestinya. Masuk kelas, kerja kelompok, hingga nongkrong bareng teman kuliah sampai larut malam.

Iklan

Sialnya, dari rutinitasnya ini, ada puing-puing penyesalan yang tersisa. Misalnya, ia menyesali keputusan tidak mengambil beasiswa kuliah di Jogja. Bayangan merantau yang mengasyikan tak ia rasakan gara-gara ia kuliah di kota sendiri.

“Kalau lihat konten medsos soal kisah anak rantau gitu, sepertinya asyik. Ada perasaan kangen rumah, LDR sama pacar. Lah, kalau aku, kampus sama rumah aja jaraknya cuma 15 menit,” kata dia.

Selain itu, yang lebih menyesakkan, ternyata biaya kuliah di UB Malang juga cukup mahal. Ia mendapatkan UKT hampir Rp5 juta per semester.

Untuk orang tuanya yang keduanya adalah karyawan swasta, ini angka yang besar. Apalagi, ketika pandemi Covid-19 datang, badai PHK juga menerjang. Kedua orang tuanya terdampak.

“Bayangin aja, di posisi nganggur tapi anaknya tetap bayar UKT 5 juta,” ucapnya, getir.

Dalam situasi tersebut, Nino membayangkan, seandainya dirinya memilih beasiswa di PTS dan membunuh ego buat kuliah di UB Malang, kehidupan kuliahnya bisa lebih safety. Orang tuanya pun juga tak akan kelimpungan mencari pinjaman buat biaya kuliahnya.

“Jujur, di posisi itu, aku sangat menyesal. Nggak ada hari tanpa aku menyesali keputusanku sendiri.”

Lulus IPK tinggi tapi rasanya hambar

Alhasil, ketika lulus kuliah dari UB Malang pada pertengahan 2023 lalu, perasaan Nino malah hambar. Bagaimana tidak, nyaris sepanjang masa kuliahnya cuma dihabiskan di rumah.

Pandemi Covid-19 bikin kuliah dilakukan secara daring dan ia nggak kemana-kemana. Kata dia, serasa nggak dapat “vibes kuliah” sebagaimana yang diinginkan.

Belum lagi kalau ngomongin biaya kuliah yang tingginya minta ampun. Nino selalu tak tega buat membayangkan bagaimana perjuangan orang tuanya, banting tulang utang sana-sini demi memastikan anaknya bisa lulus tepat waktu.

“2023, aku lulus cumlaude. IPK tinggi. Tapi membayangkan kehidupanku selama kuliah, semua terasa hambar.”

Mendapat banyak “berkah” karena dia lulusan UB Malang

Namun, di balik puing-puing sesal itu, ternyata ada banyak hal yang bisa Nino syukuri. Salah satunya terjadi pada awal 2024 lalu.

Kala itu Nino masih kerja serabutan. Penghasilannya tak pasti. Banyak lamaran pekerjaan yang dia sebar belum ada jawaban.

“Tapi aku bisa hidup ya karena profilku lulusan UB Malang. Banyak teman menawari project-an, itu karena relasiku selama kuliah. Kalau nggak ada project dari mereka, mungkin aku fix jadi kayu mati tanpa penghasilan.”

Tak sampai di situ. Sekitar Februari 2024, mantan kakak tingkatnya di UB Malang menghubunginya. Ia bilang kalau kantornya sedang membuka rekrutmen untuk posisi yang cocok dengan profil Nino.

Rekannya itu menyarankan Nino buat mendaftar.

Di luar dugaan, ternyata tim kecil di departemen yang dibutuhkan kantor tersebut sebelumnya diisi para alumni Brawijaya. Sehingga, ketika Nino mendaftar, nama dia pun jadi kandidat teratas.

“Bahkan, di interviu itu, kata HRD jelas banget: ‘kamu UB Malang, maka kamu diterima, karena kami yakin sama hasil kerjanya’. Aku kaget, tapi begitu adanya.”

Sudah dua tahun Nino kerja di kantornya itu. Ia menikmati pekerjaannya, karena dengan begitu, ia punya kesempatan buat mendatangi kota-kota yang belum pernah dikunjungi–sebagaimana cita-citanya dulu.

“Ya aku belajar, nama besar kampus memang seberpengaruh itu. Aku nggak tahu jatuhnya nepotisme apa bukan, tapi ini berkah aja jadi lulusan UB Malang,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa PTN Rela Bohongi Ibu: Ngaku Sudah Lulus Kuliah Bergelar Sarjana padahal DO, Demi Fokus Kerja Bantu Hidupi Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 22 September 2025 oleh

Tags: beasiswabeasiswa ptnbeasiswa ptsmahasiswa malangMalangpilihan redaksiPTNPTSub malangUniversitas Brawijayauniversitas brawijaya malang
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

iphone 11, jasa sewa iphone jogja.MOJOK.CO

User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol

14 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.